
"Ngak karena kamu gak bilang ke aku. Coba kamu bilang ke aku apa salah ku mungkin aku tau dan aku sadar. Oh atau kamu sudah gak suka lagi sama aku terus kamu sebenarnya pengen putus tapi kamu cari cari alasan aku yang salah biar kamu bisa mutusin aku ya kan bener gitu kan. Ya udah terserah kamu kalau gitu" kata ku kepada kak Sanusi ya aku snagat kesal sekali bahkan rasanya ingin sekali ku matikan telfon yang terhubung ini tapi aku masih ingin tau apa salah ku kepadanya hingga dia memarahi diri ku dan juga tak peduli lagi kepada diri ku.
"Gak bukan karena aku udah bosen atau yang lainnya sama kamu aku hanya marah sama kamu karena kamu guyon dengan laki laki lain tadi apa maksudnya cobak kamu bmguyon seprti itu dengan laki laki lain?" Kata kak Sanusi kepada ku dan jatabkatanya membuat ku bingung laki laki lain siapa aku tadi hanya bersama dengan Rizal tak bersam adengan siap siapa lagi.
"Maksudnya kamu Rizal" kata ku kepada kak Sanusi.
"Iya lah siapa lagi kalau bukan dia yang orangnya hitam dan pendek itu" kata kak Sanusi kepada ku
"Kamu cemburu sama dia?" Kata ku kepada kak Sanusi.
"Gak buat apa aku cemburu sama laki laki hitam dan pendek kayak dia" kata kak Sanusi kepada ku dengan nada yang ketus.
"Masak sih?" Kata kunkepada kak Sanusi.
"Iya lah" kata kak Sanusi kepada ku.
"Gini ya yank akubjelasin ke kamu. Rizal itu bukan siapa siapa aku dia itu saudara ku yank. Dia sepupu ku jadi kamu gak perlu cemburu sama dia dan buat apa juga kamu cemburu sama dia aku juga gak suka sama dia dan dia itu sudah punya pacar dan oacarnya itu Riska temen sekolah ku juga jadi kamu gak perlu cemburu atau apa lah itu yank. Aku sayang sama kamu yank jadi mana mungkin aku ngehianatin kamu yank. Udah lah ya yank. Pokoknya dia itu hanya saudara ku terus aku juga sudah biasa guyon sama dia dari dulu" kata kunkepada kak Sanusi mencoba menjelaskan kesalah pahaman yang tadi terjadi.
"Oh gitu maaf ya yank aku gak tau aku tadi emang cemburu aku gitu karena aku sayang sama kamu yank." kata kak Sanusi kepada ku
Ya itu lah pertengkaran pertama kami setelah dari pacaran hingga saat ini. Tapi untungnya dia mau mengerti dengab semua kata kata ku hingga tak ada lagi kesalah pahaman yang terjadi di anatra diri ku dan juga dirinya.
Sekarang aku sampai di sebuah pertigaan dan di kiri dan kanan ku masih saja banyak pepohonan yang tinggi dan besar serta beberapa kebun tebu dan hal itu membuat ku takut sampai akhir nya aku menemukan sebuah perumahan ya perlahan kami memasuki sebuah pedesaan dan juga perumahan penduduk. Tak lama kemudian Sanusi pun menghentikan sepeda nya di depan sebuah rumah sederhana aku pun turun ebgitu pun dengan dirinya. Aku di ajak masuk ke salah satu sebuah rumah di sana ada seorang wanita dan laki laki dan juga ank kecil mereka menyuruh ku untuk duduk.
"Duduk dulu dek" kata wanita itu kepada ku
"Iya mbg" kata ku dengan sopan aku pun duduk di salah satu sofa.
"Siapa namanya dek" kata wanita itu kepada ku
"Aisyah Mbg" kata ku lagi kepada wanita itu.
"Oh sudah lama sama Sanusi?" Kata wanita itu kepada ku.
"Gak begitu lama kok mbg" kata kunkepada wanita itu.
"Saya Mbg ya dan ini suami saya dan yang kecil ini ponakan Sanusi. Ibu kami masih di sawah ya biasa lah kalau orang desa lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah dek" kata wanita itu ekpada ku.
"Iya mbg sama aja kok mbg, ibu saya orang desa terus kalau saya ke rumah paman saya dia pasti gak ada dan selalu ada di sawahnya" kata ku kepada kakak perempuan kak Sanusi.
"Oh ibunya orang mana deg?" Kata kakak perempuan Sanusi ya aku masih tak tau siapa namanya.
"Orang Wonosari Mbg" kata ku kepada Kakak perempuan sanusi
"Oh dekat ya dari sini" kata kakak perempuan kak Sanusi kepada ku
"Iya mbg, kalau boleh tau siapa namanya Mbg?" Kata ku kepada kakak perempuan kak Sanusi.
"Panggil aja Mbg Fadila" kata Mbg Fadila kepada ku.
"Oh iya mbg" kata ku sambil mengangguk.
"Oh ini ibu kami, kalau bapak masih di pasar karena dia adalah penjual sapi dan juga kambing jadi menghabiskan banyak waktunya di pasar" kata Mbg Fadila kepada ku sambil emnunjuk ke arah luar. Aku pun melihat ke arah luar ada seorang wanita paruh baya yang sedang membawa setumpuk rumput di kepalanya.
"Hmmm iya mbg" kata ku kepada Mbg Fadila.
"Kamu nak" kata wanita paruh baya itu yang tadi membawa setumpuk rumput ke arah belakang rumah.
"Sudah lama?" Kata ibu kak Sanusi jeoada ku
"Gak kok buk baru aja" kata ku kepada ibu kak snausi.
"Ya sudah tak tinggal sebbtar ya nak, saya masih mau mandi" kata ibu kak Sanusi ekpada ku.
"Iya buk" kata ku kepada ibu kak Sanusi.
Setelah itu ibu kak sanusi pun pergi entah dia pergi kemana dia hanya membawa sebuah timba dan juga sebuah handuk. Setelah itu kak Sanusi emngajak ku ke rumahnya aku sempat bingung kalau dia mengajak ku ke rumahnya bagaiman dengan rumah ini apakah ini bukan lah rumahnya. Kami pun masuk ke dalam rumah dan ya setelah keluar ada rumah lagi yang baru di bangun tapi masih belum di apa apakan hanya rumah polos saja yang masih terlihat batu batanya dan juga gentengnya. Aku masuk ke dalam rumah itu dan masuk ke sebuah kanar. Kak Sanusi menyuruh ku untuk duduk begitu pun dengan yang lainnya mereka juga duduk mengelilingi ku. Kamu mulai bercanda ya aku dan saudara saudara kak Sanusi ceoat sekali akrab apa lagi keponakan keponakan kak sanusi mereka menyukai ku. Namanya Aurel dan juga aerilyn. Karena sudah siang mereka pun pamit pulang ya katanya mereka akan pulang dan tidur karena mereka sudah biasa tidur di siang hari. Aku pun juga tidur ya di temani oleh ke dua keponakan keponakan kak Sanusi sedangkan kak Sanusi dia tidur di luar. Keponakan kak Sanusi tak ingin pulang mereka masih ingin bersama ku jadi aku pun menyuruh mereka untuk tidur bersama dengan ku. Dan ya mereka menyetujuinya. Saat bangun ternyata sudah jam tiga sore aku pun bangun lalu melihat ke arah dua keponakan kak Sanusi mereka masih tidur dengan pulas. Aku keluar dan sudah menemukan kak Sanusi sednag dudukd i sofa buntut yang dia tiduri tadi. Aku pun menghampiri dirinya dan duduk di sofa kosong yang ada di sebelahnya.
"Dimana kamar mandinya aku mau cuci muka" kata kubkepada kak Sanusi
"Ayo ikutin aku yank" kata kak Sanusi kepada ku. Aku pun bangun dan mengikutinya setelah selesai mencuci muka kami pun kembali ke rumah dan saat aku melihat ke arah kamar ternyata ke dua keponakan Kaka Sanusi masih tidur dengan pulasnya aku pun kembali duduk di ruang tamu bersama dengan kak Sanusi.
"Yank mau pulang jam berapa kata ayah tadi aku gak boleh pulang terlalu malam" kata ku kepada kak Sanusi.
"Sebentar lagi ya yank jam eetengah empat kita pulang. Kita tunggu ibu dulu ya tadi ibu ke sini bilang ke aku yank jatanyabkalau kamu mau pulang di suruh tunggu ibu pulang. Ibu sebentar kok ke sawahnya tar algi juga pulang kok" kata kak Sanusi kepada ku.
"Oh gitu iya dah kita tunggu ibu mu dulu yank" kata ku kepada kak sanusi
"Iya yank makasih ya sudah mau ngertiin aku" kata kak Sanusi kepada ku.
"Iya yank udah gak papa kok yank" kata ku kepada kak Sanusi.
Tiba tiba saja aku mendengar suara tangisan ya itu suara tangisan ke dua keponakan aku dan kak Sanusi pun langsung berlari ke arah kamar. Aaku mengendong Aurel sedangkan kak Sanusi mengendong aerilyn tapi aerilyn tetap menangis minta di gendong oleh ku juga aku bingung bagaiman aku harus emngendong mereka berdua secara bersamaan. Karena terus menangis mau tak mau aku pun mengambil aerilyn dan mebgendongbya juga rasanya tangan kanan dan kiri ku akan patah karena mereka sudah cukup besar dan ya mereka berdua lumayan berat. Dan akhirnya aerilyn pun berhenti mennagis.
Cukup lama aku mengendong mereka berdua rasnaya aku sudah tak kuat akhirnya aku pun emburunkan mereka berdua dan mengajaknya keluar. Ya karena tangan ku sudah terasa sangat sakit sekali. Setelah itu aku melihat ibu kak Sanusi datang dan sudah waktunya untuk ku pulang. Aku pun mengatakan kepada ke dua keponakan kak Sanusi bahasa aku akan pulang tapi mereka seperti ingin menangis aku mencoba mendiamkan mereka dan aku emngatakan lagi kepada mereka berdua kalaua ku akan kembali ke sini dan bermain bersam dengan mereka kembali. Dan ya akhirnya cara ku berhasil aku memberitahu kepada kak Sanusi kalau ibunya sudah datang dan ya kak Sanusi dan aku pun keluar untuk pamit pulang. Setelah selesai berpamitan dengan semua orang aku pun pulang. Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja ya begitu pun dengan kak Sanusi sesampainya di rumah kak Sanusi tak mampir hanya mengantar ku sampai depan rumah lalu bersalaman dengan ke dua orang tua ku ya karena sebantar lagi katanya dia mau mengajak ku ke tempat bermain futsal dia sudah mempunyai janji dengan teman temannya akan bermain futsal sekitar jam tujuh malam hingga jam sembilan malam. Dan barusan kak Sanusi pun sudah meminta izin kepada ayah dan juga ibu ku ya tentu saja mereka mengizinkannya.
Setelah sepeda motor kak Sanusi hilang dari pandangan ku aku pun masuk ke rumah lalu mandi setelah selesai aku pun langsung makan ya tadi aku di tawari untuk makan di rumah kak Sanusi tapi aku menolak karen ahari juga sudah sore dan ajubtakut kalau aku akan pulang terlalu malam. Setelah selesai makan aku pun masuk ke kamar lalu bersiap siap aku memilih baju setelah selesai aku pun langsung berdandan saat tengah berdandan pintu kamar ku terbuka. Saat aku menoleh ternyata ibubku masuk ke dalam dia berjalan ke arah ku.
"Ada apa buk?" Kata ku kepada ibu ku yang sedang berjalan ke arah ku.
"Gak papa kok Syah" kata ibu ku sambil duduk di ranjang tidur ku.
"Oh ya sudah" kata ku kepada ibu ku sambil kembali meneruskan aktivitas ku yang sedang berdandan.
"Gimana tadi yang ke rumah ya Sanusi keluarganya Nerima kamu gak Syah? Terus kamu sopan kan di sana gak pecicilan? Terus kamu ketemu sama ibu dan bapaknya Sanusi gak? Dia berapa bersaudara Syah? Terus katanya dia punya keponakan kayak apa keponakannya lucu gak Syah? Terus saudara saudaranya suka ngak sama kamu Syah?" Kata ibu ku jeoada ku dengan memberiku banyak sekali pertanyaan. Hingga membuat ku pusing apa dulu yang harus aku jawab.
"Buk banyak banget sih pertanyaannya kan aku jadi bingung mana dulu yang mau di jawab" kata ku kepada ibu ku.
"Iya maaf kan ibu cuman pengen tau aja kamu di sana pecicilan apa ngak gitu terus keluarganya Sanusi ke kamu gimana. Masa salah ibu tanya gitu?" Kata ibu ku kepada ku.
"Iya gak salah kok buk" kata ku kepada ibu ku.
"Ya udah cobak cerita ke ibu kamu di sana ngapain aja mulai dari nyampek Sampek kamu pulang Syah" kata ibu ku kepada ku ya seperti nya ibu ku mulai kepo.
"Ceritanya nantik aja ya buk setelah Aisyah iulang dari ikut kak Sanusi main futsal sekarang Aisyah mau dandan dulu sekarang sudah jam setengah enam nih buk" kata ku kepada ibu ku sambil melihat ke arah ibu ku.
"Ya udah kamu cerita sambil dandan aja Syah" kata ibu ku kepada ku
"Yah nantik kalau hasilnya jelek Giman pas kan Aisyah gak bisa konsentrasi dandannya buk" kata ku kepada ibu ku
"Ngak kok bagus udah deh cepetan cerita nantik kamu kan pulangnya jam sembilan ibu nantik ada arisan sana syukuran di rumahnya buk Rahman jadi ibu mungkin pulangnya sekitar jam sepuluh malaman Syah terus kalau ibu pulang kamu sudah tidur kan ibu gak bisa dengar cerita mu udah ayo cerita ke ibu" kata ibu ku kepada ku dia sangat memaksa ya mungkin dia sudah sangat penasaran dengan aktivitas ku hari ini di rumah kak Sanusi.
"Hmmmm..... Iya iya" kata ku kepada ibu ku. Sebenarnya aku tak bisa dandan sambil bercerita aku tak akan bisa konsentrasi ya sudah akhirnya mau tak mau aku menghentikan aktivitas ku yang sedang berdandan mana alis yang ku buat hanya sebelah membuat ku seperti orang aneh saja.