
Nesya masuk ke ruangannya yang ada di butiknya dengan wajah kusut. Ia kesal sekali karena pertunangannya harus berakhir seperti ini. Belum lagi orang tuanya mendesaknya untuk menikah dengan Marcel. Semua ini sungguh di luar dugaannya.
“Dasar Marcel bodoh! Tidak seharusnya dia bicara seperti itu depan Papa. Ngapain dia harus bilang segala kalau sudah pernah tidur bersama? Menyebalkan!” umpat Nesya sendirian.
Tak lama, handphone-nya pun berbunyi. Ternyata yang meneleponnya adalah Marcel.
“Panjang umur sekali dia ini,” gumam Nesya saat tau Marcel meneleponnya. Ia pun segera menjawab panggilan itu.
“Hallo,” sapa Nesya lebih dulu.
“Hallo, Nesya. Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja kan?” tanya Marcel.
“Aku sedang tidak baik-baik saja,” jawab Nesya dengan ketus.
“Kenapa? Apa papamu memarahimu lagi? Atau melakukan hal yang lebih buruk?” tanya Marcel khawatir.
“Papa tidak memarahiku. Tapi beliau minta kita agar segera menikah. Dan ini semua karena kau tidak bisa mengerem perkataanmu,” jawab Nesya dengan kesal.
“Papamu minta kita menikah?” ulang Marcel agak terkejut.
“Iya. Dan lebih parahnya lagi beliau minta kita menikah secepatnya. Kau juga diminta datang besok ke rumahku dan bertemu dengan papaku,” jelas Nesya lagi.
Marcel tampak terdiam sejenak. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
“Hallo. Kenapa diam saja? Sudah menyesal keceplosan di depan papaku?” sindir Nesya.
“Aku lagi berpikir. Lagipula waktu itu aku mengatakan itu untuk membantumu. Saat itu papamu mati-matian tidak mau membatalkan pertunanganmu. Aku tidak ada pilihan lain. Seharusnya kau berterima kasih padaku," balas Marcel.
“Tapi karena perkataanmu itu kita jadi dipaksa menikah. Apa kau mau?”
“Kalau kau bersedia, aku akan pikirkan.” Jawaban Marcel di luar dugaan Nesya.
“Kau bercanda kan, Marcel?” tanya Nesya tak percaya. Yang Nesya tau Marcel tak pernah serius dalam menjalani sebuah hubungan. Kalaupun ada seseorang yang ia suka, wanita itu hanyalah Senja.
“Aku serius. Kalau kau bersedia, aku bisa menerima soal ini. Tapi aku mau kau juga serius menjalani pernikahan denganku. Aku memang suka bergonta-ganti wanita sebelum ini. Tapi aku punya prinsip, jika sudah menikah, aku akan berhenti dari kebiasaanku itu,” jawab Marcel dengan jujur.
“Bagaimana? Kau bersedia?” Kini giliran Marcel yang bertanya pada Nesya.
Nesya terdiam sejenak. Jawaban Marcel sangat di luar dugaannya. Ia malah sempat berpikir pria itu akan langsung menolaknya. Tapi ternyata ia malah mau menyetujuinya dengan syarat Nesya juga harus berubah dan serius padanya.
“Aku tidak tau. Kita bahas lagi nanti,” ucap Nesya lalu dengan cepat menutup panggilan itu.
Nesya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia seolah tak percaya dengan jawaban dari Marcel. Apa benar Marcel mau menikahinya dan mengubah kebiasaannya nanti? Apa bisa semudah itu pria seperti Marcel berubah menjadi lebih baik? Entahlah, kepala Nesya rasanya mau pecah memikirkan masalahnya.
***
Jika Nesya datang ke butik dengan wajah kusut, lain dengan Senja yang datang ke kantornya dengan wajah berbunga-bunga. Ditambah lagi di atas meja kerjanya sudah ada rangkaian bunga baru dalam vas beserta sekotak hadiah berwarna merah muda. Jangan tanyakan lagi siapa pengirimnya, tentulah Tuan Muda Dirgantara jawabannya.
Senja mendekatkan hidungnya pada bunga segar itu, baunya sangat harum sekali sehingga suasana hatinya semakin bahagia. Kemudian ia duduk di kursi dan membuka hadiah dalam kotak itu. Senja pun tertawa kecil melihat apa isinya. Sebuah gelang dengan hiasan ornamen berbentuk buah cherry dan strawberry. Pria itu makin hari makin romantis saja, pikir Senja.
Kartu ucapan pun masih tetap sama. Tidak ada kata-kata romantis disana. Hanya tertulis untuk Senjaku, dan pengirimnya dari Bumimu, Langitmu, Dirgantaramu. Memang dia suka narsis akhir-akhir ini. Tak lama handphone pun berdering. Siapa lagi yang menelepon kalau bukan si pemberi hadiah.
“Hallo,” ucap Senja.
“Hallo, Senjaku. Suaramu membuat moodku jadi lebih baik,” sahut Bumi di seberang sana.
“Baru hallo saja sudah seperti itu, apalagi kalau kau bilang sayang.” Lihatlah, Tuan Muda ini sudah mulai gombal pagi-pagi.
“Apa kau sedang tidak ada kerjaan sudah menggombal pagi-pagi begini?” sindir Senja. Padahal dalam hati dia pun senang juga.
Terdengar suara Bumi tertawa di seberang sana.
“Aku bosnya. Sesekali santai sedikit tidak apa-apa. Ngomong-ngomong apa kau suka dengan hadiahnya?”
“Suka. Sangat suka. Terimakasih, ya. Tapi kenapa kartu ucapannya tidak ada ucapan apa-apa?”
“Tuh kan, kau ketagihan gombalanku.”
“Bukan-bukan. Bukan itu maksudku. Biasanya kan ada tulisan have a nice day, atau apa gitu,” kata Senja sambil mengerucutkan bibirnya.
“Ya sudah, besok-besok aku buatkan puisi sekalian. Oh ya, nanti sore apa kau mau melihat matahari terbenam bersamaku?”
“Hmmm...boleh kalau tidak hujan. Akhir-akhir ini cuaca sering hujan kalau sore.”
“Oke, baiklah. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Aku tutup dulu telfonnya. Selamat bekerja. Aku mencintaimu, Senjaku.”
“Aku juga mencintaimu, Bumiku, Langitku, Dirgantaraku,” ucap Senja yang membuat Bumi mengembangkan senyumannya.
Meskipun sudah memutuskan panggilannya tapi senyum di wajah Bumi masih belum surut juga. Ia malah senyum-senyum sendiri sambil menggosok-gosok dagunya karena membayangkan wajah Senja.
“Tuan...Tuan...”
Belum ada tanggapan.
“Tuan...permisi, Tuan...”
Jefri masih tak dianggap ada disana.
“Tuan Muda!” panggil Jefri dengan suara agak keras.
Barulah Bumi tersadar dan melihat Jefri dengan kesal. “Ada apa? Kau mengganggu saja!”
“Maaf, Tuan. Sebentar lagi kita ada rapat internal, Tuan,” kata Jefri mengingatkan tuannya.
“Iya, aku ingat. Kau ke ruang meeting saja duluan. Nanti aku menyusul,” ucap Bumi.
“Baik, Tuan.”
Jefri pun keluar dari ruangan itu sambil geleng-geleng kepala.
“Makin hari makin aneh saja tingkah Tuan Muda. Aku jadi penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta,” gumam Jefri pada dirinya sendiri.
.
Bersambung...
.
Pembaca yang baik budiman, habis baca tolong ringankan jempol untuk tekan like ya 🤗 Terimakasih 💙