Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
78. Kecemburuan Nesya


“Senja, jangan paksa aku mendiamkanmu dengan cara lain!”


“Kau pikir aku takut? Aku tidak hmpphhh........”


Senja hanya mampu membulatkan matanya saat mulutnya dibungkam Bumi dengan tangannya. Senja mendelik kesal pada Bumi yang bertindak seenaknya.


“Hmmppphhhhh hmmppphhhhh....” gumam Senja dengan mulut tertahan sambil memukul-mukul tangan Bumi yang menutup mulutnya.


“Kenapa lagi, Senja?” tanya Bumi tanpa merasa berdosa.


“Hmmppphhhhh...” gumam Senja sambil menunjuk tangan Bumi yang menutup mulutnya.


“Oh...” sahut Bumi lalu menarik tangannya.


Plak!


Senja memukul paha Bumi dengan keras sehingga Bumi meringis kesakitan.


“Sakit, Senja. Tadi kalau kau salah pukul bagaimana? Bisa bahaya,” keluh Bumi sambil mengusap-usap pahanya yang terasa panas akibat pukulan Senja.


“Biarin! Mau aku pukul di tempat yang berbahaya juga?” ancam Senja yang masih kesal pada Bumi.


Bumi menatap Senja dengan serius. Ia bahkan mencondongkan badannya agar lebih dekat dengan Senja.


“Kau berani melakukan itu?” tanya Bumi dengan pelan namun penuh penekanan.


Senja yang ditatap seperti itu, nyalinya seketika menciut. Dia jadi berpikir, apakah dia sudah keterlaluan pada Bumi? Kenapa tiba-tiba dia jadi salah tingkah ditatap Bumi seperti itu.


“Ke-kenapa aku harus takut?” kata Senja sok berani padahal dalam hati was-was juga.


“Jadi...kau berani? Hm?” tanya Bumi yang makin mendekat pada Senja.


Aduh, gawat! Bagaimana ini? Rengek Senja dalam hati.


“Bumi...leher belakangku masih sakit sekali.” Lain yang ditanya, lain pula yang dijawab Senja.


Rasanya Bumi ingin tergelak mendengar perkataan Senja. Bumi tau gadis di depannya ini berusaha mengalihkan pembicaraan. Bumi hanya menarik sudut bibirnya membuat sebuah senyuman yang samar, lalu menarik Senja untuk kembali masuk dalam dekapannya.


“Makanya biarkan tetap seperti ini,” ucap Bumi sambil mempererat dekapannya.


Senja kembali mendongak melihat Bumi. Sebelum Senja sempat berbicara lagi, Bumi sudah lebih dulu berkata, “kali ini bukan tanganku yang membungkam mulutmu, tapi langsung bibirku jika kau bicara lagi.”


Senja langsung terbelalak lalu menundukkan kepalanya. Kalau sudah begitu, dia tidak akan protes lagi. Melihat Senja jadi penurut seperti itu, Bumi merasa sangat gemas sekali. Diam-diam dia menempelkan hidungnya pada rambut Senja dan menghirup wangi shampoo pada rambut gadis itu.


***


Hari pun semakin gelap. Andika dan Liliana menunggu Senja dengan cemas di rumahnya. Dari tadi Andika beberapa kali menghubungi Bumi tapi tidak satupun panggilannya dijawab. Bumi memang sengaja tidak menjawab panggilan itu. Ia ingin menjelaskan langsung pada Andika saat tiba di rumahnya nanti.


Saat mobil Bumi masuk ke dalam gerbang rumah Andika, security yang berjaga di depan langsung mengabari tuannya yang berada di dalam rumah.


“Hei, aku bisa jalan sendiri, kenapa masih menggendongku lagi?” protes Senja saat Bumi kembali menggendongnya ketika ia keluar dari mobil.


“Aku tidak mau kau kenapa-napa, Senja. Sudah diamlah!”


“Bagaimana kalau dilihat orangtuaku? Aku malu.”


“Kalau begitu kau pura-pura pingsan saja.”


“Senja.....” pekik Liliana dengan panik saat melihat Bumi masuk ke dalam rumah sambil menggendong anaknya.


“Senja, kau kenapa, Sayang? Tuan Bumi, sini biar saya yang gendong anak saya!” kata Andika yang ingin mengambil alih putrinya dari Bumi.


“Tidak apa-apa. Tunjukkan saja dimana kamarnya biar saya yang membawanya kesana,” tolak Bumi.


“Kamarnya di lantai atas. Saya saja yang menggendong putri saya, Tuan,” paksa Andika lagi. Senja kan anak gadisnya, dia merasa lebih berhak menggendong anaknya itu.


“Biar saya saja, Tuan. Biar saya saja yang membawanya kesana.” Bumi pun makin tak mau mengalah.


Senja dan Liliana malah dibuat pusing karena melihat mereka secara bergantian memperebutkan Senja.


“Sudah, sudah! Ayo bawa Senja ke kamarnya!” kata Liliana menengahi lalu mengajak Bumi menuju ke kamar Senja.


Dengan berat hati Andika merelakan putrinya digendong Senja hingga ke kamarnya. Setelah membaringkan Senja di tempat tidurnya, Bumi membantu membukakan sepatu yang Senja pakai lalu menaruhnya di lantai. Andika dan Liliana saling pandang, mereka makin merasa bingung saja melihat apa yang terjadi di depan mereka. Sebenarnya ada apa dengan Bumi dan Senja?


“Jadi, bagaimana ceritanya Senja bisa bersamamu, Tuan? Apa yang terjadi dengan Senja?” tanya Andika yang sudah tak sabaran.


Tok tok tok.


Salah satu pelayan mengetuk pintu kamar Senja.


“Maaf Tuan, Nyonya, dibawah ada Nyonya Tari dan Nona Nesya,” kata pelayan itu.


“Tari dan Nesya? Kenapa mereka kesini? Sebenarnya ada apa ini?” tanya Andika yang mulai gusar.


“Tuan, sebaiknya Tuan temui mereka di bawah. Sebentar lagi Tuan Adrian juga akan datang kesini. Biar beliau saja yang menjelaskan semuanya. Karena ini semua ada kaitannya dengan Tuan Adrian,” jawab Bumi dengan tenang.


“Ya sudah, kalau begitu saya turun ke bawah dulu,” ucap Andika lalu mengajak istrinya turun ke bawah menemui Tari dan Nesya.


Ketika bertemu Tari dan Nesya, mereka pun tidak tau mengapa Adrian meminta mereka datang ke rumah Senja. Karena Adrian bilang ini penting, mereka pun segera mendatangi rumah Senja.


Ketika Nesya bertanya dimana Senja, Liliana langsung memberitahu Nesya kalau ia sedang di kamar bersama Bumi. Mendengar nama Bumi membuat Nesya terkejut dan langsung menyusul ke kamar Senja.


“Kenapa kau belum pulang juga? Kau bisa lihat aku baik-baik saja,” tanya Senja pada Bumi yang malah duduk menemaninya di kamar.


“Tunggu Tuan Adrian datang,” jawab Bumi.


“Lehermu masih sakit? Aku panggil dokter, ya,” tanya Bumi kemudian.


“Aku baik-baik saja, jangan khawatir!” jawab Senja.


“Kau bilang begitu karena tidak mau aku khawatir bukan? Kalau sakit, bilang saja sakit, Senja,” kata Bumi sambil mengusap-usap kepala Senja.


Dari celah pintu kamar yang tak tertutup rapat, Nesya mengepalkan tangannya melihat kedekatan Bumi dan Senja. Hatinya terasa panas melihat mereka bisa sedekat itu. Ia mengingat kembali perlakuan Bumi padanya yang tidak pernah semesra itu. Bahkan beberapa kali Nesya mendekati Bumi, tapi Bumi malah menjauhinya.


Tapi lihatlah perlakuan Bumi kepada Senja sekarang. Mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Tentu saja Nesya cemburu melihat mereka. Dia merasa dialah tunangan Bumi dan dia lebih berhak untuk dekat dengan Bumi, bukan Senja.


Ini bukan kali pertama aku melihat kalian sedekat ini. Tidak Senja! Kau tidak akan bisa mengambil Bumi dariku. Bumi hanya milikku, bukan milikmu, Senja! Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Bumi dariku.


Tok tok tok.


Nesya mengetuk pintu kamar Senja dan langsung masuk ke dalam. Senja dengan cepat menurunkan tangan Bumi yang masih berada di kepalanya. Senja sangat tidak enak hati dipergoki sedang berduaan dengan Bumi. Sementara Bumi sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Nesya saat melihatnya berduaan dengan Senja.


Bersambung...