Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
36. Tidak Pantas Bersanding Dengan Bumi


Sementara itu di sebuah kamar apartemen, tampak sepasang pria dan wanita yang tidak memiliki ikatan hubungan apapun baru saja selesai melakukan pergulatan panas mereka. Siapa lagi kalau bukan Nesya dan Marcel. Setelah keduanya sama-sama ditolak oleh orang yang mereka suka, mereka malah menuntaskan hasrat bersama.


Nesya bangun dari tempat tidur dengan tanpa sehelai benangpun lalu meraih kimononya yang tergeletak di sofa untuk ia kenakan. Ia pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu kemudian menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelasnya.


“Kau mau?” Nesya mengangkat gelas yang sudah diisinya tadi lalu menawarkan pada Marcel yang masih berbaring di ranjang.


“Kau saja,” jawab Marcel.


Nesya pun meminum minuman itu sampai habis.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Marcel tiba-tiba.


“Tanya saja,” jawab Nesya sambil menuang kembali minuman ke dalam gelasnya yang sudah kosong.


“Apa kau selalu melakukan hal seperti ini dengan berganti-ganti pria? Maksudku....”


“Aku tidak serendah itu. Hanya mereka yang dekat denganku saja. Tapi untuk saat ini, hanya kau saja,” potong Nesya yang sedikit tersinggung dengan pertanyaan Marcel.


Tidak serendah itu tapi kau mau melakukannya dengan pria yang bukan suamimu. Umpat Marcel dalam hati.


“Apa benar hanya aku saja saat ini?” tanya Marcel lagi.


“Buat apa aku bohong. Untuk saat ini sampai saatnya aku resmi bertunangan, aku hanya akan berhubungan denganmu saja,” jawab Nesya.


“Bertunangan? Kau akan bertunangan?” tanya Marcel heran.


Bagaimana bisa seseorang yang akan bertunangan justru bermain api dengan pria lain. Marcel sangat tak mengerti jalan pikiran Nesya saat ini.


“Ya, aku akan bertunangan dengan orang terkaya di negeri ini. Kami terlibat perjodohan,” jawab Nesya dengan santai.


“Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Dirgantara.”


“Tuan Muda Dirgantara? Maksudmu Bumi?”


Nesya mengangguk. Lalu ia tertawa melihat Marcel yang sangat terkejut sampai ia duduk tegak melihat Nesya.


“Santai saja. Tidak usah kaget berlebihan seperti itu. Dia memang calon tunanganku. Kami dijodohkan,” kata Nesya lagi.


Jelas saja aku sangat kaget. Kau tidak pantas bersanding dengan Bumi. Batin Marcel.


Nama keluarga Dirgantara sudah sangat terkenal dimana-mana. Apalagi di kalangan pebisnis. Marcel saja yang baru pindah kesana sudah mengenal sosok keluarga Dirgantara meskipun tidak pernah bertemu secara langsung. Hanya saja ia mengetahui itu dari tabloid bisnis dan juga dari pemberitaan di TV.


Bumi sebagai satu-satunya pewaris tunggal perusahaan Dirgantara juga sangat terkenal sekali. Bukan karena skandal ataupun gosip miring tapi karena kecerdasan dan kemampuannya yang sangat lihai dalam berbisnis.


“Apa dia tau kelakuanmu seperti ini?” tanya Marcel penasaran.


“Kau gila? Tentu saja tidak. Dia dan keluargaku tidak tau aku seperti apa,” jawab Nesya dengan nada tinggi. Tidak mungkin Bumi mau berjodoh dengannya kalau dia tau seperti apa kelakuan asli calonnya itu dibelakangnya.


“Senja juga tidak tau?”


“Senja juga tidak tau. Aku tidak terlalu dekat dengannya. Dia dan aku punya kesibukan yang berbeda. Kami juga jarang bertemu. Kenapa kau bawa-bawa Senja? Apa kau mengenalnya?”


Sekarang giliran Marcel yang tersenyum sinis pada Nesya.


“Tentu saja aku mengenalnya. Aku kuliah di kampus yang sama dengannya waktu di luar negeri dulu,” jawab Marcel yang membuat Nesya tercengang. Ia tak menyangka Marcel bisa mengenal Senja.


“Apa? Jadi kau mengenalnya?”