Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
134. Memastikan Kebenaran


Jika di sana ada dua hati yang sedang memadu kasih dengan penuh cinta, lain halnya dengan yang disini. Ada Jefri yang duduk termenung di balik stir mobilnya sambil memikirkan kejadian setelah pesta pernikahan Bumi dan Senja usai. Hatinya penuh gelisah dan kecewa dengan apa yang terjadi kemarin. Untuk itu, hari ini ia ingin memastikan kebenarannya. Kebenaran tentang hubungan Jingga dan seorang pria bernama Bayu.


Setelah pesta pernikahan usai, ternyata Jefri mengejar Jingga hingga ke depan pintu masuk hotel untuk mengantarnya pulang. Tapi siapa sangka, usahanya harus gagal malam itu.


“Jingga! Tunggu!” panggil Jefri dari belakang.


Jingga pun berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata itu adalah pelanggan yang suka memesan kopi dengan menu sesuai kehendak hatinya.


“Tuan? Ada apa, Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Jingga.


“Kau mau pulang kan? Ayo, biar aku antar. Sekalian ada yang mau aku tanyakan padamu.”


Jefri lalu menarik tangan Jingga untuk mengajaknya menuju ke mobil. Tapi tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang menghampiri mereka dan turun dari motor itu. Si pengendara motor yang tak lain adalah Bayu segera melepaskan helmnya.


“Jingga, ayo pulang! Maaf kalau menunggu lama,” ajak Bayu dengan ramah.


Jingga melirik ke arah Jefri yang masih memegang tangannya. Sementara Jefri melihat ke arah Bayu dengan tatapan tidak suka meskipun pria itu bersikap ramah.


Cih, masih gantengan aku kemana-mana rupanya. Umpat Jefri dalam hati.


Memang benar, dari postur tubuh saja Jefri sudah menang banyak dari Bayu. Jefri lebih tinggi dan lebih berotot dibandingkan Bayu yang tingginya standar pria biasa. Kulitnya juga tidak seputih Jefri. Bayu lebih coklat sedikit. Kalau Jefri terlihat tampan, maka Bayu terlihat manis.


“Tuan, saya pulang sama dia saja. Permisi, Tuan,” ucap Jingga sambil berusaha menarik tangannya, tapi justru makin digenggam erat oleh Jefri.


“Kau siapa ingin mengantarnya pulang?” tanya Jefri pada Bayu seolah tak suka Bayu menjemput wanita incarannya.


Bayu hanya tersenyum ramah lalu menjawab, “Saya calon suami Jingga, Tuan.”


Lalu Bayu memegang tangan Jingga yang lainnya. “Jadi sudah seharusnya dia pulang bersama saya,” ucap Bayu dengan tenang.


Melihat Bayu menyentuh Jingga rasanya ada yang menggelegak dalam dirinya. Ingin rasanya ia mematahkan tangan yang menyentuh Jingga itu tapi ia masih harus meredam emosinya karena tak ingin merusak image nya sebagai asisten Tuan Muda Dirgantara.


“Kau mau diantar pulang oleh pria yang mengaku sebagai calon suamimu ini?” tanya Jefri pada Jingga.


Jefri berharap jawabannya adalah tidak. Tapi sayangnya bukan itu yang keluar dari mulut Jingga.


“Maaf, Tuan. Dia memang....calon suami saya. Saya harus pulang bersama dia,” jawab Jingga lalu menarik tangannya yang dipegang Jefri.


Deg.


Jefri tertegun. Ternyata dia kalah dari pria yang menurutnya masih kurang tampan dibandingkan dirinya.


“Permisi, Tuan,” pamit Jingga lalu mengikuti Bayu naik ke atas motornya.


Belum puas mendapatkan Jingga, Bayu malah membantu memasangkan helm pada wanita itu di depan mata Jefri. Ya, tepat di depan matanya. Membuat kobaran api cemburu makin menyala di pelupuk matanya.


Setelah menyalakan motornya, mereka pun berlalu begitu saja di depan Jefri. Bahkan Bayu dengan sengaja menekan klakson motornya saat berada di dekat Jefri membuat Jefri semakin emosi.


Ingin rasanya aku tendang motor sia-lan itu sampai dia jatuh terguling-guling. Kalau tidak ingat Jingga juga ada di atas motor itu, memang sudah ku tendang dari tadi! Hardik Jefri dalam hati.


Jefri mengerjapkan matanya beberapa kali saat tersadar dari kenangan sia-lannya malam itu. Jefri pun lalu turun dari mobilnya yang sudah terparkir di depan Coffee Shop Janji Kita. Jika biasanya dia datang ke tempat itu saat malam hari, kali ini ia datang pada jam makan siang.


Jefri masuk ke sana dan langsung disambut ramah oleh sang pemilik Coffee Shop yang kebetulan sedang berada disana. Jelas saja disambut ramah, sudah dua kali acara keluarga besar Dirgantara, Coffee Shop nya mendapatkan pesanan dari Jefri.


Jefri pun duduk di salah satu kursi yang ada disana. Ia sengaja memilih kursi paling ujung agar pembicaraannya tidak didengar yang lain. Dan tak lama Jingga yang mendapat perintah dari bosnya, menghampiri Jefri untuk mencatat pesanannya.


“Permisi, Tuan. Apa sudah ada menu yang akan Tuan pesan?” tanya Jingga berusaha bersikap profesional.


Eh, duduk? Tadi dia memintaku untuk duduk kan? Gumam Jingga dalam hati untuk memastikan pendengarannya.


Menyadari Jingga belum bergerak sama sekali, Jefri beralih menatap Jingga lalu menunjuk kursi di depannya dengan dagunya.


“Duduk, Tuan?” ulang Jingga memastikan.


“Ternyata selain tidak peka, kau tuli juga rupanya,” ucap Jefri dengan pelan tapi penuh penekanan hingga menusuk ke ulu hati.


Sabar, Jingga. Sabar! Kalau tidak ingat dia ini asisten Tuan Muda Dirgantara, mungkin sudah aku maki dari tadi. Umpat Jingga dalam hati karena kesal dikatai oleh Jefri.


Jingga pun duduk di depan Jefri sesuai perintahnya.


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tentang pria yang selalu mengantarmu pulang. Apa benar dia calon suamimu?” tanya Jefri langsung pada pokok permasalahan yang mengganjal di hatinya.


Deg.


Jingga tentu agak terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba ini. Kenapa Jefri harus bertanya hal pribadi seperti itu padanya? Padahal mereka baru beberapa kali bertemu. Jingga sebenarnya agak berat menjawabnya. Untuk mengakui Bayu sebagai calon suaminya adalah hal yang berat karena ia sama sekali tak memiliki perasaan pada pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah terlanjur dijodohkan. Hah, lagi-lagi soal perjodohan!


“Benar, Tuan. Dia memang calon suami saya,” jawab Jingga dengan wajah tertunduk.


Sekarang giliran Jefri yang terkejut. Jingga membenarkan pertanyaannya secara langsung.


“Aku ralat pertanyaanku,” ucap Jefri. Dia masih mencari celah agar dirinya masih bisa mendekati gadis itu.


“Apa kau mencintai pria yang kau sebut calon suamimu itu?”


Deg.


Jingga kembali terkejut hingga mendongakkan kepalanya menatap Jefri.


Cinta? Dia menanyakan soal cinta? Seorang asisten Tuan Muda Dirgantara bertanya soal cinta padaku? Ada apa sebenarnya dengan dirinya? Apa dia merasakan sesuatu yang juga aku rasakan saat berdekatan dengannya? Jingga bertanya-tanya dalam hatinya.


Jefri membalas tatapan gadis di depannya itu. Tatapan yang membuat dirinya semakin yakin, ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya tertarik pada gadis itu.


“Jadi, bagaimana? Apa kau mencintainya?” ulang Jefri lagi. Berharap kali ini jawabannya adalah tidak.


“Saya.........”


“Jingga!”


Belum selesai Jingga menjawab, suara panggilan dari pria yang dibicarakan sudah menghentikan pembicaraan mereka.


“Jingga, kau disini rupanya. Tadi ayahku menelfon, katanya ayahmu jatuh pingsan saat bekerja di kantor lurah. Makanya aku kesini untuk menjemputmu melihat kondisi ayahmu. Beliau dibawa ke Rumah Sakit Cahaya Senja,” ucap Bayu panjang lebar tanpa mempedulikan Jefri yang ada disana.


Mendengar ayahnya sakit, spontan Jingga langsung panik dan pergi bersama Bayu meninggalkan Jefri begitu saja.


Jefri dibiarkan termangu melihat mereka pergi meninggalkannya. Dan lagi, Jefri harus melihat tangan Jingga digenggam oleh pria lain selain dirinya. Ia terus memperhatikan Jingga yang tampak panik lalu meminta ijin pada bosnya. Setelah mendapat ijin  ia pun pergi bersama Bayu meninggalkan Coffee Shop itu untuk melihat keadaan ayahnya.


Jefri masih terdiam di tempat sambil tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Ada banyak wanita yang menginginkannya di luar sana, bisa-bisanya dia malah mengejar seorang gadis yang sudah mempunyai calon suami.


Kau...baru calonnya. Hanya calon. Selagi aku belum mendengar langsung dari mulut Jingga apakah dia mencintaimu atau tidak, jangan harap aku berhenti mendapatkannya begitu saja. Jefri bertekad dalam hati.


.


Bersambung...