
Malam ini Tuan Dirgantara dan keluarganya berkunjung ke rumah sakit. Mereka bukan hanya mengunjungi Senja tapi juga mengunjungi Bumi. Tadi sore Bumi sempat pingsan saat berdiri hendak ke kamar mandi. Fisiknya sudah terlalu lelah dan butuh banyak istirahat. Kini Bumi terbaring di ranjang rumah sakit yang bersebelahan dengan Senja dengan selang infus yang menancap di tangannya.
“Bagaimana kau mau menjaga Senja kalau kau sendiri sakit seperti ini?” sindir Tuan Dirgantara pada anaknya itu agar anaknya sadar yang ia lakukan selama ini adalah hal yang salah.
“Aku bisa menjaganya,” jawab Bumi.
“Kau harus banyak makan dan istirahat. Senja juga pasti sedih kalau melihat kondisimu seperti ini. Lihatlah, wajahmu saja hampir tak dikenali. Nanti orang bilang Ayah tidak mampu bayar tukang cukur untuk merapikan rambut dan jenggotmu,” kata Tuan Dirgantara menghibur anaknya.
Dimas yang berada disana hanya terkekeh saja mendengar ucapan ayahnya.
“Kau lihat tu Dimas, dia sampai beli parfum mahal demi mendekati Viona. Kau tau, dia juga sering memakai baju-bajumu di rumah. Nanti saat kau pulang ke rumah, kau akan lihat lemari pakaianmu kosong. Itu semua ulahnya,” kata Tuan Dirgantara lagi meledek Dimas.
“Tidak, Kak. Ayah becanda. Aku hanya pinjam saja. Nanti aku kembalikan,” ucap Dimas dengan cepat takut Bumi marah padanya. Padahal Bumi sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
“Kau seharusnya ijin pada Kakakmu kalau memakai barang miliknya,” ucap Vero pula.
“Iya, Bu. Maaf ya Kak Bumi, aku tidak ijin padamu, tapi malah ijin sama Jefri,” ucap Dimas.
“Aku tidak butuh semua barang itu. Aku hanya butuh Senjaku kembali,” lirih Bumi sambil melirik ke samping dimana Senja masih terbaring disana.
Tuan Dirgantara menghela nafas dengan berat. Dia tau anaknya ini sangat mencintai Senja sampai sakit seperti ini. Sudah dua bulan Senja tak sadarkan diri, sudah dua bulan jugalah anaknya hilang semangat untuk hidup. Hal ini sama persis terjadi waktu ia kecil dulu saat ia kehilangan sang ibu.
“Senja juga butuh dukungan darimu. Senja membutuhkan Buminya. Karena itu kau harus kuat dan sehat sebagai tempat Senjamu bersandar,” kata Tuan Dirgantara menasehati.
“Aku sehat,” sanggah Bumi.
“Sehat bagaimana? Kau saja tadi pingsan. Badanmu juga sangat lemah sekali,” protes Tuan Dirgantara.
“Aku hanya merindukannya,” ucap Bumi.
“Ini sakit menanggung rindu namanya,” sela Dimas.
Tuan Dirgantara beralih menatap Dimas. “Ingat, kau kalau jatuh cinta jangan sampai seperti kakakmu ini! Cinta sih cinta, tapi juga harus pakai logika, pakai akal sehat,” ujar Tuan Dirgantara.
“Tenang, Ayah. Aku kalau sedih karena cinta paling aku akan menghabiskan uang Ayah saja dengan liburan ke luar negeri,” jawab Dimas dengan enteng.
“Iya, tidak masalah. Pulang dari liburan, kau harus kembali bekerja tapi tanpa digaji,” kata Tuan Dirgantara yang membuat Dimas mengerucutkan bibirnya.
“Ya sudah, kalau begitu aku meniru Kak Bumi sajalah,” ancam Dimas.
“Tiru saja, kami tidak akan menjengukmu kalau kau sakit,” Tuan Dirgantara balas mengancam.
“Sudah, sudah. Bumi pusing mendengar kalian berdebat tidak jelas,” ucap Vero menengahi.
“Ayah tu, Bu.”
“Ya kamu lah, masa Ayah.”
“Sudah, sudah. Tidak perlu diteruskan.”
Keluarganya sengaja terus mengobrol untuk memancing Bumi ikut berbicara. Tapi yang dipancing masih tetap diam menatap sendu pada kekasihnya.
***
Tiga hari telah berlalu dan Bumi sudah berangsur pulih kembali. Kini ia kembali ke aktivitasnya lagi yaitu duduk di kursi sambil menatap Senja dan memegang tangan kekasihnya itu.
“Senja... mau berapa lama lagi kau terbaring disini? Kau sudah terlalu lama beristirahat. Aku mohon bangunlah, Senjaku. Aku merindukanmu setengah mati disini,” ucap Bumi lalu mengecup punggung tangan Senja.
Kini bulir-bulir airmata sudah mulai berjatuhan membasahi pipinya.
“Senja... apa kau tidak rindu menghabiskan waktu denganku untuk melihat matahari terbenam bersama? Kali ini aku bisa mengantarmu pulang sampai depan rumah tanpa perlu takut orang tuamu tau soal itu. Mereka sudah tau tentang hubungan kita. Mereka merestuinya, Senja. Kita akan segera meresmikan hubungan kita saat kau sadar nanti. Untuk itu, aku mohon...bangunlah Senja...”
“Senja, hari ini aku meminta Jefri membawakan bunga mawar berwarna pink, bunganya harum sekali. Bunganya cantik tapi masih cantik lagi dirimu. Apa kau suka mawar pink dariku? Kau selalu suka bunga pemberianku bukan?”
“Senja...kau pernah bertanya bagaimana aku tanpa dirimu kan? Sekarang aku sudah tau bagaimana rasanya. Rasanya seperti...aku ingin mati saja.”
Setelah Bumi mengatakan itu alat pendeteksi jantung Senja berbunyi dengan lebih cepat.
“Aku bosan hidup sendiri tanpamu, Senja. Aku malah sempat berpikir, lebih baik aku mati saja.”
Tit. Tit. Tit. Tit.
Alat itu makin berbunyi dengan cepat. Bumi yang sedang menggenggam tangan Senja tiba-tiba merasakan tangan itu bisa balas menggenggamnya meskipun lemah.
“Senja?” gumam Bumi yang terkejut karena menerima response dari Senja. Ia pun baru menyadari bahwa detak jantung Senja berbunyi lebih cepat dari biasanya.
“Senja, kau.......”
.
Bersambung...