Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
94. Banyak Hal Yang Ditutupi


“Siapa wanita yang kau maksud?”


“Senja, Ayah. Anak Tuan Andika Wijaya.”


Tuan Dirgantara tampak terkejut mendengar pengakuan putranya itu. Dari awal ia memang sudah menduga bahwa Bumi memiliki perasaan khusus pada Senja. Tapi apakah nanti tidak akan jadi perpecahan dalam keluarga Wijaya karena Nesya dan Senja adalah saudara sepupu?


“Kau tau mereka itu saudara sepupu kan? Apa kau sudah memikirkan bagaimana keluarga mereka menghadapi hal ini? Memutuskan pertunangan bukan bisa dilakukan seenak hatimu saja. Itu sebabnya ayah mengingatkanmu berkali-kali sebelum pertunanganmu dilaksanakan. Selain itu, kau juga harus pikirkan kondisi Senja. Pikirkan bagaimana keluarganya memandang dirinya nanti. Pikirkan juga bagaimana orang-orang di luar sana menanggapi hal ini. Bisa-bisa Senja yang jadi korban disini karena dituduh merebutmu dari Nesya,” kata Tuan Dirgantara panjang lebar.


Bumi terdiam sejenak. Semua perkataan yang diucapkan oleh ayahnya itu memang benar adanya. Tapi masalahnya kali ini sudah sangat fatal. Nesya sudah berkhianat di belakangnya dan berani berhubungan dengan pria lain. Mana mungkin Bumi mau melanjutkan pertunangannya dengan wanita seperti itu. Ia juga sudah yakin pada perasaannya pada Senja. Ia tak mau lagi kehilangan cintanya itu.


Apa aku harus memberitahu Ayah tentang bagaimana kelakuan asli Nesya? Bumi bertanya-tanya dalam hati. Ia bimbang apakah memberitahu ayahnya tentang Nesya adalah jalan terbaik agar pertunangannya bisa segera dibatalkan.


Tuan Dirgantara menilik wajah putranya yang tampak memikirkan sesuatu. Beliau dapat membaca ada hal lain yang disembunyikan putranya itu darinya.


“Apa ada hal lain yang masih ingin kau sampaikan pada Ayah? Lebih baik berkata jujur dan terbuka pada Ayah. Kau lihat sendiri bagaimana akibatnya sekarang ketika dirimu tidak jujur pada ayah tentang perasaanmu pada Senja.” Tuan Dirgantara mencoba mengorek sesuatu yang masih disembunyikan Bumi darinya.


Bumi merasa ayahnya benar. Kali ini dia akan jujur pada ayahnya.


“Apa aku boleh minta satu hal sebelum aku bicara sesuatu yang penting pada Ayah?” Bumi mencoba bernegosiasi.


Tuan Dirgantara pun tersenyum sinis. “Kau bernegosiasi pada Ayahmu sendiri?”


“Ini penting, Ayah. Ini demi keutuhan sebuah keluarga,” jawab Bumi yang membuat Tuan Dirgantara mengerutkan keningnya.


“Kau membuat Ayah penasaran dan tersudut dalam waktu bersamaan. Cepat katakan pada Ayah, apa lagi yang kau sembunyikan dari Ayah?” tanya Tuan Dirgantara mulai tak sabaran.


Bumi pun mengambil handphone-nya dan menunjukkan beberapa foto Nesya sedang beradu bibir dengan Marcel saat di club malam. Tuan Dirgantara terbelalak melihat foto-foto tersebut. Ia tampak sangat marah dan kecewa pada calon menantunya itu.


“Ini yang membuatmu ingin membatalkan pertunanganmu dengan Nesya?” tanya Tuan Dirgantara dengan nada yang sangat serius.


“Benar, Ayah. Foto ini baru diambil kemarin malam. Dan bukan hanya itu. Nesya dan kekasihnya itu juga sudah sering melakukan hubungan badan. Aku tidak sudi memiliki istri sepertinya,” jawab Bumi.


Tuan Dirgantara menggebrak meja di depannya. “Jangankan dirimu, Ayah juga tidak sudi punya menantu seperti dia! Dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Dirgantara!” ucap Tuan Dirgantara dengan berapi-api.


“Apa Adrian tau kelakuan anaknya seperti itu?” tanya Tuan Dirgantara kemudian.


“Tidak, Ayah. Ini yang Nesya minta dariku. Dia minta agar keluarganya tidak diberitahu soal ini.”


“Aku jamin itu tidak akan terjadi, Ayah. Aku sudah meminta Nesya untuk bicara lebih dulu dengan keluarganya. Jadi disini Nesya lah yang akan memutuskan pertunangan lebih dulu. Alasannya dia sudah memiliki kekasih lain.”


“Kenapa harus begitu? Jangan bikin rumit, Bumi!”


Tuan Dirgantara tampak tak terima usulan itu.


“Ini memang sudah rumit dari awal, Ayah. Nesya dan keluarganya baru saja hidup harmonis setelah kejadian yang menimpa keluarga mereka baru-baru ini. Untuk itu Nesya memohon padaku agar tidak menghancurkan keharmonisan keluarganya lagi.”


“Kenapa lagi dengan keluarganya?” tanya Tuan Dirgantara yang sudah mulai berdenyut di kepalanya.


Bumi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Mau tak mau ia pun bercerita secara terbuka pada ayahnya tentang Adrian yang dulu dijebak oleh sekretarisnya sehingga ia terikat dalam sebuah pernikahan yang menghancurkan pernikahan pertamanya hingga kebohongan belasan tahun yang baru terbongkar belakangan ini.


Mendengar cerita dari Bumi, kepala Tuan Dirgantara makin berdenyut rasanya. Ia memijit keningnya yang terasa pusing saat tau bagaimana rahasia keluarga calon besannya.


“Ternyata ada banyak hal yang ditutupi selama ini. Kepala Ayah sampai pusing mendengar ceritamu,” ucap Tuan Dirgantara dengan kesal.


“Jadi, bagaimana Ayah? Ayah setuju kan pertunanganku dan Nesya dibatalkan?”


“Untuk apa kau menanyakan itu lagi?! Batalkan segera!”


“Baik, Ayah,” sahut Bumi dengan semangat.


“Tapi...jangan terburu-buru meresmikan hubunganmu dengan Senja.”


“Kenapa?” tanya Bumi keheranan.


“Dia akan jadi bahan omongan orang-orang di luar sana.”


“Aku pastikan tidak akan ada yang akan berani melakukan itu, Ayah. Semua media tidak akan aku benarkan menjelek-jelekkan Senja. Aku akan melindungi Senja dari semua berita miring tentangnya,” ucap Bumi dengan sungguh-sungguh.


.


Bersambung...