Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
37. Mengantar Kue Ke Rumah Nesya


“Kau minta Nesya untuk menjaga nama baik keluarga, lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Sekarang kau malah ingin pergi dengan mereka untuk berlibur? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Adrian!” ucap Tari pada suaminya Adrian.


“Aku tau menutupi semua ini. Selama ini tidak ada yang tau kalau kau atau Nesya tidak membongkar rahasia ini. Arkan berulang tahun dan dia ingin aku dan ibunya menemaninya berlibur. Aku hanya memenuhi permintaan Arkan, tidak lebih,” sanggah Adrian.


“Kau yakin ini permintaan Arkan? Atau jangan-jangan ini cuma akal-akalan mantan sekretarismu saja? Dia itu wanita licik. Bahkan sampai sekarang aku masih ragu apakah benar Arkan itu darah dagingmu,” ucap Tari dengan pedas.


“Cukup, Tari! Dia anakku, bukankah kau tau aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya membuktikan kalau Arkan memang anakku? Berhenti mengungkit soal itu! Itu sudah bertahun-tahun lalu,” bentak Adrian.


“Tapi aku tidak suka kau selalu pergi ke rumah selingkuhanmu itu! Apa kata keluarga Dirgantara nanti kalau tau kau punya simpanan?!” bentak Tari tak kalah keras.


“Sudah ku katakan mereka tidak akan tau kalau kau tidak buka mulut. Dan dia juga sudah ku nikahi secara siri. Berhenti menyudutkannya terus!”


Tari tersenyum sinis. Setiap bertengkar tentang perselingkuhan suaminya, suaminya selalu membela wanita yang sudah merusak rumah tangganya itu.


“Wah, wah, kau bahkan selalu membela wanita murahan itu di depanku. Kau lebih peduli selingkuhanmu dan anak harammu itu dibandingkan aku dan Nesya keluarga sah mu!”


Plakkk!


Adrian tersulut emosi hingga melayangkan sebuah tamparan ke pipi Tari. Bukan ia marah Tari menghina dirinya atau wanita selingkuhannya. Tapi ia marah karena Tari menyebut Arkan sebagai anak haram. Meskipun Arkan memang lahir dari hubungan perselingkuhan antara Adrian dan mantan sekretarisnya dulu, tapi bagi Adrian, Arkan tetaplah darah dagingnya.


“Aku tidak peduli kau menghina Sonya. Tapi jangan pernah sekali-kali kau menyebut Arkan sebagai anak haram di depanku! Dia darah dagingku. Putra Adrian Wijaya. Ingat itu!”


Tari tak berani lagi menjawab. Jika ia menjawab, maka Adrian akan semakin marah padanya. Untuk saat ini ia hanya bisa menangis pilu karena ditampar oleh suaminya sendiri. Dan ini bukan yang pertama kalinya mereka bertengkar. Sejak Adrian memutuskan menikahi mantan sekretarisnya, kehidupan rumah tangga Tari dan Adrian tak pernah lagi harmonis seperti dulu.


Tok tok tok.


Pintu kamar Adrian diketuk. Ternyata itu salah satu asisten rumah tangganya.


“Maaf, Tuan. Ada mobil Nona Senja masuk kesini,” lapor asisten rumah tangganya itu. Pria paruh baya itu seolah ingin mengatakan untuk berhenti bertengkar jika tidak ingin Senja mengetahui kebobrokan rumah tangga mereka.


“Baiklah, minta Senja menungguku di ruang tamu,” titah Adrian pada pria itu.


“Baik, Tuan.”


***


Senja sudah berada di ruang tamu. Ia duduk disana sambil membaca majalah yang ada di sana. Tak lama, Adrian pun turun menghampiri Senja.


“Masih ingat juga rupanya jalan ke rumah Om,” kata Adrian pada Senja.


Senja langsung bangun dari duduknya lalu memeluk pamannya itu. “Tentu saja masih ingat, Om. Om kan, Om kesayangan Senja,” ucap Senja agar tidak dimarahi pamannya karena jarang berkunjung kesana.


Adrian melerai pelukannya lalu mengacak rambut Senja dengan gemas. “Kau paling bisa mengambil hati Om mu ini. Ayo duduk,” ajak Adrian pada Senja.


Senja mengambil sebuah bingkisan di atas meja berisi cake yang ia bawa dari rumah. Cake itu buatannya sendiri. Tadi Liliana mengajaknya membuat cake bersama, jadi Senja sengaja membuat lebih untuk membagikannya pada pamannya itu.


“Apa ini?” tanya Adrian lalu mengambil bingkisan tersebut dari tangan Senja.


“Ini cake blackforest, Om. Senja yang membuatnya sendiri dengan mama.”


“Om jangan habiskan sendiri. Bagi sama Tante Tari dan Kak Nesya juga dong.”


“Ha ha ha, iya, tentu saja.”


“Ngomong-ngomong Tante Tari sama Kak Nesya kemana, Om? Kok rumah ini sepi sekali?” tanya Senja yang baru menyadari dari tadi dia tak melihat Tari maupun Nesya disana.


Adrian dengan cepat mencari alasan untuk menjawab Senja. “Tante Tari masih di kamar, katanya kurang enak badan. Kalau Kak Nesyamu baru saja keluar pagi tadi. Katanya ada urusan sedikit di butiknya,” jawab Adrian berbohong.


“Oh...pantas saja sepi sekali. Padahal Senja rencananya mau ngobrol sama Kak Nesya. Karena Kak Nesya tidak ada, Senja pulang sekarang ya, Om. Tante Tari kan lagi tidak enak badan juga, sebaiknya Om menemani Tante saja,” ucap Senja sambil berdiri dari duduknya.


"Kenapa buru-buru sekali? Tidak mau mengobrol dulu dengan Om?"


"Lain kali saja, Om. Tante Tari lebih membutuhkan Om saat ini. Sampaikan salam Senja pada Tante Tari, ya. Semoga cepat sembuh."


“Baiklah, nanti Om sampaikan. Terimakasih untuk cake nya. Salam untuk Papa dan Mamamu, ya.”


“Oke, Om.”


Adrian pun mengantarkan Senja sampai depan pintu. Tapi di depan, mereka bertemu dengan Nesya yang baru saja pulang ke rumahnya. Sebenarnya Nesya bukan barusan pergi tadi pagi, tapi dia memang belum pulang ke rumahnya tadi malam karena menginap di apartemen.


“Loh, Kak Nesya? Cepat sekali pulangnya. Kata Om Adrian, kak Nesya barusan keluar,” kata Senja yang agak terkejut melihat Nesya sudah balik lagi ke rumahnya.


“Aah, iya, ada yang ketinggalan,” jawab Nesya agak gugup. Ia melirik ke ayahnya sekilas. Nesya paham, pasti tadi ayahnya sudah berbohong untuk menutupi kalau dia tidak pulang tadi malam.


“Tumben kau kesini, ada apa?” tanya Nesya pula.


“Aku mengantarkan cake buatanku, Kak. Sekalian mau mengobrol dengan kak Nesya dan Tante Tari. Tapi sepertinya waktunya kurang pas. Kakak masih ada urusan butik dan Tante Tari tidak enak badan. Jadi kapan-kapan saja aku kesini lagi. Ya sudah aku pulang dulu. Bye Kak Nesya, bye Om.”


“Iya, hati-hati menyetir mobilnya,” ucap Adrian sambil melambaikan tangan kepada Senja.


Mama tidak enak badan? Nesya melirik lagi ke ayahnya yang masih melihat Senja masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan rumahnya. Nesya curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi antara ayah dan ibunya. Karena yang ia tau, ibunya baik-baik saja, tidak dalam keadaan sakit apapun. Ia menduga ayahnya pasti berbohong pada Senja.


Setelah kepulangan Senja, Nesya rencananya ingin langsung masuk ke kamarnya. Tapi Adrian menahannya.


“Dari mana saja kamu?” tanya Adrian dengan nada tinggi.


“Bukan urusan Papa!”


Plakkk!


Adrian lagi-lagi tak bisa menahan emosinya untuk melayangkan tamparannya. Kali ini yang jadi sasaran adalah anak kandungnya sendiri, Nesya.


“Papa jahat!”


***


Hai semua 🤗 Jangan lupa like setelah baca ya, agar penulis semangat update-nya 💙 Terimakasih 🤗