
Patah hati! Itu yang tengah dirasakan dua insan yang mencintai dalam diam itu. Ada dinding pemisah yang seakan sulit untuk mereka terjang agar mereka bisa bersama layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Padahal mereka sudah punya cinta. Lalu apalagi yang kurang untuk mempersatukan mereka?
Patah hati. Membuat keduanya tak bisa fokus berkonsentrasi. Apapun yang dilakukan menjadi salah dan tak dapat dimengerti. Beginilah ternyata sakitnya patah hati. Cintamu di depan mata tapi tak bisa kau gapai jua. Lalu bagaimana cara mengobatinya?
Drrttt drrrt drrttt drrrt.
Getaran handphone yang Senja simpan di dalam tasnya membuat Senja tersadar dari lamunannya. Di saat yang lain sudah bersiap-siap untuk berangkat ke hotel tempat pertunangan Nesya dan Bumi, Senja malah duduk di ujung jembatan yang ada di pantai sendirian saat ini. Ia masih bingung apakah ia sanggup menghadiri acara pertunangan Nesya dan Bumi malam ini.
Beberapa hari lalu saat Senja memberikan jawaban pada Bumi bahwa ia tidak mencintai pria itu, maka tak ada alasan bagi Bumi untuk membatalkan pertunangannya. Pertunangan tetap akan berlanjut meski tanpa ada cinta di hati Bumi.
Ya, Bumi sudah mengunci hatinya rapat-rapat hanya untuk Senja. Dalam bilik hati yang ia kunci, terdapat cinta di dalamnya. Dan cinta itu hanya untuk Senja. Selamanya hanya untuk Senja. Dia tak peduli meski saat itu Senja bilang tidak mencintainya, tapi ia tetap mencintai Senjanya. Apakah ini yang dimaksud mencintai tanpa harus memiliki?
Senja pun mengambil handphone dalam tasnya. Rupanya itu panggilan dari ayahnya. Kali ini bukan lagi ibunya yang menelepon. Ayahnya sudah turun tangan langsung menanyakan keberadaannya.
“Hallo, Papa.”
“Hallo, Senja. Kamu dimana, Sayang? Papa sama Mama sudah bersiap-siap mau berangkat ke hotel tempat acara pertunangan Nesya,” tanya Andika dengan nada khawatir.
“Papa sama Mama duluan saja. Nanti Senja menyusul.”
“Papa tanya Senja dimana sekarang?”
“Senja nanti kesana sama Viona, Pa. Papa tidak perlu khawatir.”
“Sayang, ini sudah hampir jam enam. Acaranya dimulai jam tujuh malam. Papa minta kamu jangan terlambat ke acara pertunangan sepupumu sendiri.”
“Baik, Pa. Senja usahakan tidak terlambat.”
“Ya sudah, Papa tutup dulu telfonnya. Ingat Sayang, jangan terlambat!”
“Iya, Papa.”
Klik. Sambungan telepon itupun terputus.
“Bagaimana, Sayang? Senja dimana?” tanya Liliana pada Andika.
“Dia bilang mau datang sama Viona. Sebaiknya kita duluan saja kesana. Tidak enak kalau kita terlambat kesana,” jawab Andika.
“Dia tidak bilang dia dimana?”
“Mungkin dia lagi di rumah Viona.” Andika tak ingin istrinya menjadi makin panik.
“Ya ampun, anak kita itu aneh-aneh saja. Yang bertunangan sepupunya, dia malah pergi ke rumah Viona,” omel Liliana.
“Sudahlah, Sayang. Nanti juga dia datang. Jangan marah-marah, nanti bedak kamu luntur.”
“Iya, iya, aku bercanda. Nanti aku telfon Senja lagi. Sekarang kita pergi dulu kesana. Ayo!” ajak Andika sambil memberi lengannya untuk digandeng.
Mau tidak mau Liliana pun menggandeng suaminya dan pergi menaiki mobil menuju hotel tempat acara pertunangan Nesya dan Bumi dilaksanakan.
***
Di tempat lain ada Bumi yang tengah berdiri di balkon kamar sebuah hotel mewah milik keluarganya. Ia tampak sudah rapi mengenakan setelan jasnya. Ia berdiri menghadap ke arah barat tempat dimana matahari akan terbenam. Ya, dia sedang menunggu semburat merah cahaya senja.
Jawaban Senja beberapa hari yang lalu terus terngiang di telinganya. Itu tentu sangat menyayat hatinya. Meredupkan semangat hidupnya. Merampas kebahagiaan dalam hatinya. Tapi dia tetap berdamai dengan semesta, bukankah hidup harus tetap berlanjut meski tak sesuai dengan yang diharapkan?
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatinya. Awalnya dia kira itu Jefri, tapi suara langkah kakinya berbeda. Bahkan dari suara langkah kaki saja Bumi mampu menebak siapa yang datang.
“Untuk apa kau kesini?” tanya Bumi tanpa membalikkan badannya.
“Ayah memintaku memanggilmu,” jawab pria itu yang tak lain adalah Dimas.
“Kenapa bukan Jefri? Kemana dia?” tanya Bumi masih dalam posisi yang sama.
Dimas makin mendekat bahkan sudah berdiri di samping Bumi. “Kau sepertinya lebih sayang Jefri ketimbang aku, adikmu sendiri,” ucap Dumas dengan wajah yang ia buat sesedih mungkin.
Bumi mendengus. Betapa kekanak-kanakannya makhluk di sampingnya ini, pikirnya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu lagi. Barulah kali ini Jefri yang masuk menghampiri tuannya.
“Tuan, anda sudah ditunggu di bawah oleh Tuan Dirgantara dan yang lainnya,” kata Jefri memberitahu.
Barulah Bumi membalikkan badan melihat Jefri lalu menganggukkan kepalanya. Dimas sampai ternganga melihat interaksi dua orang di depannya. Dia yang dari tadi lebih dulu datang malah diabaikan begitu saja.
“Saya akan menunggu di depan, Tuan.” Jefri seakan paham apa maksud tuannya. Setelah mengatakan itu Jefri pun kembali melangkahkan kakinya keluar, menunggu di depan kamar.
“Kak, aku kan yang lebih dulu memberitahumu,” ujar Dimas tak terima.
“Mau sampai kapan kau disini?” tanya Bumi yang bermaksud mengusir Dimas dari sana.
Dimas pun mengerti apa maksud kakaknya itu. “Baiklah, aku kesana duluan,” ucap Dimas lalu pergi meninggalkan kamar itu.
Bumi kembali berbalik melihat ke ufuk barat. Langit yang tadi cerah kini sudah berubah menjadi merah jingga. Ia merogoh sapu tangan dari saku jasnya, lalu mencium sapu tangan yang ada tanda bibir senja disana.
“Senja, aku merindukanmu...” ucap Bumi dengan lirih.
Beberapa detik ia mencium sapu tangan berharganya itu, lalu kemudian ia masukkan kembali dalam saku jasnya. Kini, mau tidak mau ia harus melanjutkan pertunangannya dengan seseorang yang sama sekali tidak dicintainya.
Bersambung...