
Senja mengambil jas tersebut dan membolak-baliknya. “Jas ini seperti......”
Sekilas ingatan Senja kembali saat dimana ia melihat seseorang mengenakan jas berwarna abu-abu yang sedang dipegangnya saat itu.
“Marcel? Ini seperti jas yang Marcel pakai tadi siang. Apa jangan-jangan.........”
“Aaawwwhhhh.....”
Tiba-tiba terdengar suara wanita menjerit dari arah kamar. Bukan menjerit ketakutan tapi menjerit karena terkejut.
“Bukannya itu suara Kak Nesya? Dia ada disini?” gumam Senja.
Senja meletakkan kembali jas itu dan pergi menuju ke kamar. Ia berniat untuk menghampiri Nesya disana. Ia yakin yang tadi itu pasti suara Nesya.
Senja terus melangkahkan kakinya menuju kamar. Semakin ia mendekat, semakin terdengar jelas suara yang berasal dari kamar yang pintunya tidak tertutup sepenuhnya itu. Senja mendadak melebarkan matanya saat mendengar tak hanya ada suara Nesya disana. Tapi juga ada suara pria yang ia kenal.
“Ougghhh....kau luar biasa sekali, Baby.”
Deg.
Senja langsung terkejut dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu saat mendengar suara barusan.
“Baby?” lirih Senja.
“Senang sekali bertemu denganmu disini, Baby.” (ucapan Marcel tadi siang saat bertemu Senja).
Tak lama terdengar lagi suara dari dalam kamar. Kali ini suara itu adalah suara yang membuat Senja merasa sangat jijik karena ia tau itu suara sepasang pria dan wanita yang tengah melakukan pergulatan panas.
Senja menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia dengar. Hatinya menolak untuk mempercayai kalau sepupunya itu telah melakukan hubungan terlarang, tapi otaknya mengingatkannya pada perkataan Viona, sahabatnya, beberapa waktu lalu.
“Kak Nesya itu pergaulannya bebas kan?”
Satu kalimat yang dilontarkan Viona waktu itu terus bermain di kepalanya. Senja kembali menggelengkan kepalanya. Tidak! Ia ingin membuktikan itu dengan mata kepalanya sendiri.
Senja menyentuh gagang pintu itu dan mendorong pintu dengan perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Barulah ia kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
“Senja?” ucap Nesya dan Marcel hampir bersamaan.
Mereka berdua sangat terkejut atas keberadaan Senja disana. Mereka tak pernah menyangka sebelumnya kalau akan tertangkap basah oleh orang lain apalagi oleh Senja. Sekarang mereka tak bisa mengelak lagi saat Senja memergoki mereka sedang berduaan di dalam kamar tanpa sehelai benangpun.
“Kalian menjijikkan!” hardik Senja.
“Senja, dengarkan dulu penjelasanku,” ucap Marcel yang masih terduduk di atas ranjang tanpa busana sama seperti Nesya, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua saat ini.
“Aku tidak butuh penjelasan kalian. Aku percaya pada apa yang aku lihat!” sanggah Senja.
“Senja, tolong jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kami punya alasan sendiri mengapa kami melakukan ini,” ucap Nesya pula. Dalam hatinya sangat ketakutan sekali jika Senja akan membicarakan rahasianya ini pada keluarganya.
“Alasan? Alasan apa, Kak? Kalian melakukan ini secara sadar bukan? Kalian sama-sama menjijikkan,” kata Senja dengan kasar.
“Tante Tari saat ini sedang mengkhawatirkanmu karena menginap di apartemen ini sendirian. Beliau bahkan memberikan aku akses masuk kesini, tapi apa kenyataannya? Kak Nesya malah bersenang-senang dengan dia!” kata Senja sambil menunjuk ke arah Marcel.
“Kau sudah mengecewakan Tante Tari, Kak,” tambah Senja.
“Aku mohon jangan bilang apa-apa pada mamaku, Senja. Cukup papaku yang mengecewakannya. Aku tidak mau dia juga harus kecewa karena perbuatanku,” ucap Nesya dengan wajah memelas.
“Apa maksud Kak Nesya? Om Adrian mengecewakan Tante Tari?” tanya Senja.
Nesya mengangguk. “Ya, Papaku sudah bertahun-tahun mengecewakan mama sejak dia menikah dengan wanita lain,” jawab Nesya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Apa? Menikahi wanita lain?”
Bersambung......
***
Wah...makin seru nih! Jangan lupa like, vite dan comment ya biar penulisnya update terus. Thank you 🤗💙