
Setelah mengudara selama kurang lebih sejam lamanya, sampailah mereka di sebuah pulau yang dikelilingi oleh lautan. Pulau yang memiliki pantai dengan pasir putih yang terbentang indah menyejukkan mata. Sebuah pulau milik keluarga Dirgantara ini menjadi pilihan Bumi untuk mengajak sang istri berbulan madu.
Ketika turun dari helikopter, mereka pun disambut oleh anak buah keluarga Dirgantara yang sudah berjejer rapi.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya Muda Dirgantara,” ucap salah seorang pria yang merupakan manajer pengelola pulau itu.
Anak buah yang lain sontak ikut membungkukkan badan menyambut kedatangan pemilik pulau tempat mereka bekerja itu. Lalu Bumi dan Senja pun menerima kalung bunga yang dilingkarkan ke leher mereka. Senja tampak berbinar mendapat perlakuan seperti ini. Ia tak menyangka suaminya benar-benar sudah mempersiapkan semua ini untuk bulan madu mereka.
“Terimakasih,” ucap Bumi dan Senja nyaris bersamaan.
Selanjutnya mereka pun dituntun untuk pergi menuju ke area penginapan. Mereka akan menginap di Villa tepi pantai yang khusus dipakai hanya untuk keluarga Dirgantara saja. Villa itu sudah ditata dan disiapkan khusus untuk bulan madu Tuan dan Nyonya Muda mereka.
“Selamat beristirahat, Tuan, Nyonya. Jika ada sesuatu yang diperlukan, silahkan menghubungi kami,” kata sang manajer dengan ramah.
Bumi pun menjawab dengan sebuah anggukan. Kini Bumi dan Senja masuk ke dalam kamar yang sangat luas yang akan mereka tempat selama beberapa hari ke depan. Kamar yang tepat menghadap ke arah laut. Ke sebuah pantai yang memiliki jembatan dan dari jembatan itu mereka dapat menikmati matahari terbenam dengan sangat jelas.
“Woaahhhhh indah sekali pemandangan dari sini,” seru Senja dengan sangat bahagia saat berada di balkon kamar itu.
Bumi pun menyusul istrinya dan memeluk sang istri dari belakang.
“Kau suka?” tanya Bumi sambil menghirup aroma shampoo dari rambut sang istri.
“Tentu saja aku suka, Sayang. Apa ini pulau milik keluargamu?” tebak Senja.
“Hm,” jawab Bumi sambil terus menikmati wangi rambut sang istri.
Senja pun berbalik ke belakang menghadap sang suami. Lalu ia melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya itu.
“Terimakasih, Suamiku. Kau selalu berhasil membuatku bahagia,” ucap Senja dengan tulus.
“Melihatmu bahagia juga suatu kebahagiaan untukku, Senjaku,” sahut Bumi lalu mendekatkan wajahnya ke sang istri dan mengecup lembut bibir cherry dan strawberry miliknya itu.
“Apapun yang membuatmu bahagia, maka akan aku lakukan,” ucap Bumi lalu mengecup kembali bibir sang istri.
Senja pun balas menikmati bibir sang suami. Ia merasa sangat bahagia dan beruntung selalu dimanjakan oleh sang suami. Bumi benar-benar sosok suami yang sempurna baginya.
“Sayang, ada satu hal lagi yang mau aku tunjukkan padamu,” ucap Bumi.
“Apa itu?” tanya Senja penasaran.
“Ayo, kita ke dalam sebentar.”
Bumi pun menarik tangan Senja dan menuntunnya masuk ke dalam kamar lalu meminta Senja duduk di pinggir tempat tidur. Sementara dirinya sendiri mengambil sesuatu dari laci nakas yang ada di samping tempat tidur.
“Itu....itu seperti diary milikku,” ucap Senja saat melihat apa yang dikeluarkan Bumi dari dalam laci.
“Ini memang milikmu. Papa yang memberikan padaku saat kau koma di rumah sakit dulu,” kata Bumi lalu menyerahkan diary pink itu pada Senja. Lalu ia duduk di samping istrinya.
“Ya ampun, apa kau sudah membacanya? Aku jadi malu padamu. Kau pasti tau kalau aku sudah menyukaimu sejak lama,” kata Senja malu-malu sambil membuka lembaran-lembaran diary nya.
“Jangan bilang begitu, Sayang. Memang takdir kisah kita seperti ini,” ucap Senja lalu mengecup bibir suaminya sekilas.
Ia kembali membuka diary itu dan terhenti di satu halaman yang ia yakin bukan tulisan tangannya.
“Bumi tanpa senja?” gumam Senja saat membaca judul tulisan itu. Lalu ia pun menoleh ke arah sang suami.
“Itu aku tulis saat kau koma dulu. Maaf aku pinjam diary mu untuk menulis,” jelas Bumi sambil menggenggam satu tangan sang istri.
Senja kembali membaca puisi yang Bumi tulis di buku diary nya itu. Kalimat demi kalimat ia baca dengan perlahan sehingga mengundang kesedihan yang menjalar hingga ke sanubarinya. Sebegitu tersiksanya kah Bumi saat menunggu ia sadar dari komanya? Tanpa sadar Senja menitikkan airmatanya.
“Hei, kenapa kau menangis, Sayang?”
Bumi langsung menutup diary itu dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia pun dengan cepat memeluk Senja masuk ke dalam pelukannya.
“Senjaku, tidak apa-apa. Semua sudah lewat. Bumi tanpa senja, itu bukan kisah kita. Itu hanya sebatas puisi yang aku tulis saat aku menunggumu untuk kembali sadar dan melihatku. Sama seperti senja yang sering kita lihat bersama. Dia menghilang tenggelam bersama pekat malam, tapi besoknya dia akan kembali lagi mewarnai bumi. Kau juga begitu. Lihatlah, sekarang kau sudah kembali lagi dalam pelukanku, Sayang. Tidak ada yang akan memisahkan kita lagi. Semesta sudah mempersatukan kita.”
Bumi terus menenangkan Senja dengan mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Tak lama isak tangis dari Senja mulai mereda. Ia pun melerai pelukannya dan menatap sang suami dalam-dalam. Tangan Bumi tampak terulur menyeka airmata yang membasahi wajah cantik sang istri.
“Bumi, terimakasih sudah sabar menungguku selama itu. Terimakasih atas semua cinta dan kasih sayangmu untukku. Aku mencintaimu, Bumiku, Langitku, Dirgantaraku,” ucap Senja dengan suara seraknya setelah menangis tadi.
“Aku juga mencintaimu, Senjaku. Sangat-sangat mencintaimu. Jangan bersedih lagi, sekarang kita sudah kembali bersama lagi,” balas Bumi lalu mengecup bibir sang istri yang basah karena menangis.
Di luar perkiraannya, Senja tak ingin melepas ciuman itu. Ia semakin memperdalam ciuman itu sehingga Bumi pun ikut membalas dengan senang.
“Senja, kalau begini, nanti kau bisa kelelahan,” ucap Bumi saat melepas ciumannya.
“Lelah? Apa itu lelah?” tanya Senja meniru perkataan sang suami tadi pagi.
“Kau...yakin?” tanya Bumi tak percaya.
Senja tak menjawab lagi. Ia malah naik ke pangkuan sang suami dan menikmati bibir sang suami secara perlahan lalu makin lama makin menuntut. Mendapat signal baik seperti itu, mana mungkin Bumi bisa menolak. Ia malah bersorak gembira dalam hati.
"Aku mencintaimu, Bumiku," ucap Senja lagi.
"Aku juga sangat mencintaimu, Senjaku," balas Bumi dengan suara yang mulai berat menahan has-rat.
Senja mengelus wajah sang suami dengan sangat lembut. Dari pipi lalu semakin turun hingga ke leher sang suami yang sedang mendongak melihatnya karena ia berada di pangkuan suaminya. Jemarinya mulai bergerak indah melepaskan satu per satu kancing kemeja sang suami.
"Senja, kau siap kelelahan?" tanya Bumi lagi saat Senja mulai melepas kemeja miliknya dan menyentuh dada bidang miliknya.
"I'm yours," jawab Senja sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bumi pun dengan cepat membalikkan posisi Senja berbaring di bawahnya. Mereka kembali mereguk nikmatnya surga dunia dengan penuh cinta.
.
Bersambung...