Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
57. Tanda Bibir Senja.


“K-kau mau apa?” tanya Senja dengan terbata.


Bumi tak menjawab. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya. Hal itu tentu saja membuat jantung Senja berdetak tak karuan. Bahkan ingin bernafas pun rasanya sangat sulit sekali jika berada sedekat itu dengan pria yang ia cintai diam-diam. Senja seolah kehilangan keberaniannya. Melihat wajah di depannya kian mendekat, Senja malah menutup matanya erat-erat.


Eh?


Senja merasa ada sesuatu yang lembut di bibirnya. Sangat lembut dan halus menyentuh bibirnya. Seketika nafasnya langsung tercekat. Rasanya ia tak sanggup menolak semua ini.


Tapi ini.....bukan! Ini bukan bibir! Rasanya seperti sesuatu yang halus. Sangat halus. Apa ini?


Senja membuka matanya perlahan. Ia penasaran apa yang menempel di bibirnya. Ternyata Bumi sedang membersihkan bibirnya dengan sapu tangan miliknya. Bumi tak mau ada bekas dari Dimas yang menempel di sedotan Senja tertinggal di bibir merah muda itu.


Eh? Ternyata ini...sapu tangan? Kenapa tidak...eh, apa sih? Tidak, tidak! Apa yang kau pikirkan Senja?! Tapi, kenapa tiba-tiba dia membersihkan bibirku? Memangnya bibirku belepotan? Lagipula aku kan bukan bayi yang harus dia bersihkan segala seperti ini. Gerutu Senja dalam hati.


Senja meraih tangan Bumi yang sedang membersihkan bibirnya. Dia tak enak kalau nanti ada yang melihatnya sedekat ini dengan Bumi.


Bumi tak menarik tangannya. Ia malah melihat tangannya yang sedang dipegang Senja.


“Sedikit lagi. Aku harus memastikan bibirmu ini benar-benar bersih dari bekas siapapun,” ucap Bumi lalu kembali membersihkan bibir Senja dengan perlahan. Ia menekan-nekan bibir itu dengan lembut untuk memastikan tak ada lagi sisa-sisa Dimas disana.


Apa maksudnya memastikan bibirku benar-benar bersih? Dia ini kenapa sih? Tanya Senja dalam hati tapi tak berani membantah.


“Sudah,” ucap Bumi lalu menarik tangannya dan menyimpan sapu tangan itu di dalam jasnya. Kini dia sudah mengantongi tanda bibir dari Senja.


“Kau...kenapa membersihkan bibirku?” tanya Senja dengan ragu.


“Kenapa? Apa kurang bersih?” tanya Bumi lalu memegang dagu Senja dan kembali memperhatikan bibir itu.


“Apa aku perlu membersihkannya dengan cara lain?” tanya Bumi yang membuat mata Senja terbelalak.


“Tidak, tidak! Ini sudah bersih. Nanti sampai kantor aku bisa kumur-kumur sendiri kalau kurang bersih,” jawab Senja dengan cepat sambil menurunkan tangan Bumi.


“Aku rasa itu lebih baik. Sebaiknya kau kembali ke kantormu sekarang. Hati-hati di jalan,” ucap Bumi yang mendapat anggukan dari Senja.


Senja pun dengan cepat mengambil langkah untuk segera masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan jantung yang berdebar kencang.


Bumi juga ikut masuk ke mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit. Saat di perjalanan, ia kembali mengeluarkan sapu tangannya. Ia melihat ada sedikit noda merah yang menempel di sapu tangan berwarna biru muda itu. Ia pun mendekatkan sapu tangan itu ke hidungnya dan menghirup bau manis strawberry yang melekat disana, mungkin itu berasal dari pelembab bibir yang dipakai Senja.


Tak cukup sekali, ia kembali mencium aroma strawberry itu cukup lama dengan mata terpejam.


Harum Senja. Batin Bumi.


Ia pun tersenyum dan menyimpan kembali sapu tangan miliknya ke dalam saku jasnya. Ia berniat tidak akan mencuci sapu tangan itu dan malah akan menyimpannya di tempat yang lebih layak.


Bumi tak sadar, dari tadi tingkah konyolnya itu diperhatikan oleh asistennya dari kaca spion mobil. Jefri tak tau alasan yang pasti mengapa Bumi bersikap seperti itu. Tapi satu hal yang Jefri tau, tidak ada satu orang pun yang dapat mengubah Bumi menjadi seperti itu kecuali Senja. Jefri yakin ini pasti ada kaitannya dengan Senja. Melihat wajah Bumi yang cerah, Jefri pun ikut tersenyum bahagia.


Bersambung...


***


Oke, done 2 bab ya untuk hari ini 🤗 kalian juga bisa baca novelku yg lain ya :



My Name is Emilia (novel tamat)


Cinta Abang Kurir (novel on-going)


Selamat membaca dan terimakasih atas supportnya yg sudah menguatkanku 💙