Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
84. Harusnya Aku


“Berikan padaku bukti perselingkuhan mereka!”


Gubrak!


Ingin rasanya Jefri memaki dalam hati. Jefri pikir Bumi akan marah padanya atau lebih buruk lagi akan menendangnya. Tapi ternyata bosnya itu tampak bersemangat seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya.


Jefri menghembuskan nafas dengan lega. Bosnya tentu tak akan marah padanya. Biasanya kalau pasangan normal, tentu akan marah atau sakit hati saat mendapat kabar buruk tentang tunangannya sendiri. Tapi kali ini berbeda dengan Bumi. Ia malah senang sekali jika memang yang dikatakan Jefri adalah sebuah kebenaran. Itu artinya pertunangannya akan segera batal karena Nesya telah berkhianat padanya.


“Jef!” panggil Bumi yang melihat asistennya itu malah diam saja.


“Jefri!” sentak Bumi dengan keras. Barulah Jefri tersadar dan segera menghampiri bosnya.


“I-iya, Tuan. Ini Tuan,” kata Jefri seraya menyodorkan handphone-nya.


“Untuk apa handphone mu? Kirim ke handphone ku!”


Salah lagi. Sabar, Jef. Sabar.


“Baik, Tuan. Sudah saya kirim, Tuan,” ucap Jefri yang dengan cepat mengirim informasi yang ia dapatkan tentang Nesya tadi.


Bumi kembali duduk di kursinya lalu membuka pesan dari Jefri. Ia tersenyum sinis melihat Nesya dan Marcel dalam foto-foto itu. Selanjutnya Bumi mendengarkan rekaman suara mereka. Ia langsung geleng-geleng kepala setelah mendengarkan rekaman suara itu. Benar-benar di luar dugaan. Wanita yang hampir dinikahinya ternyata seperti ini kelakuannya.


“Berarti benar memang ada sesuatu antara mereka. Tapi bukti ini belum cukup kuat, Jef. Kita harus menunggu sampai weekend nanti,” ucap Bumi dengan serius.


“Benar, Tuan. Saya akan terus memantau mereka,” sahut Jefri.


“Pantau terus mereka tapi ingat, jangan sampai membuat mereka curiga! Kalau sampai mereka tau sedang diawasi, tentu saja mereka akan lebih berhati-hati lagi,” kata Bumi mengingatkan.


“Baik, Tuan.”


“Hm. Kau boleh pergi.”


“Hmmm...Tuan, apa Tuan tidak ingin makan sesuatu? Saya rasa dari pagi kemarin Tuan belum makan apa-apa,” tanya Jefri kemudian.


“Nanti saja,” jawab Bumi singkat.


“Baiklah, Tuan. Kalau butuh sesuatu,  Tuan bisa memanggil saya.”


Bumi tak menjawab lagi. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah itu Jefri pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Bumi pun menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia mengeluarkan sapu tangan yang ada tanda bibir Senja lalu ia cium dalam-dalam sambil memejamkan mata.


Bersabarlah sebentar, Senjaku. Aku rasa semesta tengah berpihak pada kita. Sudah hukum alamnya seperti itu. Mana bisa Bumi tanpa Senja, iya kan? Gumam Bumi pada dirinya sendiri.


***


Malam harinya Bumi sudah bersiap-siap turun ke bawah untuk makan malam bersama. Suasana hatinya sudah cukup membaik, karena itu ia baru mau makan bersama keluarganya. Tapi tiba-tiba ia melihat Dimas berjalan menuju ke pintu depan. Melihat Dimas yang berpakaian rapi, Bumi curiga kalau dia akan pergi keluar rumah.


Entah kenapa saat itu firasat Bumi mengatakan Dimas pasti keluar untuk bertemu dengan Senja. Untuk itu, ia membatalkan niatnya makan malam bersama di rumah dan mengikuti Dimas diam-diam dari belakang.


Bumi sepertinya memang tak salah menebak. Buktinya saat ini mobil Dimas masuk ke dalam gerbang rumah Senja. Tak lama mobil itu keluar lagi setelah menjemput seseorang yang tak lain adalah Senja.


Bumi tau mereka pasti akan makan malam bersama. Bumi tau ia akan kembali terluka melihat Dimas berduaan dengan Senja. Tapi rasa penasaran mengalahkan itu semua. Ia tetap membuntuti kemana mereka berdua pergi. Dan benar saja, Dimas mengajak Senja makan di restoran yang sama dengan restoran yang pernah Bumi dan Senja datangi dulu.


Dimas dan Senja memilih duduk di lantai dua di dekat bagian luar, sehingga dari bawah sangat tampak jelas apa yang mereka lakukan disana.


Bumi yang duduk di dalam mobil sambil memperhatikan mereka, mencengkram stir mobil kuat-kuat. Ia cemburu! Ya, ia memang cemburu melihat kedekatan Dimas dan Senja. Saat ia dihalang-halangi untuk sekedar bertemu dengan Senja, Dimas malah diberi lampu hijau untuk mendekati gadis yang dicintainya itu.


“Seharusnya aku yang bersamamu disana, Senja! Bukan dia!”


.


Bersambung...