Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
129. Semesta Mempersatukan Kita


Hari ini langit tampak cerah berhiaskan awan putih. Cuaca hari ini tampak bersahabat seolah merestui acara pernikahan antara Bumi dan Senja. Pesta pernikahan yang sudah ramai dibicarakan hingga ke pelosok negeri ini digadang-gadangkan akan menjadi pesta pernikahan termewah tahun ini. Pesta ini juga pesta pernikahan yang paling dinanti oleh banyak orang, pesta pernikahan antara dua keturunan keluarga pengusaha yang terkenal di negeri itu. Di media cetak maupun media elektronik semua berisi tentang pesta pernikahan yang akan digelar pada hari ini.


Pesta pernikahan ini akan digelar di sebuah ballroom hotel mewah milik keluarga Dirgantara. Ruangan itu sudah tampak indah menawan dengan hiasan bunga-bunga segar asli yang didominasi oleh warna putih. Lampu-lampu hias yang berkelap-kelip indah pun turun menyemarakkan dekorasi ruangan itu. Semua sudah tertata rapi pada tempatnya tanpa ada satupun cacat cela.


Di sebuah kamar hotel yang ada disana, tampak seorang pria yang sudah berdiri gagah dengan setelan jas pengantinnya. Siapa lagi kalau bukan Bumi Langit Dirgantara. Wajahnya tampak berseri sekali hari ini, penuh dengan kebahagiaan dan sangat kharismatik.


“Bagaimana penampilanku? Sudah rapi kan?” tanya Bumi pada Jefri yang juga berada disana. Jefri sendiri juga sudah rapi dengan setelan jasnya. Ia pun tak kalah menawan hari itu.


“Perfect, Tuan!” sahut Jefri sambil mengacungkan satu jempolnya.


Bumi pun tersenyum dan semakin percaya diri rasanya.


“Apa Tuan merasakan gugup hari ini?” tanya Jefri.


“Tidak. Kenapa harus gugup? Aku hanya sedikit tidak sabar saja. Aku ingin segera menjadikan Senja sebagai istriku,” jawab Bumi.


“Sabar, Tuan. Hanya kurang sejam lagi. Setelah ini Tuan akan resmi menjadi suami Nona Senja.”


“Iya, kau benar. Tapi ini resepsinya sampai malam. Aku harus menahan diriku untuk berduaan dengan Senja sampai malam,” keluh Bumi.


Jefri tak menjawab lagi. Ia hanya terkekeh saja melihat Tuan mudanya yang sudah tak sabaran itu. Tak lama terdengar suara pintu diketuk, ternyata Tuan Dirgantara sudah datang menjemput putranya.


“Kau tampan sekali hari ini, Bumi. Ayah tidak menyangka akhirnya hari pernikahanmu telah tiba,” ucap Tuan Dirgantara dengan haru.


Bumi mendekat ke ayahnya dan langsung memeluk pria paruh baya itu.


“Terimakasih sudah membesarkanku sampai saat ini, Ayah. Terimakasih karena selalu berada di sampingku. Aku bangga menjadi anak dari seorang Bima Dirgantara,” ucap Bumi dengan mata yang berkaca-kaca.


Tuan Dirgantara juga sudah mulai mengembun matanya. Ia menepuk punggung anaknya berkali-kali seolah memberi semangat padanya.


“Ayah juga selalu bangga padamu anakku, Bumi Langit Dirgantara.”


Tuan Dirgantara pun melerai pelukannya. Acara akan segera dimulai. Mereka harus segera turun ke tempat acara.


"Ayo, kita turun sekarang! Kita harus sampi lebih dulu disana sebelum mempelai wanita yang datang," ajak Tuan Dirgantara.


"Baik, Ayah."


Mereka bertiga lalu turun dan menunggu mempelai wanita di ballroom tempat mereka mengadakan pesta pernikahan.


***


Di kamar lain juga ada Senja yang sudah terlihat sangat cantik sekali dengan gaun berwarna putihnya. Wajahnya yang sudah cantik bertambah cantik lagi dengan hiasan makeup yang soft di wajahnya. Ia benar-benar tampak seperti seorang putri raja yang sedang menunggu pangeran datang menjemputnya.


“Kau deg-degan, ya?” tanya Liliana yang melihat Senja tampak gugup.


Senja pun mengangguk. Ia memang merasa gugup saat itu. Tangannya saja sampai terasa dingin saking gugupnya.


“Senja gugup, Ma. Senja masih tidak menyangka hari ini adalah hari pernikahan Senja,” jawab Senja.


“Percayalah, semua akan berjalan lancar. Tidak ada yang perlu kau takuti.”


“Iya, Ma. Semoga semuanya lancar.”


Tak lama Andika pun datang untuk menjemput Senja. Ia nanti yang akan menikahkan putri semata wayangnya itu pada Bumi.


“Kau terlihat sangat cantik, Sayang. Kau sudah siap? Semua sudah menunggumu,” tanya Andika.


Senja pun mengangguk dengan yakin. “Siap, Ayah.”


“Bagus, kalau begitu ayo kita turun sekarang.”


***


Di ruangan tempat pernikahan mereka berlangsung, Bumi sudah dari tadi menunggu kedatangan Senjanya. Tak hanya Bumi, seluruh tamu yang datang juga sudah tak sabar ingin melihat langsung calon pengantin wanita.


Dengan sangat anggun, Senja pun berjalan memasuki ruangan diapit oleh kedua orang tuanya di sisi kiri dan kanan. Kini, seluruh pasang mata sontak menatap ke arah Senja. Banyak yang berbisik kagum melihat kecantikan calon pengantin Tuan Muda Dirgantara itu.


Deg.


Jantung Bumi rasanya berdegup lebih kencang saat melihat pujaan hatinya datang dengan gaun yang sangat indah. Kecantikan Senja hari ini begitu memukaunya hingga tak sadar ia menarik sudut bibirnya membuat segaris senyum di wajahnya. Senja memang selalu cantik di matanya, tapi hari ini auranya sangat berbeda. Bukan hanya sekedar cantik, tapi juga bercahaya.


Senja pun semakin gugup saja melihat Bumi yang berjarak semakin dekat dengannya. Pria itu benar-benar sangat tampan dan berkharisma. Wajah Senja tiba-tiba merona merah. Ia tak dapat menutupi rasa bahagianya lagi.


Saat sudah berada di depan Bumi, Senja melihat Bumi menatapnya dengan sangat lekat. Pria itu nyaris tak berkedip memandanginya.


Andika menyerahkan Senja, putrinya, kepada Bumi. Bumi pun dengan senang hati menerimanya.


"Jaga putri ku satu-satunya ini dengan baik! Jaga dia melebihi kau menjaga nyawamu sendiri," bisik Andika dengan pelan pada Bumi.


Bumi pun mengangguk dan balas berbisik, "Jangan khawatir, Papa mertua. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri. Aku janji tidak akan mengecewakanmu."


"Baik. Aku pegang kata-katamu."


Kemudian Bumi pun mulai mengikrarkan janji pernikahannya di depan semua tamu yang hadir. Begitu mereka sah menjadi sepasang suami istri, ada perasaan lega di hati kedua mempelai itu. Akhirnya tidak ada lagi yang dapat memisahkan mereka berdua. Tak ada lagi yang dapat memisahkan Bumi dari Senjanya.


Bumi pun memasangkan cincin bertahta berlian ke jari manis Senja. Lalu giliran Senja balas memasang cincin ke jari manis Bumi. Kini mereka pun sudah resmi menikah dan bersatu dalam bahtera rumah tangga.


“Terimakasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu. Meskipun sebelum sampai ke titik ini banyak sekali rintangan yang harus kita lewati, tapi sekarang kita sudah tidak bisa terpisah lagi. Lihatlah, semesta sudah mempersatukan kita selamanya,” ucap Bumi dengan sungguh-sungguh.


Senja hanya bisa mengangguki perkataan pria yang sudah resmi menjadi suaminya sekarang. Lalu pria itu mendekat ke arah sang istri dan memberi ciuman hangat di keningnya cukup lama sambil memejamkan mata. Para tamu yang hadir pun bertepuk tangan dan bersorak gembira melihat kemesraan mereka.


.


Bersambung...