Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
140. Cinta Bumi dan Senja


“Bumi...ayo cepat sini! Kejar aku...!” teriak Senja lalu berlari kecil di pinggir pantai tanpa mengenakan alas kaki.


Bumi hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan sang istri. Ia berjalan dengan santai menyusuri tepi pantai dengan membawa flat shoes milik sang istri di tangannya.


Setelah tadi mereka melakukan olahraga lagi, mereka pun tertidur karena sangat kelelahan. Ketika bangun, mereka langsung makan di dalam kamar. Saat sore hari barulah Bumi kembali mengajak Senja keluar dari Villa mereka untuk menyaksikan matahari terbenam di ujung jembatan. Dari jembatan itu juga bisa melihat matahari terbenam dengan sangat jelas.


“Ayo, cepat! Kau lambat sekali jalannya padahal kakimu sangat panjang,” ledek Senja pada Bumi sambil terkekeh.


Saat kaki Senja hendak naik ke jembatan, Bumi menahan Senja lalu menunduk di depan wanita itu untuk memakaikan flat shoes-nya.


“Eh, tidak usah. Aku bisa pakai sendiri,” cegah Senja. Dia merasa canggung jika suaminya harus melakukan itu untuknya.


“Tidak apa-apa, biar aku saja.” Bumi bersikeras memakaikan alas kaki istrinya.


“Oke. Selesai. Ayo kita ke ujung!” ajak Bumi sambil memberikan sikunya untuk digandeng Senja.


“Ayo!” sahut Senja dengan semangat sambil bergelayut manja pada lengan sang suami.


Mereka berjalan beriringan menuju ke ujung jembatan sambil sesekali saling berpandangan dan melempar senyuman kebahagiaan. Ya, raut wajah mereka tampak sangat bahagia sekali. Tidak ada lagi kesedihan yang menyelimuti keduanya. Tidak ada lagi perasaan yang disembunyikan di dalam hati mereka. Semua sudah mereka ungkapkan dalam kata-kata dan perbuatan.


“Sayang, berapa lama kita berada di pulau ini?” tanya Senja sambil mereka berjalan ke ujung jembatan.


“Selama yang kau mau. Kau mau nya berapa lama?” Bumi malah balik bertanya sambil melihat ke arah Senja.


“Kenapa harus aku yang menentukan? Pekerjaanmu bagaimana?” tanya Senja lagi sambil mendongak melihat sang suami.


“Biarkan Jefri yang mengurusnya,” jawab Bumi sambil terkekeh lalu mengecup kening sang istri.


“Ha..ha..ha..kasian dia. Nanti kalau dia kerja terus, dia tidak nikah, nikah. Oh ya, aku penasaran. Dia itu belum punya pasangan, ya? Dia selalu bekerja untukmu. Seperti tidak punya pacar saja,” tanya Senja penasaran. Selama Senja mengenal Bumi memang tak pernah sekalipun Senja melihat Jefri dekat dengan wanita manapun.


Blushhh


Pipi Senja merona merah saat mendengar perkataan suaminya. Ada rasa bahagia yang menjalar di hatinya sehingga menciptakan bunga-bunga bermekaran indah memenuhi relung hatinya. Suaminya ini yang ia kenal sebagai pria dingin yang irit bicara, tak disangka bisa melantunkan kata-kata puitis nan romantis yang selalu mampu melenakan jiwanya.


Mereka sudah berdiri di ujung jembatan. Riak gelombang mulai berisik berpadu menjadi musik yang mengiringi romantika sepasang suami istri yang sedang berbulan madu ini. Burung-burung pun ikut ambil andil berkicauan sambil terbang melintasi lautan untuk menambah romantisnya suasana sore itu. Langit yang tadi cerah perlahan mulai berubah warna menjadi merah jingga. Bumi dan Senja menikmati suasana di sekitar mereka dalam hening dan bahagia.


“Mataharinya sudah hampir terbenam,” ucap Senja.


Lalu ia menoleh pada sang suami dan mengulurkan sebelah tangannya, sama seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya ketika matahari akan terbenam. Bumi melihat tangan Senja yang masih terulur. Ia tersenyum lalu malah menarik pinggang ramping sang istri mendekat padanya. Senja pun sontak meletakkan kedua tangannya pada bahu kekar sang suami.


“Aku mencintaimu, Senjaku. Aku mencintaimu seperti Bumi yang tak henti mencintai Senjanya,” ucap Bumi sambil menatap kedua bola mata indah di depannya dalam-dalam.


“Aku juga mencintaimu, Bumiku, Langitku, Dirgantaraku. Aku akan selalu setia di sisimu seperti Senja yang selalu setia menghiasi Buminya.”


Mereka sama-sama merasa haru saat mendengar ungkapan cinta yang tulus dari orang yang sangat mereka cintai. Kuatnya hantaman badai ujian yang menerpa mereka tak sedikitpun mengurangi rasa cinta di antara keduanya. Sakit yang pernah mereka rasakan akibat menanggung rindu yang begitu lama menduduki hati keduanya, kini sudah terobati dengan tatapan mata yang selalu bertemu dalam jarak yang hampir tak ada. Semua itu malah semakin menguatkan cinta di antara Bumi dan Senja.


Bumi pun kian menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Senja. Dengan sangat lembut dan penuh cinta ia mengecup bibir merah muda di depannya yang selalu manis seperti cherry dan sangat harum seperti strawberry. Senja pun dengan senang hati membalas ciuman dari sang suami. Berhiaskan langit yang merah jingga, mereka berhasil membuat iri para burung yang berterbangan melintasi udara. Mereka saling memagut dengan mesra hingga tak sadar, matahari pun telah kembali ke peraduannya.



.


...********TAMAT********...


Batam, 08-08-2022 (pukul 20.40)


Ditulis dengan penuh cinta dan airmata bahagia oleh Hary As Syifa 💙