
Bumi pulang ke rumahnya sekitar pukul sembilan malam. Hari ini dia bekerja sampai larut karena banyak proyek yang ia tangani. Saat masuk ke kamarnya, ia mengambil sesuatu dari dalam laci di kamarnya.
Ada sebuah kotak kecil dari kayu dengan ukiran namanya disana. Kotak itu biasa dipakainya untuk menyimpan sapu tangan hasil sulaman sang ibu. Bumi merogoh saku jasnya dan mengambil sapu tangan yang ada tanda bibir Senja. Ia mencium sebentar sapu tangan itu, ada harum Senjq yang masih melekat disana. Lalu ia menyimpannya dengan rapi di dalam kotak itu.
Kemudian ia pun melakukan aktivitas seperti biasa, mandi dan memakai pakaian tidurnya.
Ia kini sudah berbaring di atas tempat tidurnya yang luas itu. Matanya sudah mulai terpejam, tapi sekilas kejadian tadi siang hadir kembali dalam pikirannya. Kejadian dimana ia berada dengan jarak yang begitu dekat dengan Senja, gadis yang ia cintai dalam diam. Bukannya ia tak ingin menyentuh bibir itu dengan bibirnya, tapi ia tak ingin mengambil yang bukan miliknya.
Bukannya ia tak tersiksa menahan gejolak dalam jiwanya untuk merasakan bibir manis berbau strawberry itu. Ia sangat ingin! Tapi akal sehatnya lebih kuat dari pada nafsu dalam dirinya. Ia tak akan menyentuh Senja di luar batasan selama Senja bukan miliknya seutuhnya. Itulah prinsip Bumi.
Hahhhh.....
Bumi menghela nafas dengan berat. Ia kembali membuka matanya lalu bangun dari tempat tidurnya. Ia berniat ingin mengambil lagi sapu tangan yang ia simpan dalam laci tadi, tapi pandangannya justru tertuju pada sebuah bingkai foto yang ada di atas laci itu. Foto dirinya waktu kecil bersama ayah dan juga ibunya.
Ia pun mengambil foto itu dan duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Diusapnya wajah sang ibu yang sedang tersenyum manis memeluknya di foto tersebut. Tiba-tiba kerinduan pun menghampiri jiwanya.
“Ibu...” lirihnya.
Sejenak ia menutup mata dan mengingat kembali masa kecilnya.
“Ibu, Ibu, anak perempuan itu siapa namanya?” tanya Bumi pada ibunya sambil menunjuk ke arah Nesya yang duduk di samping Tari.
“Itu namanya Nesya, anaknya Tante Tari. Bumi mau main dengan Nesya?”
“Tapi apa dia mau main denganku? Setiap datang kesini bersama ibunya, dia selalu saja berada di dekat ibunya.”
“Coba Bumi ajak main dulu. Pasti dia mau.”
Bumi mengangguk. “Baiklah Ibu, akan aku coba.”
Bumi kecil pun mulai mendekati Nesya. Yang awalnya anak perempuan kecil itu menolak, lama-lama ia tertarik juga untuk ikut bermain bersama Bumi karena Bumi sangat pintar membujuknya.
Berawal dari hari itu hingga hari-hari berikutnya mereka makin akrab dan terus bermain bersama jika kedua orang tua mereka bertemu. Apalagi sejak rumah tangga Tari dan Adrian dilanda masalah, Tari sering sekali bertemu dengan ibu kandung Bumi untuk bercerita. Dari situlah akhirnya Bumi dan Nesya saling dekat.
“Ibu, kenapa hari ini Nesya tidak datang?” tanya Bumi ketika Nesya tidak mengunjungi rumahnya.
“Nesya ada acara dengan keluarganya.”
“Tapi aku mau main dengan Nesya, Bu.”
“Bumi senang ya main sama Nesya?”
Bumi mengangguk. “Nesya juga senang main sama Bumi. Dia tidak sedih lagi semenjak main dengan Bumi. Bumi mau jadi teman Nesya terus.”
“Janji.”
“Bumi mau tidak melindungi Nesya sampai dia besar nanti? Biar dia tidak sedih lagi.”
Bumi mengangguk dengan semangat. “Bumi janji. Bumi akan selalu melindungi Nesya dan menjaga Nesya sampai besar nanti. Sama seperti Ayah yang selalu menjaga Ibu sampai sekarang,” jawab Bumi kecil dengan polosnya.
Dari perkataan Bumi itulah Ana, ibu kandung Bumi, memiliki ide untuk menjodohkan anaknya dan Tari dari sejak mereka kecil.
Beberapa bulan setelah kejadian itu, saat kesehatan Ana semakin memburuk, Ana memanggil Bumi dan menyampaikan sesuatu pada Bumi yang saat itu masih berusia 10 tahun.
“Ibu, Ibu cepat sehat, ya. Aku sayang Ibu. Aku tidak mau Ibu pergi dariku. Apapun yang Ibu minta akan aku lakukan, yang penting aku tetap bersama ibu,” ucap Bumi dengan tangis yang ditahannya. Ia tak mau ibunya sedih melihat ia menangis.
“Bumi, percayalah, ibu juga tidak mau berpisah dari Bumi. Ibu sangat menyayangi Bumi melebihi dunia dan seisinya. Tapi kalau memang sudah waktunya ibu pulang, ibu harus pulang,” kata Ana sambil mengusap rambut putra semata wayangnya itu. Ada rasa sesak di hatinya saat mengatakan hal itu pada Bumi. Tapi ia tau, waktunya sudah tak lama lagi. Ana yang mengidap penyakit kanker hati, semakin lama kondisinya semakin memburuk. Meski sudah mencoba berbagai macam pengobatan, tapi tetap saja penyakit itu tetap bersemayam dalam tubuhnya.
“Ibu, aku akan kesepian tanpa ibu. Aku akan kehilangan cahaya hidupku tanpa ibu. Aku hanya mau ibu,” jawab Bumi yang memang sangat mencintai ibunya itu.
“Kau tidak akan kesepian. Kan ada Nesya yang akan bermain denganmu nanti. Dia pasti mau menemanimu sampai besar nanti.”
“Tidak! Dia tidak bisa menggantikan ibu!”
“Bumi pernah bilang mau menjaga Nesya dan terus bersama sampai kalian besar nanti kan?”
Bumi terdiam sejenak lalu mengangguk. Dia ingat pernah mengatakan itu.
“Semenjak ada Bumi, Nesya sekarang lebih bahagia dan tidak pernah bersedih lagi karena masalah keluarganya. Jadi, berjanjilah pada ibu untuk selalu menjaganya sampai dia besar nanti. Sama seperti ayah yang menjaga ibu sampai saat ini.”
Bumi lagi-lagi diam. Ia mencerna setiap perkataan ibunya. Apakah ini adalah sebuah permintaan dari ibunya? Bumi kecil yang belum dapat berpikir panjang menganggukkan kepalanya. Baginya tak masalah hanya sekedar bermain bersama Nesya saja sampai ia besar nanti. Tak taunya malah berujung pada sebuah perjodohan antara dirinya dan Nesya.
Hingga sampai dimana hari saat sang ibu meninggal dunia, Bumi benar-benar mengalami kesedihan yang mendalam. Bumi yang tadinya ceria kini berubah menjadi sosok yang pendiam bahkan selalu berdiam diri di kamar. Bahkan kehadiran Nesya yang mencoba membujuknya pun tak cukup mempan untuk mengusir rasa sepi dalam jiwanya akibat ditinggalkan sang ibu tercinta.
Kepergian sang ibu juga membawa separuh jiwanya pergi. Jiwa itu kosong dan sepi. Tak lagi berwarna apalagi bercahaya. Bertahun-tahun lamanya terus seperti itu sampai akhirnya ia menemukan cahaya senjanya.
Bumi kembali membuka matanya. Ia seperti baru tersadar akan lamunan panjangnya. Ia mengusap-usap lagi wajah sang ibu pada foto itu. Rindu! Itulah yang ia rasakan saat ini. Perlahan ia mendekatkan foto tersebut lalu menciumnya.
Lalu ia meletakkan kembali pigura berisi foto keluarga mereka. Lalu merebahkan diri dan mulai memejamkan mata.