
Hari-hari berikutnya Senja tak lagi datang ke pantai itu. Berbeda dengan Bumi yang selalu setia menunggunya disana. Jefri bahkan sudah siaga dari dalam mobil untuk mengirim pesan pada tuannya jika melihat Senja datang kesana. Tapi setelah hari itu, ternyata Senja benar-benar tak datang lagi.
Setiap pulang dari kantornya Senja pasti akan langsung ke rumah. Bahkan di rumah pun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar.
Tok tok tok.
“Senja, ini Mama. Buka pintunya, Sayang,” panggil Liliana dari depan kamar Senja.
Senja yang baru selesai mandi dan berganti pakaian itu segera membuka pintu kamarnya.
“Ada apa, Ma? Senja baru selesai mandi,” ucap Senja.
“Sayang, boleh tolong Mama ke rumah Nesya tidak? Mama masak sup daging lebih. Jadi Mama mau memberikan kepada mereka. Om Adrian mu kan suka sekali sama sup daging,” kata Liliana.
“Mumpung masih sore. Biar mereka bisa makan saat makan malam nanti. Tadi Mama pikir mau meminta supir mengantarnya, tapi Mama lupa supir kita sedang cuti, istrinya sakit. Mau ya?” bujuk Liliana.
Hari itu memang Senja pulang lebih cepat. Itu karena kepalanya pusing memikirkan pekerjaan yang bertumpuk dan tentu memikirkan Bumi juga.
“Baik, Ma. Biar Senja yang mengantarkannya saja.”
“Makasih ya, Sayang. Kalau begitu Mama tunggu di bawah.”
***
Senja pun sampai di rumah Adrian dengan membawa sup buatan ibunya.
“Nona Senja, ayo masuk Nona,” sapa salah seorang asisten rumah tangga disana dengan ramah.
“Iya, Bi. Om Adrian dan Tante Tari ada di rumah?” tanya Senja sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
“Ada, Nona. Tuan dan Nyonya ada di atas. Sepertinya mereka.....”
Praaaannggggg.
Senja dan asisten rumah tangga itu terkejut dan spontan menoleh ke atas tempat sumber suara pecahan kaca yang dibanting itu berbunyi.
Senja langsung teringat perkataan Nesya yang mengatakan bahwa orang tuanya sering bertengkar.
Apa mungkin mereka sedang bertengkar? Tanya Senja dalam hati.
“Bi, tolong bawa sup ini ke dapur!” kata Senja lalu memberikan sup di tangannya.
“Nona, mau kemana?” tanya Bibi setelah menerima sup itu. Wajah Bibi terlihat cemas. Ia takut kalau Senja memergoki majikannya sedang bertengkar.
“Aku mau ke atas,” jawab Senja dengan cepat.
“Jangan, Nona! Sebaiknya Nona tidak usah ke atas.”
Bibi tak menjawab. Matanya beralih ke kiri ke kanan mencari jawaban apa yang tepat agar dapat menahan Senja untuk tidak ke atas.
“Aku akan tetap ke atas,” ucap Senja lagi lalu pergi melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke lantai atas. Ia tidak mempedulikan Bibi yang memanggilnya lagi agar tidak naik ke atas.
Suara yang tadi Senja dengar ternyata berasal dari ruang kerja milik Adrian yang pintunya tidak tertutup sempurna. Semakin dekat ke arah ruangan itu, Senja makin mendengar jelas suara perdebatan Adrian dan Tari.
“Sampai kapanpun aku tidak sudi wanita ja-lang itu menjadi istrimu! Dan aku juga tidak sudi menganggap anak haram itu sebagai anggota keluarga kita!” teriak Tari.
“Hentikan ucapanmu!” bentak Adrian.
Tangannya sudah terangkat hampir menampar Tari, tapi suara Senja dari depan pintu menghentikannya.
“Om Adrian!” teriak Senja dengan mata terbelalak. Paman yang selalu lemah lembut di depannya itu sudah berubah total di matanya. Bahkan kalau Senja terlambat sedikit saja, mungkin Tari sudah menerima tamparan di wajahnya.
Adrian langsung menarik tangannya. Baik dirinya maupun Tari tidak menyangka kalau Senja akan memergoki mereka yang sedang bertengkar.
“Jadi benar apa yang dibilang Kak Nesya? Om dan Tante selalu bertengkar karena Om sudah menikahi wanita lain di luar sana?” tanya Senja sambil melangkah masuk mendekati mereka.
“Nesya?” gumam Adrian.
Mereka berdua kembali terkejut. Aib rumah tangga yang selama ini mereka simpan rapat-rapat tetap tercium juga busuknya.
“Ya. Kak Nesya sudah cerita semuanya. Tapi Senja tidak percaya, Om. Senja tetap bersikeras mengingkari itu karena Senja tau Om tidak mungkin mengkhianati Tante Tari dan Kak Nesya, keluarga Om sendiri. Tapi yang barusan Senja lihat sudah membuktikan semuanya. Om jahat! Ternyata Om bukan seperti yang Senja kenal!” teriak Senja dengan penuh kekecewaan.
Senja kini bahkan sudah menangis saking kesal terhadap paman tersayangnya itu. Ia benar-benar kecewa saat apa yang Nesya bilang adalah sebuah kenyataan.
Adrian membeku dengan perkataan Senja. Ia sadar, Senja pasti kecewa padanya. Senja bahkan tak pernah berteriak padanya sebelum ini. Ia sudah berusaha menutupi keretakan rumah tangganya, tapi akhirnya tetap ketahuan juga.
“Senja, Om punya alasan tersendiri kenapa ini semua bisa terjadi,” jawab Adrian.
“Alasan? Tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan seorang suami memukuli istrinya sendiri, Om. Om jahat! Om sudah menyakiti Tante Tari dan Kak Nesya selama bertahun-tahun! Senja kecewa sama Om! Senja tidak sudi punya paman seperti Om lagi!”
“Kau tidak mengerti keadaannya, Senja! Semua terjadi begitu saja. Dan Om terjebak dalam situasi ini selama bertahun-tahun. Kalau boleh Om memutar waktu kembali, Om juga tidak mau membuat kesalahan fatal dalam hidup Om.” Adrian mencoba untuk menjelaskan keadaannya pada Senja.
“Menikahi wanita lain dan mengkhianati keluarga sendiri jelas kesalahan fatal, Om!”
“Om tidak sengaja melakukannya!” kata Adrian dengan cepat.
“Apa maksud, Om?”
Bersambung.......