
Sudah beberapa hari ini Senja tidak melihat matahari terbenam di pantai. Rasanya ia sangat merindukan suasana itu. Apalagi hatinya kini sedang gundah gulana. Ia tengah berperang dengan hatinya untuk menghapus nama Bumi dari sana.
Senja mengendarai mobilnya, berencana akan pergi ke pantai. Saat mobil itu keluar dari gerbang perusahaan, tak sengaja berpapasan dengan mobil Dimas. Dimas pun segera mengikuti kemana arah mobil Senja pergi.
Sesampainya di pantai, Senja duduk di ujung jembatan tak berpagar itu. Ia mengayun-ayunkan kakinya yang terjuntai ke bawah.
Pilu. Itulah yang dirasakan Senja saat ini. Ia tak mengerti mengapa hatinya terasa sangat pilu ketika menyadari bahwa ia harus melupakan Bumi, pria yang sudah berhasil menduduki hatinya.
“Bumi...terlalu sulit untuk kita bersama,” lirih Senja.
Senja menghela nafas dengan berat. Ia teringat kembali saat-saat pertama kali ia bertemu Bumi. Dia tak bisa pungkiri, pria itu sudah menarik perhatiannya sejak awal bertemu. Setiap saat bersama Bumi adalah kebahagiaan terbaru yang pernah ia rasakan.
Kemudian ia teringat kembali, ini sudah hampir satu bulan dari pertemuan keluarga besar Dirgantara dan Wijaya. Itu artinya baik Bumi maupun Nesya akan memutuskan kemana arah hubungan perjodohan mereka.
Ah, memikirkan itu membuat hatinya semakin pilu saja. Mereka sudah dijodohkan sejak lama. Dia tak boleh menjadi orang ketiga di antara mereka. Lihatlah rumah tangga pamannya, rusak karena hadirnya orang ketiga. Apa kali ini harus terulang kembali karena kehadiran dirinya? Tidak! Senja tak akan tega.
Di tengah pemikirannya, terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Senja melebarkan matanya. Dia yakin itu pasti suara langkah kaki Bumi. Haruskah dia bersikap biasa saja seperti sebelumnya? Atau ia harus segera pergi meninggalkan tempat itu untuk menghindar dari Bumi?
“Senja...” sapa suara di belakangnya.
Eh? Suaranya berbeda.
Senja menoleh pria yang sudah berada di sampingnya itu. Ternyata itu adalah Dimas.
“Kau? Kenapa kau ada disini?” tanya Senja.
“Kalau aku bilang aku mengikutimu, kira-kira kau marah tidak?”
“Kau mengikutiku?” tanya Senja yang diangguki oleh Dimas.
“Maaf kalau kau tidak suka. Bolehkah aku duduk di sebelahmu.”
“Terserah kau saja. Pantai ini bukan milikku.”
Dimas tau Senja kesal padanya. Tapi dia tetap saja duduk di sebelah Senja.
“Senja, kau baik-baik saja?” tanya Dimas khawatir.
Senja mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Ia tetap melihat ke depan.
“Tidak. Aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja,” sanggah Dimas.
Senja balas menatap Dimas, ia pun kembali mengangguk. “Aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tidak setiap hari suasana hatiku harus selalu baik bukan?”
“Lalu apa yang membuat suasana hatimu tidak baik? Kau bisa berbagi cerita padaku. Mungkin aku tidak bisa membantumu menjadi lebih baik, tapi dengan bercerita padaku, aku yakin kau akan sedikit lebih lega,” bujuk Dimas.
Senja menggeleng. “Tidak, aku tidak apa-apa.”
“Apa seseorang menyakiti hatimu?” tebak Dimas.
Senja kembali menggelengkan kepalanya. “Bukan orang lain yang menyakiti hatiku. Tapi akulah yang menyakiti hatiku sendiri.”
Aku menyakiti hatiku sendiri dengan jatuh cinta pada orang yang salah. Tambah Senja dalam hati.
Tanpa bisa ditahan, airmata Senja lolos begitu saja. Membuat Dimas semakin khawatir pada dirinya.
“Hei, tenanglah. Sekarang ada aku disini bersamamu.” Dimas berusaha menenangkan Senja dan meraihnya dalam dekapannya. Ia mengusap-usap punggung Senja agar gadis itu menjadi lebih tenang.
Senja yang saat itu sedang rapuh hanya diam saja seraya menangis dalam dekapan Dimas.
Tapi siapa sangka dari ujung jembatan, ada sepasang mata yang menatap kecewa pada dua orang yang terlihat sedang berpelukan itu. Bumi yang baru tiba disana, harus menelan kekecewaan yang menyakitkan.
Niat hati ingin melepas rindu pada Senja yang sudah lama tak ia temui, malah berakhir dengan melihat Senja berada dalam dekapan saudara sambungnya sendiri, Dimas.
Jadi, ini yang membuatmu menghindar dariku, Senja?