
Drrttt drrrt.
Handphone milik Senja bergetar di atas meja kerjanya. Ternyata ada panggilan dari Liliana.
“Hallo, Ma.”
“Hallo, Sayang. Apa kau sedang sibuk? Kata papamu kalian ada acara dengan client di luar perusahaan, ya?” tanya Liliana.
“Acaranya tadi siang, Ma. Sekarang kami sudah kembali ke kantor,” jawab Senja.
“Oh, kalau begitu nanti sore bisa tidak temani Mama ke butik Nesya? Mama mau mengambil pesanan tas Mama.”
“Hanya mengambil tas saja? Biar Senja saja yang ambil pulang kerja nanti, Ma.”
“Iya, hanya tinggal mengambil saja. Baiklah kalau begitu, nanti pulang kerja tolong mampir ke butiknya dulu, ya.”
“Oke, Ma. Beres. Kalau begitu Senja tutup dulu ya telfonnya. Senja masih banyak kerjaan.”
“Oke, Sayang. Selamat bekerja.”
“Bye Ma...”
***
Sore hari Senja pulang dari kantornya jam 6 petang karena ada banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dia tak lupa akan janjinya pada sang ibu untuk singgah sebentar ke butik milik Nesya untuk mengambil tas pesanan ibunya.
“Selamat datang, Nona Senja. Ada yang bisa kami bantu?” sapa karyawan butik dengan sangat ramah.
“Aku ingin mengambil tas pesanan atas nama ibuku, Liliana. Apa tasnya ada?” tanya Senja.
“Saya cek dulu sebentar ya, Nona. Nona silahkan duduk dulu sambil menunggu saya mengecek tasnya,” jawab karyawan itu dengan mempertahankan keramahannya.
“Oh, oke. Terimakasih. Ngomong-ngomong apa Kak Nesya ada di butik?”
“Nona Nesya sedang tidak di butik, Nona. Tapi ada Nyonya Tari disini. Beliau ada di ruang kerja Nona Nesya.”
“Kalau begitu, nanti tolong bawakan tasnya ke ruangan Kak Nesya saja. Aku mau bertemu Tante Tari disana.”
“Baik, Nona.”
Senja pun segera mendatangi ruang kerja Nesya. Ternyata benar disana sedang ada Tari yang sedang memeriksa laporan butik.
“Tante, boleh Senja masuk?” tanya Senja dari depan pintu.
“Hai, Sayang. Masuklah sini.”
Senja pun masuk lalu mencium pipi kiri kanan tantenya itu. Mereka duduk di sofa yang ada disana.
“Sudah lama datang?” tanya Tari.
“Barusan, Tante. Senja singgah mau ambil tas pesanan Mama. Tante kok disini? Kak Nesya mana?” tanya senja kemudian.
“Nesya sedang ada masalah sedikit dengan papanya. Jadi dia ngambek dan memutuskan untuk menginap di apartemen sementara waktu,” jawab Tari.
“Masalah? Om Adrian kenapa, Tante? Tadi siang Senja juga tidak melihatnya di acara salah satu rekan bisnis keluarga,” tanya Senja lagi.
Jelas saja dia tidak disana, Senja. Karena dia sedang bersenang-senang dengan selingkuhannya dan anak mereka. Batin Tari.
“Om Adrian sedang ada kerjaan di luar kota beberapa hari. Makanya selama Om Adrianmu tidak di rumah, Nesya juga tidak pulang ke rumah,” jawab Tari.
“Berarti Tante sendiri di rumah? Ada masalah apa antara Kak Nesya dan Om Adrian, Tante? Biar Senja bantu mencarikan jalan keluar.” Senja yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi pada keluarganya sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
“Tante tidak bisa jelaskan. Sebaiknya kau tanyakan saja pada Nesya langsung.”
“Ke apartemen Kak Nesya?”
Tari mengangguk. Lalu ia beranjak mengambil tasnya dan mengambil kartu akses untuk masuk ke apartemen Nesya.
“Ini kartu akses untuk masuk ke apartemen Nesya. Kalau kau mau, kau bisa kesana langsung. Nanti passwordnya akan Tante kirim lewat handphone.”
“Baik, Tante. Senja akan coba kesana. Tante yang sabar, ya. Semua akan baik-baik saja.”
“Terimakasih, Sayang.”
Senja pun memeluk Tari. Hangat. Itu yang dirasakan Tari saat Senja memeluknya. Anak satu ini memang memiliki aura yang sangat positif. Tak heran suaminya, Adrian, bahkan lebih sayang padanya dibandingkan anak kandungnya sendiri, Nesya.
Setelah mengambil tas pesanan ibunya, Senja pun berencana kembali langsung ke rumah. Tapi ketika di tengah jalan, entah kenapa hati Senja tergelitik untuk segera mengunjungi apartemen Nesya.
Dilihatnya jam tangan yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul 7.15 malam. Rasanya masih sempat untuk Senja mendatangi apartemen Nesya. Senja pun memutarkan mobilnya menuju ke apartemen Nesya.
***
“Apa aku telfon Kak Nesya dulu, ya? Atau aku langsung saja masuk ke apartemennya? Tapi nanti kalau aku telfon duluan, bisa saja kak Nesya tidak mau menemuiku. Sebaiknya aku langsung masuk saja. Toh, Tante Tari sudah memberi ijin,” kata Senja yang saat ini sudah berada tepat di depan pintu apartemen Senja.
Senja menempelkan kartu akses dan menekan password yang sudah diberikan Tari. Pintu apartemen pun dibuka oleh Senja. Setelah masuk ke dalam, Senja kembali menutup rapat pintu apartemen tersebut.
“Sepi sekali,” gumam Senja.
Suasana apartemen terlihat sangat hening. Hanya satu lampu yang dinyalakan di ruang tengah. Tapi ada yang menarik perhatian Senja saat berada di ruang tengah apartemen itu.
“Ini kan....jas laki-laki,” gumam Senja saat melihat ada jas seorang pria yang tergeletak di sofa.
Senja mengambil jas tersebut dan membolak-baliknya. “Jas ini seperti......”
Sekilas ingatan Senja kembali saat dimana ia melihat seseorang mengenakan jas berwarna abu-abu yang sedang dipegangnya saat itu.
“Marcel? Ini seperti jas yang Marcel pakai tadi siang. Apa jangan-jangan.........”
Bersambung.....
Wahhh...makin panas....akankah hubungan terlarang antara Nesya dan Marcel segera terbongkar? Jangan lupa like, comment, dan vote ya 🤗 Terimakasih 💙