
Matanya menatap tajam pada dua insan yang tampak romantis makan malam berdua. Mereka tampak tak canggung untuk saling bercerita dan tertawa bersama. Saat makan malam bersamanya dulu, Senja lebih banyak diam dan tampak canggung. Tapi sekarang saat bersama Dimas, ia tampak lebih luwes dan bahagia.
Bumi memejamkan matanya sebentar sambil menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia berusaha menetralkan emosi yang hendak meluap dari dalam dirinya. Cemburu? Jangan ditanya! Kalau tak mengingat nama baik keluarganya, mungkin Dimas sudah diseretnya agar menjauh dari Senja. Ya, Bumi memang selalu berusaha menjaga nama baik keluarganya. Ia tak mau melakukan hal bodoh yang dapat mencoreng nama keluarga.
Makin lama berada disana membuat darahnya semakin mendidih saja. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
Begitu mobil Bumi keluar dari restoran, mobil Viona pun tiba di parkiran. Ternyata Senja dan Dimas tidak hanya berencana makan berdua saja malam itu. Tapi mereka juga mengajak Viona untuk makan malam bersama sama halnya dengan tadi siang.
Tadi siang mereka juga makan siang bertiga di salah satu restoran. Viona pergi dengan mobilnya sendiri sementara Senja dijemput oleh Dimas karena ia tak membawa mobil ke kantornya. Sayangnya saat mereka bertiga, Bumi tak melihatnya. Bumi hanya melihat Senja diantar oleh Dimas saja, sehingga ia berasumsi mereka makan siang berdua sama seperti malam ini.
“Maaf aku terlambat,” ucap Viona lalu duduk di sebelah Senja.
“Tidak apa-apa. Kita juga baru sampai kok,” sahut Senja.
“Kau terlambat terus. Tadi siang terlambat, sekarang terlambat juga. Apa itu hobimu?” tanya Dimas sembari meledek Viona.
“Kau sendiri apa hobimu menyindir orang terus? Aku kan sudah bilang maaf. Rumahku paling jauh di antara rumah kalian,” balas Viona.
“Ya sudah, pindah ke rumahku saja nanti, biar dekat. Jadi kau tidak terlambat lagi,” kata Dimas sambil terkekeh.
“Apa Tuan Dirgantara lagi buka lowongan anak angkat?” tanya Viona.
“Tidak. Beliau lagi buka lowongan mencari menantu,” jawab Dimas.
“Itu sih maumu!” ucap Viona.
“Kau tidak mau jadi menantu keluarga Dirgantara?” tanya Dimas pula.
“Ya maulah kalau sama Tuan Bumi Langit Dirgantara,” jawab Viona dengan cepat.
“Hei, aku juga anak Tuan Dirgantara!” sela Dimas.
“Iya, sih. Tapi aku tidak mau sama dirimu. Mending sama kakakmu. Orangnya cool, pendiam, berwibawa dan yang pasti tidak kepo sepertimu,” ejek Viona.
“Ha ha ha ha. Kau tidak tau saja bagaimana rasanya berbicara tapi tidak diladeni olehnya,” balas Dimas sambil tertawa.
“Kau kepo sih! Dia pun malas meladenimu terus.”
“Kau juga kepo!”
“Aku kan perempuan, ya wajar saja.”
“Makanya kau bukan tipenya, tapi tipeku. Ha ha ha ha,” seloroh Dimas sambil tertawa.
“Ih, malas!”
Bukannya tersinggung, Dimas malah makin kencang tertawa saat melihat Viona semakin kesal padanya.
“Sudah, sudah! Kalian seperti anak kecil saja. Mau makan atau mau perang kata-kata? Ayo cepat makan, nanti kita bisa pulang terlambat kalau kalian berdebat terus,” kata Senja menengahi keduanya. Barulah mereka bertiga mulai makan dengan tenang.
Saat pulang, seperti tadi siang Dimas mengantar Senja ke rumahnya. Ketika Senja mau turun dari mobil, Dimas malah menahannya.
"Ada apa?" tanya Senja sambil mengerutkan keningnya.
"Hmmm...Viona temanmu itu sudah ada pacarnya belum?" tanya Dimas malu-malu.
"Kau suka padanya, ya?" tanya Senja secara terang-terangan.
"Sepertinya begitu," jawab Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Senja pun terkekeh melihat tingkah Dimas yang terkesan malu-malu itu. Biasanya pria itu selalu blak-blakan dan tak tau malu. Tapi saat membicarakan tentang Viona, ia malah tampak salah tingkah.
"Dia masih jomblo. Kau ada peluang mendapatkan hatinya."
"Benarkah?" tanya Dimas dengan wajah berbinar.
Senja pun mengangguk. "Tapi kurang-kurangi kepomu itu. Lelaki idamannya seperti kakakmu."
"Cih, apa istimewanya Kak Bumi. Dia paling hanya pintar berbisnis saja. Wajahnya lumayan lah tampan, tapi aku tampan juga kok kata ibuku. Dia tidak pandai merayu wanita, kalo aku tentu bisa," kata Dimas membanggakan dirinya.
"Terkadang wanita itu tidak butuh rayuan," ucap Senja.
"Jadi butuh apa?" sela Dimas.
"Butuh duitlah. Rayuan saja tidak bikin kenyang. Makanya kakakmu lebih banyak peminatnya," jawab Senja.
"Termasuk dirimu kan?" Dimas keceplosan.
Raut wajah Senja langsung berubah seketika. Jika membahas tentang Bumi, hatinya mendadak rindu dan pilu dalam satu waktu.
"Eh, maaf, ya. Aku tidak bermaksud membuatmu mengingatnya," ucap Dimas tak enak hati.
Senja pun berusaha senyum agar Dimas tak merasa bersalah. "Santai saja. Aku tidak apa-apa. Ya sudah, terimakasih sudah mengantarku pulang. Saranku, kalau memang kau menyukai Viona, langsung katakan padanya secepatnya. Dia juga banyak yang naksir loh."
"Tenang saja! Dalam waktu dekat aku akan menyatakan perasaanku padanya," sahut Dimas.
"Baguslah. Ya sudah. Aku turun dulu. Hati-hati di jalan."
"Oke. Bye Senja."
"Bye..."
Senja pun keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah setelah mobil Dimas pergi dari sana.
.
Bersambung...