Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
80. Cinta Pertama Senja


Di sebuah kamar di kediaman Tuan Andika, terdengar isak tangis yang mengharukan dari seorang gadis. Saat semua orang dapat terlelap dengan bahagia malam ini karena permasalahan mereka sudah selesai, kini tinggallah dirinya seorang diri yang masih tersedu menangisi nasib cintanya yang harus ia kubur dalam-dalam.


Adalah Senja yang kini kian pupus harapannya untuk bersama Bumi. Karena Nesya sudah mendeklarasikan cintanya langsung kepada pria itu. Apakah ini salah dia sendiri terlalu cepat melabuhkan hati pada seorang pria yang menjadi jodoh sepupunya? Tapi bukannya cinta itu rasa alami yang muncul begitu saja? Salahkah jika Senja mencintai Buminya?


Andika yang masih merasa janggal atas kesedihan Senja tadi merasa gelisah dan susah tidur malam ini. Perlahan ia beranjak dari tempat tidurnya agar tak membangunkan sang istri yang sedang terlelap. Andika lalu keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar putrinya.


Andika membuka pintu kamar putrinya yang tak terkunci itu dengan perlahan. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di kamar Senja. Ia pikir Senja sudah tertidur, jadi ia masuk dengan perlahan karena tak mau mengganggu istirahat putrinya. Tapi kemudian ia terkejut saat ia mulai masuk ke dalam kamar. Ada suara isak tangis yang ikut memilukan hatinya.


Senja menangis? Tanya Andika dalam hati dengan perasaan penuh cemas. Tak pernah sebelumnya Andika mendengar putrinya menangis seperti itu saat sudah beranjak dewasa. Sebagai seorang ayah, tentu Andika sangat khawatir dan ingin mengetahui apa penyebabnya.


Senja yang duduk bersandar di atas tempat tidurnya sambil menelungkupkan wajah pada bantal yang ia peluk, tak sadar bahwa ayahnya saat ini sudah berdiri tepat di samping tempat tidurnya.


Andika pun ikut duduk di samping Senja dan mengusap pelan rambut anaknya sehingga membuat Senja tersentak dan mengangkat kepalanya.


“Papa?” gumam Senja dengan suara seraknya. Matanya terlihat memerah begitupun dengan hidungnya. Wajahnya sudah basah karena airmata. Entah sudah berapa lama dia menangis seperti itu.


“Sayang, kau menangis?” Tanya Andika lalu menarik Senja dalam pelukannya.


“Kau kenapa, Sayang? Ceritakan pada Papa apa yang membuatmu menangis seperti ini. Bukankah Papa selalu bilang berkali-kali padamu, Papa selalu ada kapanpun kau butuhkan,” kata Andika lagi sambil mengusap-usap punggung anaknya untuk memberikan ketenangan.


Senja yang ditanya seperti itu bingung harus menjawab apa. Tapi saat ini ia juga tak mungkin bisa mengelak lagi dari pertanyaan ayahnya. Senja kian memeluk ayahnya dengan erat. Ayahnya pun balas memeluk Senja lebih erat lagi.


“Senja, jujurlah pada Papa ada apa sebenarnya? Biarkan Papa mendengar tentangmu dari mulutmu sendiri. Papa tidak akan bisa tenang kalau anak Papa bersedih seperti ini, Nak,” bujuk Andika lagi.


“Apa ini ada hubungannya dengan Bumi?” tanya Andika secara terang-terangan.


Andika melerai pelukannya lalu meminta Senja duduk menghadapnya. Ia ingin anak gadisnya itu menceritakan semua yang selama ini ia pendam sendiri.


“Benarkan ini ada hubungannya dengan Bumi?” Ulang Andika lagi.


Senja yang ditodong seperti itu akhirnya menyerah dan mengangguk membenarkan pertanyaan ayahnya.


“Pa...apa Papa masih ingat dulu waktu Senja bercerita tentang pria yang sering menolong Senja? Pria yang selalu ingin Senja temui setiap hari, pria yang Senja harap akan menjadi jodoh Senja, Papa ingat itu?” tanya Senja yang diangguki oleh Andika.


Deg.


Andika tertegun mendengar jawaban Senja. Ia bisa menerka betapa rumitnya kenyataan yang harus Senja hadapi ketika mencintai calon suami sepupunya sendiri.


“Kau mencintainya?” tanya Andika ingin memastikan.


“Iya, Pa. Senja mencintai Bumi. Sejak pertama bertemu dengannya, Senja rasa Senja sudah mulai mencintainya. Rasa cinta itu makin lama makin besar setiap kali kami bertemu kembali. Sayangnya...saat itu Senja sama sekali tidak tau kalau dia adalah pria yang dijodohkan untuk Kak Nesya. Senja tidak bisa bohong lagi, Senja memang mencintainya. Tapi...Senja juga harus sadar diri kalau semesta menciptakan Bumi bukan untuk Senja,” jawab Senja dengan lirih.


“Lalu bagaimana ke depannya, apa kau akan tetap mencintainya? Sedangkan di satu sisi kau tau dia adalah tunangan sepupumu saat ini,” tanya Andika.


Senja menyeka airmatanya. Ia berdehem beberapa kali untuk menenangkan dirinya.


“Apa Papa mau membantu Senja?” tanya Senja tiba-tiba.


“Apapun akan Papa lakukan untukmu, Senja. Apapun itu asal bisa membuatmu tidak menangis lagi, maka akan Papa lakukan,” jawab Andika dengan sungguh-sungguh sambil menggenggam erat tangan anaknya.


“Bantu Senja menjauh dari Bumi, Pa. Senja tidak mau ada urusan bisnis dengan dia lagi, Pa. Tolong Papa lanjutkan kerjasama yang sudah terlanjur Senja jalankan bersama Bumi. Sebisa mungkin bantu Senja agar tidak bertemu lagi dengan dia,” jawab Senja dengan berat hati.


“Hanya itu?” tanya Andika yang diangguki oleh Senja. “Baiklah, jika hanya itu yang putri Papa ini minta, maka Papa akan melakukannya. Papa akan membantumu sebisa Papa agar tidak berhubungan sama sekali dengan Bumi.”


“Terimakasih, Pa. Papa Senja memang yang terbaik,” ucap Senja lalu kembali masuk ke dalam pelukan sang ayah.


Andika memeluk anak gadisnya dengan erat. Dari mulai Senja lahir ia selalu berusaha memenuhi apapun keinginan yang putrinya itu inginkan. Tapi siapa sangka setelah dewasa putrinya memiliki keinginan yang tak dapat ia penuhi. Namun ia bangga pada Senja yang ikhlas menyadari kalau apa yang diinginkan belum tentu bisa dimiliki.


Senja, Papa bangga memiliki anak yang berhati tulus sepertimu. Papa tau betapa terlukanya hatimu saat ini. Mungkin memang yang kau butuhkan adalah memeluk Bumi, pria yang saat ini kau cintai, tapi jangan lupa Nak, tetap Papalah yang menjadi cinta pertamamu yang selalu setia padamu, Cahaya Senjaku.


.


Bersambung malam yaaa...