Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
114. Jujur Pada Andika


Adrian duduk termenung melihat Nesya yang tengah tertidur di atas tempat tidurnya. Hatinya merasa sedih melihat anaknya menjadi seperti itu. Tidur dalam keadaan tangan dirantai karena jika tidak begitu, ia akan mengamuk dan merusak semua yang ada di sekitarnya.


Nesya sudah dibawa pulang ke rumah oleh Adrian setelah dari apartemen Marcel. Adrian bahkan sudah mendatangkan seorang psikiater untuk memeriksanya, tapi kondisi Nesya malah semakin menjadi. Dia bahkan sempat mengira psikiater itu adalah Senja dan ia hampir saja melukai psikiater itu.


Adrian merasa sangat bersalah menjadi seorang ayah. Ada penyesalan yang sangat dalam di benaknya. Mungkin ini adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu yang mengabaikan keluarganya. Nesya saat itu masih kecil, tapi ia sudah kekurangan kasih sayang dan perhatian kedua orang tuanya. Sehingga ia tumbuh dalam pergaulan bebas dan sulit dirubah. Jika kebiasaan sudah mendarah daging, maka merubahnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan saja.


Tak lama suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Seorang pelayan mengabari bahwa Andika sudah tiba di rumahnya. Ia sengaja meminta Andika datang ke rumahnya untuk menceritakan semua yang terjadi. Daripada Andika tau dari orang lain, lebih baik kakaknya itu tau dari mulutnya sendiri. Meskipun ia harus menelan pil pahit nantinya, tapi ia tetap memilih untuk jujur pada Andika. Adrian pun turun ke bawah untuk menemui Andika.


“Hal apa yang membuatmu sampai memintaku kesini? Dan tadi di telfon kau bilang ada hubungannya dengan Senja? Katakan padaku, ada apa sebenarnya?” tanya Andika penasaran. Ia sengaja datang kesana sendirian tanpa Liliana.


“Mas, sebelumnya aku mau minta maaf sebesar-besarnya atas nama anakku, Nesya. Meskipun aku rasa maaf saja tak cukup untuk mengobati apa yang telah terjadi,” jawab Adrian dengan takut-takut.


“Nesya? Kenapa dia? Maaf kenapa?” Andika makin penasaran.


Adrian menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Meskipun jantungnya sudah berdegup kencang karena takut mendapat amukan kemarahan dari Andika, tapi ia tetap akan jujur pada kakaknya itu.


“Sebenarnya saat malam dimana Senja pergi keluar rumah, dia pergi karena Nesya memintanya datang ke sebuah hotel menyusulnya. Saat itu... Nesya... dia... berencana menjebak Senja. Semua ini karena kecemburuan Nesya saat tau Senja ternyata memiliki hubungan dengan Bumi. Karena itu.......”


“Mana Nesya?!” tanya Andika sambil berdiri dengan penuh emosi.


“Katakan padaku dimana dia sekarang!” bentak Andika lagi.


“Dia ada di kamar, Mas. Dia....”


Belum sempat Adrian bicara, Andika sudah lebih dulu pergi naik ke atas dan menuju ke kamar Nesya. Darahnya langsung mendidih mendengar Nesya sudah berencana untuk menjebak Nesya. Baru mendengar itu saja Andika sudah marah bukan main, bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi. Tak tau lah bagaimana nasib Nesya nanti.


“Nesya! Nesya!” teriak Andika lalu membuka pintu kamar Nesya dengan kasar.


Nesya tersentak dari tidurnya saat mendengar suara pintu dibuka kasar. Ia langsung duduk meringkuk di atas tempat tidurnya dengan ketakutan.


Andika menghampiri Nesya dan hendak menariknya, tapi Andika terkejut saat melihat kedua tangan Nesya dirantai.


Deg.


Andika menarik tangannya kembali lalu menoleh pada Adrian yang sudah menyusulnya berdiri di sebelahnya.


“Apa ini? Kenapa tangannya dirantai?” tanya Andika yang terkejut melihat itu.


Andika sudah berpikir yang macam-macam. Apa mungkin Nesya sudah disiksa oleh Adrian atau bagaimana sampai harus dirantai seperti itu. Ditambah lagi Nesya tampak duduk meringkuk ketakutan.


“Nesya...dia...dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan, Mas,” jawab Adrian dengan suara bergetar menahan sesak di dadanya.


Deg.


Lagi-lagi Andika terkejut mendengar perkataan Adrian. Ia kembali melihat ke arah keponakannya itu. Nesya memang tampak jauh berbeda dari biasanya.


“Tidak. Tidak mungkin. Kalian pasti mengada-ngada!” sangkal Andika.


Lalu ia mendekati Nesya dan meminta Nesya melihat ke arahnya sambil memegang lengan Nesya.


“Nesya, kau tidak gila kan? Kau pura-pura gila setelah kau berencana membuat Senja celaka kan? Iya kan? Jawab Om, Nesya! Jawab!” bentak Andika.


“Tapi karena perbuatanmu Senja koma di rumah sakit! Kau sepupunya tapi kau tega berbuat seperti itu padanya!” hardik Andika.


“Senja...Senja....” lirih Nesya.


Tak lama Nesya tertawa sekencang-kencangnya. “Ha..ha..ha..ha..Senja koma? Kenapa tidak mati saja? Ha..ha..ha..ha...Bumiku, aku mencintaimu. Kenapa kau malah memilih Senja? Senja sudah koma, kau denganku saja ya. Mau ya Bumi? Mau ya?” ucap Nesya sambil mendekati Andika seolah Andika adalah Bumi.


Andika terkejut lalu mendorong Nesya ke belakang. Keponakannya itu bertingkah seperti orang tidak waras. Karena didorong oleh Andika, Nesya tiba-tiba berubah marah tak tentu arah.


“Kenapa Bumi? Kenapa kau mendorongku? Apa kurangnya aku di matamu? Aku mencintaimu, Bumi! Aku mencintaimu!” teriak Nesya sekuat hati.


Andika menjauh dari ranjang dan meraup wajahnya dengan kasar. Ia hampir stress dihadapkan pada kenyataan seperti ini. Sudahlah anaknya koma, sekarang keponakannya malah gila. Lalu apa yang harus ia lakukan?


“Mas...aku benar-benar minta maaf atas perbuatan Nesya. Aku mengaku lalai dalam mendidik dan mengawasinya. Apapun keputusan Mas, aku dan keluarga akan tetap terima,” ucap Adrian yang merasa sangat bersalah.


Andika berbalik menatap Adrian dengan penuh kilatan kemarahan. Ia tentu masih tidak bisa terima Senja sampai harus koma karena perbuatan anaknya.


“Kalau memang dia sudah tidak waras, maka tempatkan dia pada tempat yang seharusnya!” jawab Andika tanpa belas kasih.


Adrian terdiam sejenak. Ia sebenarnya berat mengirimkan anak kandung satu-satunya ke Rumah Sakit Jiwa, tapi ini adalah konsekuensi yang harus ia terima. Nesya pun semakin hari semakin tak terkendali. Mau tak mau Adrian terpaksa menyetujui permintaan Andika.


“Baik, Mas. Akan aku lakukan. Tapi sekali lagi, aku dan keluarga mohon maaf sebesar-besarnya atas perbuatan Nesya terhadap Senja,” ucap Adrian dengan tulus.


Andika tak menjawab lagi, ia langsung pergi meninggalkan rumah Adrian dengan penuh kekecewaan.


Setelah Andika pergi, Tari pun masuk ke kamar Nesya dan duduk di sofa di samping suaminya yang sedang duduk terdiam menatap Nesya.


“Mas, bagaimana dengan Mas Andika?” tanya Tari dengan cemas.


“Mas Andika sangat kecewa. Dia minta Nesya masuk ke Rumah Sakit Jiwa.”


“Tidak! Aku tidak mau, Mas! Nesya anak kita satu-satunya,” bantah Tari yang sudah mulai mengeluarkan airmata.


Adrian menoleh pada Tari. “Senja juga anak mereka satu-satunya. Bahkan kondisinya saat ini jauh lebih menyedihkan lagi, dia bahkan harus berjuang mempertahankan nyawanya saat ini,” jawab Adrian yang membuat Tari tak mampu membantah suaminya lagi.


Sementara Nesya, ia kembali duduk meringkuk di atas ranjangnya dengan tangan yang dirantai. Sudah hilang segala keangkuhan dalam dirinya. Yang ada hanya jiwa yang tak tau kemana arahnya.


***


Di tempat lain ada Jefri yang baru saja memberikan informasi pada Tuan Dirgantara tentang fakta kecelakaan Senja. Senja diduga kecelakaan saat berkendara sambil menyetir. Dan saat itu ia sedang menerima panggilan dari Nesya. Tuan Dirgantara tampak sangat murka. Wanita itu lagi-lagi mencari masalah dengan keluarganya.


“Pastikan dia berada di tempat yang seharusnya! Jangan beri celah sedikitpun dia keluar dari sana!” titah Tuan Dirgantara.


“Baik, Tuan,” sahut Jefri dengan patuh.


.


Bersambung...