Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
23. Pertemuan Marcel dan Nesya


Di sebuah club malam terbesar di kota itu, terdengar suara musik berdentum yang menyemarakkan keramaian disana. Banyak sepasang pria dan wanita yang menggerakkan badan mereka di lantai dansa untuk menikmati musik yang kuat itu.


Ada juga yang sekedar duduk untuk mengobrol atau sekedar menikmati minuman disana. Semua sibuk dengan kesenangannya masing-masing.


Di depan meja bar tampak seorang pria berwajah blasteran sedang menikmati segelas minuman bening yang cukup memabukkan. Dari tadi beberapa wanita berpakaian kurang bahan berusaha untuk mendekatinya bahkan rela menjadi teman kencannya malam ini, tapi sayang semua ditolaknya.


Ia meneguk minuman di tangannya sambil melihat-lihat pemandangan di club itu. Matanya sesekali mengarah ke pintu masuk club. Sepertinya ada sosok yang sedang ia tunggu.


Glek. Minuman di gelasnya sudah habis. Ia memanggil seorang bartender lalu meminta pria itu untuk mengisi gelasnya lagi dengan minuman yang sama.


“Sepertinya kau sudah lama menungguku sampai gelas pertamamu sudah habis,” ucap salah seorang wanita di belakangnya yang baru saja sampai dan menghampirinya.  


Pria itu menoleh ke sumber suara. Benar, itu wanita yang ditunggunya sedari tadi. Matanya menjelajah sang wanita di depannya dari bawah hingga ke atas. Nyaris sempurna. Dengan dress tali spaghetti berwarna hitam berbahan satin yang melekat di tubuhnya, wanita itu tampak sangat menarik. Belum lagi bagian dadanya yang sedikit menyembul dikarenakan potongan bajunya yang rendah, membuat pria di depannya menarik sudut bibirnya membuat senyuman menyeringai.


“Untuk seorang wanita cantik dan seksi sepertimu, aku bahkan rela menunggumu sampai pagi, Nona Nesya,” ucap pria itu dengan menggoda.


“Kau tidak berubah ternyata. Kau selalu pintar bermulut manis di depan semua wanita, Tuan Marcel,” balas wanita di depannya tak kalah menggoda.


Ya, mereka adalah Nesya dan Marcel. Mereka sudah cukup lama saling kenal sejak Nesya pergi berlibur ke Amerika dan tak sengaja bertemu Marcel di salah satu club malam disana. Sejak itulah mereka saling kenal bahkan sudah pernah menghabiskan malam bersama beberapa kali. Tapi di antara mereka tidak ada ikatan apapun, mereka melakukannya hanya atas dasar saling senang, tidak lebih.


Nesya meraih minuman yang berada di tangan Marcel. Memutar-mutar minuman itu dengan lembut lalu meneguknya. Ia sengaja berusaha menggoda Marcel dengan gerakannya.


“Benarkah aku selalu bermulut manis?” tanya Marcel dengan tatapan mata yang tak lepas dari Nesya.


“Ya, tentu saja,” jawab Nesya sambil meneguk kembali minuman di gelas tadi.


“Bagaimana kau bisa tau aku selalu bermulut manis, Nona Nesya?” tanya Marcel mulai memancing suasana.


Nesya mendekat lalu berbisik ke telinga Marcel. “Tentu aku tau karena aku sudah pernah pernah merasakan manisnya.” Setelah mengatakan itu Nesya meniup sedikit telinga Marcel sehingga membuat pria itu merinding seketika.


“Itu dulu, sudah lama sekali,” ucap Marcel berusaha tenang.


“Benarkah? Akan ku buktikan sendiri kalau begitu,” ucap Nesya lalu mengecup bibir Marcel dengan sangat lembut hingga beberapa detik.


“Benar kan, masih manis seperti dulu,” ujar Nesya yang membuat Marcel panas dingin.


“Kau memang beda!” puji Marcel.


Mereka yang sudah sama-sama termakan godaan satu sama lain, langsung meninggalkan club malam itu dan menuju ke apartemen Nesya yang letaknya tak jauh dari Club itu.


"Kenapa tidak di apartemenku saja?" tanya Marcel saat memasuki kamar apartemen milik Nesya.


"Apartemenmu terlalu jauh, Sayang. Aku sudah tidak tahan lagi," jawab Nesya sambil melepaskan kancing kemeja Marcel satu per satu.


"Woaaaa...kau nakal sekali! Kau tidak sabaran rupanya," seru Marcel melihat sikap Nesya yang sangat agresif itu. Tapi jujur, dia sangat menyukainya.


"Aku tidak munafik. Aku memang tidak sabaran. Dan aku yakin kau juga begitu kan?" tanya Nesya.


"Bohong kalau aku tidak menginginkanmu juga, Baby. I really want you now," jawab Marcel lalu mendorong Nesya hingga terjatuh di atas tempat tidur.


Dan disanalah mereka saling menuntaskan hasrat mereka sampai keduanya mencapai titik kepuasan yang mereka inginkan.


“Sama seperti dulu bukan?” kata Nesya yang kini berbaring di lengan Marcel tanpa mengenakan busana apapun begitu juga dengan Marcel. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka saat ini.


Marcel mengangguk. “Ya, sama seperti dulu. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah hampir dua tahun tidak pernah ada komunikasi di antara kita,” jawab Marcel.


“Itulah namanya takdir. Lagipula belakangan ini aku sangat sibuk sekali dengan butik milikku,” ucap Nesya. 


“Kau punya butik? Bahkan aku tidak tau soal itu.”


“Kau kan hanya tau soal ranjang. Kau mana tau soal begituan,” ledek Nesya sambil terkekeh.


“Ya...tapi setidaknya aku sekarang juga tau soal perusahaan semenjak ayahku memaksaku mengurusi perusahaannya. Dan aku kesini sebenarnya karena urusan itu,” ucap Marcel.


“Oh ya? Perusahaanmu bergerak di bidang apa? Kenapa tidak bekerjasama dengan perusahaan Wijaya saja?” tanya Nesya.


Marcel terdiam sejenak. Ia seperti pernah mendengar nama itu. Lalu ia teringat akan Senja yang ia temui siang tadi. Yang dia tau, itu adalah perusahaan keluarga Senja.


“Wijaya? Dari mana kau tau perusahaan itu?” kata Marcel balik bertanya.


“Tentu saja aku tau. Itu perusahaan kakek ku. Aku ini putri keluarga Wijaya,” jawab Nesya.


Marcel terkejut lalu mengubah posisinya menghadap Nesya.


“Kau putri keluarga Wijaya?” tanya Marcel yang diangguki oleh Nesya.


Marcel tak langsung percaya. Mereka sudah saling mengenal cukup lama. Tapi Marcel tidak pernah tau Nesya adalah keturunan keluarga Wijaya. “Tidak mungkin. Itu tidak mungkin,” sangkal Marcel. 


“Apanya yang tidak mungkin? Aku anak Adrian Wijaya, anak bungsu dari kakekku. Ayahku mengurus salah satu perusahaan cabang kakekku. Kalau perusahaan pusat memang diurus oleh Om ku, Andika Wijaya, anak pertama kakek. Aku memang tidak tertarik mengurus perusahaan keluargaku, aku lebih suka mengurus butik. Tapi ada anak Om Andika yang ikut mengurus perusahaan pusat," jelas Nesya panjang lebar.  


“Siapa?” tanya Marcel penasaran.


“Senja. Cahaya Senja Wijaya. Dia sepupuku. Dulu dia kuliah di Amerika. Sekarang dia sudah pulang kesini dan ikut mengurus perusahaan keluarga. Dia memang suka berbisnis, tidak seperti ku. Dulu waktu kuliah juga dia ambil jurusan bisnis," jawab Nesya dengan jujur.


Marcel langsung terbelalak mendengar nama Senja disebutkan. Dia yakin benar, Senja yang dimaksud Nesya adalah Senja yang ia kenal. Betapa sempitnya dunia ini. Ternyata wanita yang di depannya ini masih ada hubungan keluarga dengan Senja.


Tidak. Senja tidak boleh tau kalau aku dan Nesya sering berhubungan seperti ini. Bisa gawat kalau dia sampai tau. Rencanaku untuk mendapatkan hatinya bisa gagal.  


Bersambung...


***


Hai semua 🤗


Kalau kalian suka novel ini, jangan lupa like dan vite ya, serta jadikan favorit agar penulis semakin semangat update-nya 😊


Terimakasih 💙