
“Arkaaaannnn.........”
Dooorrrrrrrrr!
“Tidaaakkkkkkkk.....!” teriak Sonya dengan histeris saat melihat putranya terjatuh di lantai.
“Arkaaaannnn....” Alan pun ikut berteriak dan melepaskan Senja lalu langsung berlari ke arah Arkan untuk segera menolong putranya itu. Sonya pun dengan terseok-seok pergi mendekati putranya semata wayangnya.
Melihat kejadian di depan matanya, Jefri, sang pelaku hanya menarik sudut bibirnya karena berhasil membodohi mereka. Jefri tentu saja tidak menembak Arkan. Ia melepaskan tembakannya pada benda lain seraya mendorong Arkan dengan kuat hingga terjatuh ke lantai. Kesannya seperti Arkan jatuh tergeletak karena mendapat tembakan darinya. Padahal tidak ada setetes pun darah yang mengalir dari tubuh remaja laki-laki itu.
Sementara itu, Bumi mengambil kesempatan itu untuk menghampiri Senja dan melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya serta lakban di mulutnya.
“Errgghhhhhhh...” Senja tampak mulai sadar dan meringis karena merasakan sakit di bagian tengkuknya.
“Senja, kau sudah sadar? Hm?” tanya Bumi dengan lembut sambil merapikan rambut Senja yang menutupi sebagian wajahnya.
“Leher belakangku sakit,” keluh Senja yang belum sadar sepenuhnya. Ia bahkan tidak menyadari bahwa saat ini ia sedang berada di pangkuan Bumi.
“Aku akan membawamu ke dokter sekarang. Tenanglah. Kau aman sekarang,” kata Bumi menenangkan Senja.
“Aman?” gumam Senja.
Senja pun mulai sadar sepenuhnya. Ia langsung terkejut saat berada di pangkuan Bumi. Perlahan ia baru mengingat kejadian sebelum pingsan tadi dimana ia sedang mengintai Sonya kemudian ia merasa ada yang memukulnya dari belakang.
“Kau? Mengapa kau ada disini? Kita ada dimana sekarang?” tanya Senja dengan panik.
“Tenanglah, kau aman. Aku tau kau memata-matai wanita bernama Sonya yang menjadi istri kedua pamanmu kan? Tadi kau disekap disini. Tapi semua sudah aman,” jawab Bumi.
“Bagaimana kau tau aku memata-matainya? Apa kau mengikutiku? Kenapa kau bisa datang di saat yang tepat?” tanya Senja bertubi-tubi. Padahal tubuhnya masih terasa lemas, tapi mulutnya masih kuat untuk banyak bicara.
“Kenapa kau masih bertanya lagi? Jawabannya sudah jelas karena aku malaikat pelindungmu,” jawab Bumi yang membuat hati Senja tersentuh.
Senja terdiam sambil menatap mata Bumi dengan lekat. Ada kesungguhan saat Bumi mengatakan itu padanya. Rasa bahagia dengan serta merta menjalar di hatinya, tapi rasa bersalah juga ikut menghampirinya. Pria di depannya ini kini sudah berstatus sebagai tunangan sepupunya.
"Om Adrian..."
"Kita bicarakan nanti. Sekarang lebih baik kita pergi dari sini," potong Bumi sambil membantu Senja berdiri.
Pukulan Alan sepertinya cukup keras, Senja masih merasa nyeri akibat pukulannya. Melihat Senja yang masih meringis menahan sakit, akhirnya Bumi langsung menggendong Senja.
"Eh, tidak perlu menggendongku. Aku bisa jalan sendiri," protes Senja. Ia makin tak enak hati kalau Bumi memperlakukannya terlalu berlebihan seperti itu.
Bumi tak menjawab. Ia tak mau mendengarkan perkataan Senja dan tetap menggendong gadis itu.
***
Di luar sana Alan dan Sonya yang tadinya menangis histeris karena mengira anaknya sudah tertembak tiba-tiba terkejut melihat anaknya baik-baik saja. Tak ada sedikitpun luka atau darah yang berceceran disana.
“Mom...” lirih Arkan dengan suara ketakutan.
“Arkan, kamu... kamu tidak apa-apa, Nak?” tanya Sonya sambil memeriksa kepala Arkan dan menolehkan wajah anaknya ke kiri dan kanan.
“Kamu tidak tertembak?” tanya Sonya lagi dengan khawatir.
Arkan pun menggeleng. Ia merasa tidak terkena tembakan apapun. Hanya saja dia tau tadi Jefri mendorongnya. Sonya pun langsung memeluk Arkan dengan erat seolah takut terpisah dengan anak kesayangannya.
“Brengsek!” umpat Alan pada Jefri.
Jefri hanya tersenyum menyeringai lalu mengarahkan kembali pis-tolnya ke arah mereka bertiga.
“Kau tau kan ini ada pelurunya? Jangan sampai peluru ini benar-benar bersarang di kepala salah satu dari kalian!” ancam Jefri penuh intimidasi.
Baru saja Alan hendak membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba Bumi keluar dari gudang sambil menggendong Senja.
“Jef, urus mereka!” titah Bumi lalu pergi begitu saja.
“Siap, Tuan!”
Setelah kepergian Bumi ada beberapa orang berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumah dan langsung memborgol tangan Alan dan Sonya. Lagi-lagi mereka terkejut dibuatnya. Mereka tak menyangka, kekuasaan Tuan Muda Dirgantara tak bisa dianggap remeh oleh mereka. Kini mereka hanya bisa terduduk lesu menunggu hukuman apa yang akan mereka dapatkan.
“To-tolong lepaskan Mommy dan Daddy ku...” pinta Arkan sambil menangis memeluk lengan ibunya.
“Sabar, anak manis. Kita tunggu sampai kejutan untuk Mommy dan Daddy mu sampai sebentar lagi,” sahut Jefri dengan senyum mengejek menatap Alan dan Sonya bergantian.
Jantung Sonya sudah berdegup kencang tak karuan. Wajahnya berubah pucat menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya bisa pasrah menunggu kejutan yang dikatakan Jefri untuk mereka. Begitupun dengan Alan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya rahasia yang mereka simpan rapat-rapat akan terbongkar begitu saja, dan semua ini berawal dari anak Andika, Senja.
***
Saat ini Bumi sudah membawa Senja masuk ke dalam mobilnya. Bumi berencana membawa Senja pergi dulu dari rumah itu, biar Jefri yang mengurus Alan dan Sonya nanti.
“Bumi, aku rasa aku baik-baik saja. Tidak perlu seperti ini,” kata Senja yang merasa canggung saat Bumi menyandarkan kepalanya di dada bidang milik pria itu. Lagipula saat ini di dalam mobil tidak hanya ada mereka berdua, tapi juga sudah ada seorang supir pengganti Jefri.
“Leher belakangmu masih sakit kan? Biarkan saja tetap seperti ini,” ucap Bumi yang masih memaksa Senja tetap pada posisinya. Bahkan saat ini ia sengaja menahan kepala Senja dengan tangannya agar tak berpindah posisi.
“Sudah tidak sakit lagi,” bantah Senja.
“Tetap diam seperti ini, Senja,” ucap Bumi yang masih mengalah. "Apa tadi dia memukulmu dengan sangat keras? Dia memukulmu dengan apa?" tanya Bumi yang masih khawatir pada keadaan Senja.
“Cukup keras sampai membuatku pingsan. Tapi saat ini aku sudah tidak apa-apa kok. Tidak perlu begini, aku tidak nyaman seperti ini,” protes Senja lagi sambil mendongak melihat Bumi.
“Kau selalu nyaman di pelukanku,” ucap Bumi sambil melihat sekilas ke arah Senja lalu kembali melihat ke depan.
Iya sih, pelukanmu terasa hangat. Eh, tidak, tidak! Tidak boleh seperti ini! Dia akan jadi kakak iparku! Dia ini selalu seenaknya begini! Batin Senja.
“Bumi...”
“Senja...”
“Lepaskan aku!”
“Tidak!”
“Bumi...”
“Senja, jangan paksa aku mendiamkanmu dengan cara lain!” ancam Bumi sambil menatap Senja dengan serius.
“Kau pikir aku takut? Aku tidak hmpphhh........”
Bersambung...