
Adrian yang baru akan keluar bersama Tari tiba-tiba mendapat telepon dari Marcel. Adrian pun segera menjawab telepon itu karena takut ada hal penting yang ingin disampaikan.
“Hallo. Ada apa, Marcel?” tanya Adrian to the point.
“Maaf, Tuan. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Apa Tuan bisa ke apartemen saya sekarang? Nesya disini bersama saya,” jawab Marcel yang membuat Adrian merasa keheranan.
“Kalian ada di apartemenmu? Ada masalah apa? Kami baru akan pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Senja,” tanya Adrian lagi.
“Saya tidak bisa menjelaskannya di telfon, Tuan. Saya harap Tuan bisa kesini secepatnya. Ini menyangkut kecelakaan yang dialami Senja. Saya akan kirim alamat apartemen saya sekarang.”
“Baiklah, baiklah. Kami akan segera menyusul ke apartemenmu. Kirim alamatnya sekarang.”
“Baik, Tuan.”
Adrian mendadak gelisah seketika. Kenapa Marcel bilang ini ada kaitannya dengan kecelakaan Senja?
“Kenapa Marcel tiba-tiba menelfon? Apa terjadi sesuatu pada Nesya?” tanya Tari.
“Aku tidak tau. Yang jelas Marcel meminta kita untuk ke apartemennya sekarang,” jawab Adrian.
“Tapi kenapa?” Tari mulai penasaran.
“Aku juga belum tau. Ayo kita ke apartemen Marcel sekarang!”
Berbekal alamat yang sudah dikirim Marcel padanya, Adrian dan Tari pergi menuju apartemen Marcel.
Sementara itu di apartemen Marcel, Nesya terpaksa dibawa Marcel masuk ke kamarnya. Pasalnya tadi Nesya sempat mengamuk dan membanting barang-barang yang ada di ruang depan. Ia terus meracau memaki-maki Senja karena rencananya tidak berjalan dengan baik.
“Aku tidak gila! Biarkan aku keluar! Aku mau pergi dari sini!” teriak Nesya.
“Oke, kau tidak gila. Tapi kau terus mengamuk. Aku tidak akan membiarkanmu merusak apartemenku. Sebaiknya kau disini dulu, Nesya. Tenangkan dirimu dulu!” Marcel berusaha membujuk Nesya.
“Kenapa kau minta aku tenang? Aku ini baik-baik saja, Marcel. Biarkan aku pergi!” teriak Nesya lagi.
“Nesya, dengarkan aku! Di luar hujan deras. Bahaya kalau kau keluar saat hujan seperti ini. Please, tunggu disini sebentar!” bujuk Marcel lagi.
Barulah Nesya terdiam dan duduk di tepi ranjang. Saat ini wajahnya sudah berubah sedih lagi.
“Kau...apa kau merindukanku, Marcel?” tanya Nesya tiba-tiba.
Marcel mendekat ke arah Nesya dan duduk di samping wanita itu.
“Nesya, tentu saja aku selalu rindu padamu. Karena aku rindu, kau disini dulu, ya. Istirahatlah dulu disini,” jawab Marcel mencoba menenangkan Nesya.
“Apa kau menginginkanku saat ini? Aku sangat menginginkanmu, Marcel,” tanya Nesya sambil mengalungkan tangannya ke leher Marcel.
“Nesya, kau istirahatlah dulu. Aku akan buatkan minuman hangat untukmu.” Marcel mencoba menurunkan tangan Nesya dari lehernya tapi wanita itu malah semakin mengeratkan tangannya.
“Kenapa kau menghindar dariku? Apa kau takut ketahuan Senja? Atau... kau takut kita ketahuan oleh Bumi lagi? Tenang saja, Senja sudah mati. Dia tidak akan mengadu lagi pada Bumi. Dia sudah kecelakaan, Marcel. Dia sudah mati. Ha..ha..ha..ha...”
Nesya mulai bertingkah seperti orang gila lagi. Marcel pun dengan cepat menjauhkan dirinya dari Nesya sehingga wanita itu yang tadinya tertawa terbahak memasang wajah sedihnya lagi.
“Kenapa Marcel? Kenapa kau juga menghindariku? Kenapa kau juga menjauh dariku? Kenapa tidak ada seorang pun yang mencintaiku?” tanya Nesya sambil menangis tiba-tiba.
Tak lama suara bel apartemennya pun berbunyi. Marcel yakin itu pasti Adrian dan Tari. Ia pun meninggalkan Nesya dan membukakan pintu apartemen.
“Apa yang terjadi? Mana Nesya? Kenapa kau meminta kami kesini?” tanya Adrian saat sudah masuk ke apartemen.
“Nesya ada di kamar, Tuan. Saya terpaksa menguncinya di dalam karena tadi dia mengamuk disini. Lihatlah, semua ini berantakan karena ulahnya,” jawab Marcel dengan jujur.
Adrian dan Tari melihat sekeliling ruangan itu. Memang berantakan bahkan ada beberapa pecahan barang disana.
“Kalian bertengkar? Apa yang terjadi?” tanya Tari.
Marcel pun akhirnya bercerita jujur pada mereka. Tak mungkin ia menutupi lagi perbuatan Nesya. Marcel menceritakan semua dari awal. Dari pertama Nesya dan dirinya tertangkap basah sedang berhubungan oleh Bumi, Bumi yang mencintai Senja, sampai rencana jahat Nesya untuk menjebak Senja di sebuah hotel. Semua Marcel ceritakan di awal tanpa ada yang ditutup-tutupi. Terakhir, Marcel juga menceritakan tentang perubahan sikap Nesya yang seperti orang kehilangan akal sehat ya. Karena itulah Nesya dikuncinya di dalam kamar.
Adrian dan Tari seolah tak percaya mendengar penuturan dari Marcel. Ternyata banyak sekali hal yang mereka berdua tidak tau tentang putrinya. Tari menangis mendengarkan cerita Marcel. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu yang baik untuk anaknya.
“Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya,” tanya Adrian dengan suara yang melemah.
“Ada di kamar. Ayo, biar saya antar.”
Marcel pun mengantar Adrian dan Tari menuju ke kamar tempat Nesya berada. Saat masuk ke kamar, mereka mendapati Nesya sedang berbaring di atas ranjang. Ketika melihat kedua orang tuanya, Nesya cepat-cepat duduk dengan wajah takut.
“Papa? Mama? Aku tidak melakukan apa-apa dengan, Marcel,” ucap Nesya dengan ekspresi ketakutan.
Adrian mendekat dan duduk di ranjang lalu memegang tangan anaknya.
“Nesya, kau baik-baik saja kan?” tanya Adrian dengan pelan.
Nesya pun mengangguk dengan cepat.
“Nesya, sepupumu, Senja, saat ini sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan. Apa benar sebelum dia mengalami kecelakaan, kau yang memintanya untuk pergi ke sebuah hotel?” tanya Adrian lagi dengan suara yang masih lembut.
Mendengar nama Senja disebut, Nesya langsung menarik tangannya yang dipegang Adrian. Wajahnya yang tadi takut langsung berubah penuh kebencian.
“Kenapa Papa juga selalu memikirkan Senja? Kenapa Papa selalu membandingkan aku dan dia? Aku benci pada Senja, Papa! Aku benci! Biarkan saja dia kecelakaan! Biarkan dia mati supaya tidak ada yang menganggu aku dan Bumi!” teriak Nesya tiba-tiba.
Tari ikut mendekat pada Nesya untuk berusaha membujuknya.
“Nesya, sadarlah, Sayang. Senja itu sepupumu. Kau kenapa jadi seperti ini, Nak?” ucap Tari yang sudah hampir menangis.
“Aku benci Senja, Ma! Dia mengambil kebahagiaan kita! Dia mengambil Bumi! Aku benci dia. Biarkan saja dia mati. Ha..ha..ha..ha... Dia memang sepantasnya mati! Ha..ha..ha..ha...” Nesya malah tertawa sekencang-kencangnya.
Tari pun tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia mendekati suaminya yang bengong melihat anak mereka.
“Pa, Nesya butuh psikiater, Pa. Kita harus cepat menangani, Nesya. Mama tidak mau sampai Nesya kebablasan dan makin hilang akal sehatnya,” pinta Tari.
“Iya, Ma. Papa juga tidak pernah menyangka Nesya akan jadi seperti ini. Bahkan Papa tidak pernah menyangka dia penyebab kecelakaan Senja. Lalu apa yang nanti Papa harus sampaikan pada Mas Andika?”
Ada rasa sedih dan khawatir bercampur jadi satu dalam hati Adrian. Dia sedih karena anak semata wayangnya tiba-tiba hilang akal. Namun ia juga khawatir kalau sampai Andika tau Nesya penyebab Senja kecelakaan, apa kira-kira nanti yang akan Andika lakukan?
.
Bersambung...