
Drrrt drrttt drrrt drrttt.
Handphone Jefri yang terletak di atas mejanya bergetar saat menerima beberapa pesan dari seseorang. Jefri yang saat itu sedang berada di ruang kerjanya langsung memeriksa pesan masuk itu.
Itu adalah pesan dari anak buah Bumi yang lain yang ditugaskan untuk memata-matai Nesya. Ada beberapa pesan berupa foto-foto saat Nesya dan Marcel bertemu di restoran tadi.
Ini kan baju yang tadi Nona Nesya pakai? Berarti saat ini dia sedang bersama pria yang bernama Marcel. Gumam Jefri dalam hati.
Selain itu ada juga pesan suara yang masuk ke dalam handphone-nya. Jefri pun segera mendengarkan apa isi pesan suara itu.
“Aku...jadi merindukanmu kalau kau seperti itu.”
“Kau menginginkanku?”
“Tidak ada salahnya sekali-sekali mencoba apartemenku.”
“Baiklah, kita lihat weekend nanti.”
Jefri mendengus mendengar pesan suara itu. Ia dapat mengenali kalau suara itu adalah suara Nesya dan Marcel. Jangan ditanya seberapa jijiknya Jefri saat mendengar rekaman suara itu. Sangat tak pantas sekali seorang putri dari keturunan keluarga Wijaya bersikap seperti itu pada pria lain yang bukan tunangannya sendiri.
Anak buahnya memang tak dapat mengirim rekaman video dikarenakan jarak mejanya dan meja Nesya sangat dekat. Karena itu ia hanya mendapat bukti rekaman suara dan foto saja. Tapi itu saja sudah cukup membuktikan bahwa ada hubungan tersembunyi antara mereka berdua.
Ternyata kau lebih buruk dari yang aku pikirkan, Nona Nesya. Tuan Bumi harus tau tentang ini. Pria baik dan terhormat sepertinya sangat tidak pantas berjodoh denganmu. Umpat Jefri dalam hati.
Jefri tak mau buang-buang waktu lagi. Hal ini harus ia sampaikan sesegera mungkin pada Bumi. Ia pun segera pergi ke ruangan bosnya itu. Saking bersemangat ingin memberitahu bagaimana sifat asli Nesya pada Bumi, Jefri sampai lupa mengetuk pintu dulu sebelum masuk.
“Tuan, saya sudah mendapat in...fo...”
Jefri melihat ke kiri ke kanan, bosnya sedang tidak ada di ruangan itu.
“Loh, kemana perginya?” tanya Jefri pada dirinya sendiri.
Jefri pun mengecek ke toilet yang ada di ruangan itu, tapi bosnya tidak ada disana. Ia mengecek lagi ke ruangan yang biasa digunakan untuk Bumi beristirahat, pun tetap tidak ada.
“Kemana Tuan Bumi? Apa dia sedang makan di luar? Tapi kunci mobil kan ada padaku?” gumam Jefri sendirian. Tak biasanya tuannya itu pergi tanpa memberi kabar padanya.
Akhirnya Jefri pun mengambil handphone-nya dan mencoba menelepon Bumi hingga berkali-kali. Tapi sayang yang ditelepon tak kunjung ada jawaban.
Kemana Tuan Bumi?
Jefri pun mencari Bumi di tempat lain di kantor itu. Tapi yang dicari belum juga ketemu. Jefri pun turun ke lantai bawah untuk bertanya pada resepsionis disana.
"Apa tadi kau ada melihat Tuan Bumi?"
"Ada, Tuan. Tuan Bumi keluar kantor. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Beliau tidak memakai mobilnya sendiri. Sepertinya beliau meminjam mobil karyawan lain."
Jefri mengerutkan keningnya mendengar jawaban itu. Apa yang terjadi pada bosnya sampai harus keluar tidak dengan mobil sendiri?
Sementara itu yang dicari sedang berada di sebuah mobil yang ia pinjam dari salah satu karyawan di kantornya. Mobil biasa yang tak dapat dikatakan mewah sama sekali. Alasan Bumi memakai mobil itu adalah supaya tak ada yang tau kalau ia tengah memperhatikan Senja dari jauh. Bumi yang terus memikirkan Senja berusaha untuk mencari tau apakah saat ini Senja dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.
Saat tiba di belokan yang mengarah ke kantor Senja, mobilnya malah berpapasan dengan mobil yang sangat ia kenali. Itu adalah mobil Dimas, adiknya. Bumi cukup terkejut saat mobil Dimas berada disana. Ia sempat berpikir pasti Dimas bersama Senja saat itu, tapi ia berusaha untuk menepis prasangkanya.
Sampai akhirnya dari depan gerbang kantor Senja, Bumi dapat melihat dengan jelas mobil Dimas masuk ke dalam dan menurunkan seseorang tepat di pintu utama gedung itu. Barulah Bumi percaya Dimas memang sedang mengantar Senja. Apakah mereka baru saja makan siang berdua? Kemungkinan besar memang begitu karena saat itu adalah jam makan siang.
Senja tampak keluar dari mobil Dimas lalu melambaikan tangannya ke arah mobil sambil tersenyum manis. Senyum yang sudah beberapa hari ini sangat dirindukan oleh Bumi.
"Terimakasih. Hati-hati di jalan."
Begitulah kira-kira yang diucapkan Senja pada Dimas disertai dengan senyumannya.
Hati Bumi terasa terenyuh. Ia ingin merasa iri tapi dia sadar Senja hanya seseorang yang ia cintai dalam diam. Cinta yang di depan mata tapi sulit untuk didapatkan. Bahkan makin hari makin sulit didekati karena ayahnya sendiri sudah memasang pagar pembatas yang melarang Bumi untuk mendekati Senja. Ya, Bumi mengerti dari sikap Andika padanya, pria itu sedang melindungi anak gadisnya agar tak didekati oleh Bumi lagi.
Cemburu? Sudah pasti. Sakit hati? Jangan ditanya lagi. Semua itu terpaksa ia tanggung sendiri. Saat ini ia tak bisa berbuat banyak lagi. Cukup dengan memperhatikan Senjanya dari jauh saja, sudah membuatnya merasa cukup. Ia hanya memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Senja dalam keadaan baik-baik saja. Baginya cintanya saat ini tak terbalas tak apa-apa. Yang penting gadis yang dicintainya itu hidup dengan bahagia meskipun tak bersamanya. Terdengar aneh dan membingungkan, tapi itulah Bumi yang tau diri bahwa saat ini ia sudah menjadi tunangan orang lain.
Tak ingin Dimas memergoki dirinya sedang berada disana, Bumi pun segera menjalankan mobil yang ia bawa kembali ke kantornya.
Bumi kembali ke kantornya dengan wajah tak bermaya. Ia masuk ke ruangannya dan kembali membuka laptopnya, berusaha untuk menyibukkan diri agar dapat meredam rasa cemburu di hatinya.
Sedangkan Jefri yang tau bosnya sudah kembali, langsung datang ke ruangan Bumi untuk memberitahukan tentang informasi yang ia dapat tadi.
“Tuan, saya ingin memberitahu tentang....”
Bumi langsung mengangkat satu tangannya meminta Jefri tak melanjutkan lagi. Saat ini ia butuh untuk menyendiri.
“Tapi ini penting, Tuan. Ini....”
Jefri berhenti lagi saat mendengar Bumi mendengus kasar.
“Tuan, saya...”
Kali tatapan tajam nan menakutkan sudah dilayangkan Bumi padanya. Sekali lagi berbicara, mungkin ia bisa langsung ditendang keluar dari perusahaan itu.
Sabar, Jef. Sabar. Sesekali durhaka demi kebaikannya sendiri tak apa-apa. Jefri berusaha mengumpulkan keberaniannya dulu sebelum kembali berbicara.
“Saya mendapatkan bukti perselingkuhan Nona Nesya dan Marcel, Tuan,” ucap Jefri dengan cepat bahkan setengah berteriak.
Mendengar perkataan Jefri barusan membuat Bumi sontak berdiri dari duduknya. Sedangkan Jefri mundur selangkah mengambil ancang-ancang kalau memang benar ia akan ditendang.
“Berikan padaku bukti perselingkuhan mereka!”
.
Bersambung ...