Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
115. 30 Hari Berlalu


Tiga puluh hari telah berlalu, pria itu tetap setia menunggu tanpa kenal waktu. Hanya duduk, diam lalu sesekali berbicara pada raga yang tak mampu menjawabnya. Tapi ia masih setia menunggu. Menunggu mata itu kembali terbuka dan menatapnya lekat dengan penuh cinta.


“Senja, kau sudah lama sekali tidur. Apa kau tidak lelah tidur terus menerus? Apa kau tidak rindu melihat matahari terbenam bersamaku? Aku rindu saat-saat itu. Aku rindu setiap kenangan bersamamu,” ucap Bumi dengan lirih sambil mengusap punggung tangan Senja lalu mengecupnya dengan penuh hangat.


Pria itu kini sudah makin cekung saja matanya. Selalu menatap dengan sayu dan pilu. Badannya semakin kurus sehingga memperlihatkan tulang selangka dekat leher yang kian menonjol. Jangan tanyakan kemana perut sixpack-nya. Perut itu sudah rata karena hanya sedikit sekali makanan yang masuk ke dalamnya.


Selama tiga puluh hari Senja koma, selama itu pula lah ia berhenti mempedulikan dirinya sendiri. Lihatlah rambut di sekitar rahang dan dagu yang sudah mulai lebat, rambut di kepalanya juga tak kalah lebat tak beraturan. Untuk menyisir rambut sendiri saja ia selalu lupa. Bahkan sering kali Tuan Dirgantara yang memaksa menyisir rambutnya jika ayahnya itu berkunjung ke rumah sakit.


Tiap kali menyisir rambut Bumi, ayahnya selalu ingat kembali saat Bumi kecil dulu. Saat dimana Bumi kehilangan sang ibu, ayahnya lah yang sering menyisir rambut Bumi sebelum ia pergi sekolah karena Bumi tak mau diurus oleh orang lain selain ayahnya sendiri. Dan kini, orang tuanya itu harus kembali mengurus anaknya lagi di masa-masa seperti ini.


Tak lama Jefri masuk ke ruangan itu dan menghampiri Bumi dengan sebuah berkas dan tas berisi makanan di tangannya. Itu adalah berkas tentang perkembangan pembangunan rumah sakit sesuai dengan keinginan Senja.


“Tuan, saya membawa berkas perkembangan pembangunan rumah sakit, Tuan. Apa Tuan ingin melihatnya?” tanya Jefri pada bosnya itu.


“Letakkan saja di atas meja, nanti aku periksa,” jawab Bumi tanpa mengalihkan pandangannya pada Senja.


“Baik, Tuan. Saya juga membawa makanan yang dimasak langsung oleh Nyonya Vero. Kata Nyonya, Tuan sangat suka dengan makanan ini,” kata Jefri mencoba membujuk Bumi untuk makan.


“Letakkan juga di atas meja,” ucap Bumi lagi.


“Tuan, sebaiknya Tuan....”


“Senja sedang istirahat. Jangan mengganggu istirahatnya. Dia pasti sangat lelah, karena itu dia tidur sangat lama. Nanti saja bicaranya. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya,” sambung Bumi dengan menatap sendu Senjanya.


Jefri merasa hatinya bedenyut hebat saat itu. Ia sedih melihat sisi lain dari tuannya yang sudah sebulan ini hanya berdiam diri menunggu kekasih yang dicintainya membuka mata.


Jefri pun akhirnya membungkukkan badannya sekilas sebelum keluar dari ruangan itu. Barang-barang yang dibawanya tentu sudah ia letakkan di atas meja terlebih dahulu.


Saat keluar dari sana, Jefri pun duduk menenangkan dirinya di kursi yang ada di depan ruangan itu. Ia menunduk dan memijit pangkal hidungnya untuk menahan airmatanya. Ia tak kuasa menahan rasa sedihnya melihat Bumi menjadi seperti itu. Sebegitu besarnya cinta Bumi pada Senjanya sampai membuat Bumi kehilangan semangat untuk melanjutkan hidupnya.


Cinta...kau membuat mereka tersenyum tanpa alasan tapi kau juga membuat mereka merana dengan sekelip mata. Batin Jefri saat mengingat kembali bagaimana tuannya sebelum ini saat bersama Senja.


.


Bersambung...


.


Yuk bantu vote yuk biar Senja cepat sadar dari koma ☺✌