
Bumi dan Senja tampak seperti sepasang pangeran dan permaisuri saat duduk di kursi pelaminan. Raut kebahagiaan menghiasi wajah keduanya. Sesekali mereka tampak mengobrol dan bersenda gurau bersama. Bumi yang biasanya selalu berwajah datar dan hanya diam kini sangat berbeda di hari pernikahannya. Senyum di wajahnya tak kunjung surut dari tadi. Apalagi saat memandangi wajah cantik sang istri di sampingnya, ia terlihat begitu bahagia. Matanya hampir tak lepas memandangi wajah Senja, wajah selalu berhasil menarik perhatiannya.
Tak hanya kedua mempelai, keluarga mereka juga tampak begitu bahagia. Akhirnya anak-anak mereka bisa bersama membina bahtera rumah tangga.
“Mama lega sekali melihat mereka akhirnya bisa menikah,” bisik Liliana pada suaminya.
“Papa juga, Ma. Papa sangat bahagia melihat mereka bahagia. Tapi awas saja kalau Bumi macam-macam pada Senja, Papa orang pertama yang akan meng.....awwh....sakit, Ma.”
Belum selesai bicara, Liliana sudah mencubit suaminya sehingga suaminya meringis kesakitan.
“Papa sih, anaknya Baru menikah sudah mau mengancam saja. Jangan terlalu posesif, Pa. Senja sudah menjadi seorang istri sekarang,” omel Liliana.
“Kan aku Papanya, wajar dong Papa posesif sama anak sendiri.” Andika masih cemburu juga pada menantunya.
“Tapi Bumi sudah menjadi suaminya. Bumi juga sangat mencintai Senja. Jadi, Papa harus berlapang hati melepaskan anak kesayangan kita pada suaminya,” ucap Liliana yang membuat Andika merasa terharu.
Putri semata wayangnya kini sudah berstatus sebagai istri orang. Rasanya ia masih menginginkan Senja terus bersamanya seperti Senja kecil dulu. Tapi itu tentu tak mungkin. Senja sudah dewasa dan akan tinggal bersama suaminya.
“Papa jangan sedih, kalau Papa rindu Senja, kita masih bisa mengunjunginya,” bujuk Liliana.
“Rumah pasti sepi tanpa Senja. Ma, kalau kita.....”
“Kita apa?”
“Kita kasih adik untuk Senja bagaimana?”
“Hush!” Liliana menepuk lengan suaminya. “Sudah mau punya cucu, malah minta bikin adik untuk Senja,” ucap Liliana sambil mengerucutkan bibirnya.
Andika pun terkekeh dengan response dari istrinya itu. Ia pun tak serius, hanya sekedar menggoda istrinya saja.
Sementara itu di sisi lain ada sang asisten dari Tuan Muda Dirgantara, Jefri, tengah memandangi seorang gadis yang sedang berjaga di stand kopi. Lagi-lagi Jefri meminta Coffee Shop Janji Kita untuk menyediakan minuman di acara pernikahan Tuan mudanya. Dan hal itu semata-mata hanya karena ia ingin melihat Jingga.
Bruk.
Tiba-tiba seseorang menabrak Jefri. Ternyata yang menabraknya adalah Dimas yang sedang menggandeng Viona. Dimas dan Viona sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Viona akhirnya luluh juga dengan Dimas karena pria itu tak menyerah untuk mendapatkan cintanya meski sebelumnya sempat ditolak oleh Viona.
“Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. Kau sih, berdiri di tengah jalan seperti ini. Oh ya, ngomong-ngomong apa kau datang sendiri? Tidak bawa pasangan?” tanya Dimas saat melihat Jefri hanya berdiri seorang diri.
“Ya, saya sendiri,” jawab Jefri singkat.
“Wah, kasihan sekali. Sekarang Kak Bumi sudah menikah, kau pasti kesepian. Mana mungkin dia mau menempel terus padamu. Carilah pasangan, Jef. Aku rasa di kantor kita banyak yang masih single. Ada Lidya staff keuangan, ada Renata staff HRD, ada juga Ema bagian resepsionis, ada Lila, Wulan, Husna, Christina, Ifa, Lita, Nina, dan masih banyak lagi. Masa tidak ada satupun yang cocok dengan seleramu?” ucap Dimas panjang lebar mengabsen satu per satu karyawan wanita di kantornya.
“Tunggu, tunggu! Kau kenapa bisa sampai hafal nama-nama karyawan perempuan di kantormu? Apa mereka semua mantanmu?” tanya Viona penuh selidik.
Wajah Dimas langsung berubah pucat. Niat hati mau meledek Jefri, ia malah terkena jebakan sendiri.
“Tidak, Sayang. Mana mungkin mantanku sebanyak itu,” jawab Dimas sambil berusaha membujuk Viona.
“Lalu kenapa kau sampai bisa menghafal nama mereka dengan baik? Aku jadi curiga padamu. Seharusnya sebelum menerima cintamu, aku harus menyelidiki dulu mantan-mantanmu!” ketus Viona lalu melepaskan gandengannya dan berjalan pergi meninggalkan Dimas.
“Sayang, tidak begitu. Sayang, tunggu....”
Dimas pun segera bergegas mengejar Viona. Jefri pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah mereka berdua.
Ia pun kembali melihat Jingga yang masih melayani beberapa tamu yang mendatangi stand-nya untuk minum kopi. Ia terus memandangi gadis itu sampai stand nya sudah mulai sepi, barulah ia mendatangi stand kopi itu.
“Silahkan dipilih kopinya, Tuan,” ucap Jingga tanpa melihat siapa yang ada di depannya.
Deg.
Jantungnya langsung berdegup kencang saat mendongakkan kepala dan melihat pria di depannya. Pria itu tampak sangat tampan hari ini dengan setelan jasnya yang rapi. Sementara dia, hanya memakai pakaian seragam yang sama dengan para pelayan lainnya. Serasa jarak mereka begitu jauh, bagaikan langit dan bumi. Bukan seperti pangeran dan permaisuri.
“Tuan, ingin minum kopi?” ulang Jingga lagi.
“Bagaimana kalau aku tidak menginginkan kopi?” Jefri malah balik bertanya.
“Hmmm...Tuan menginginkan sesuatu?” tanya Jingga lagi.
“Bagaimana jika aku menginginkan dirimu?”
Deg.
Jantung Jingga kini sudah mau melompat keluar rasanya. Ada rasa yang aneh menjalar dalam hatinya. Apakah pria di depannya ini bersungguh-sungguh mengatakan itu? Atau mungkin hanya candaan semata?
Entah kenapa tiba-tiba dia justru teringat perkataan orang tuanya beberapa waktu lalu.
“Kau sudah kami jodohkan dengan anak Pak Lurah. Keluarga mereka sudah banyak membantu kita. Kau harus menerima Bayu sebagai suamimu. Dia juga anak yang baik. Kurang apa lagi? Seharusnya kau bersyukur dia naksir denganmu. Dia juga rajin menjemputmu pulang kerja. Dia cocok untukmu.”
“Tapi bukan dia yang aku suka, Bu.”
“Halah! Suka urusan belakangan. Kalau sudah nikah nanti lama-lama juga suka.”
Jingga pun mengerjapkan matanya beberapa kali seakan baru tersadar dari lamunannya. Ia melihat Jefri masih berdiri menatapnya. Hatinya mendadak pilu saat menyadari dia memang tak pantas untuk orang kaya seperti Jefri.
“Tuan mau minum kopi panas atau dingin?” tanya Jingga mengalihkan pembicaraan.
“Jingga...aku....
Tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu tamu undangan yang mendatangi stand kopi dan Jingga pun melayani mereka. Makin lama stand kopi itu semakin ramai sehingga membuat Jefri harus pergi dari sana. Percakapan mereka pun terputus begitu saja.
***
Acara pun berjalan dengan sangat lancar dari pagi hingga ke malam. Bumi dan Senja cukup kelelahan bersalaman dengan banyak tamu yang datang, tapi mereka tetap bahagia karena banyak yang memberikan do'a restu pada mereka.
Hingga sampai ke puncak acara di malam hari, kedua pengantin diminta untuk memulai dansa. Tentu saja Bumi dengan senang hati membungkukkan sedikit badannya dan mengulurkan tangan pada Senja. Tanpa ragu Senja menyambut uluran tangan itu dan mulai berdansa bersama pria yang saat ini sudah resmi menjadi suaminya.
“Senjaku, aku rasa kau harus mulai memikirkan panggilan yang romantis untuk suamimu ini. Masa kau memanggilku Bumi saja?” ucap Bumi di saat mereka tengah berdansa.
“Kau mau aku panggil apa? Tuan Muda?” Senja sengaja menggoda suaminya.
“Berhentilah menggodaku kalau kau ingin aman di malam pertama kita nanti.”
Blushhh.
Pipi Senja merona merah saat mendengar Bumi mengucapkan malam pertama. Ia bertambah deg-degan saja rasanya membayangkan hal itu.
“Kenapa diam? Biasanya kau suka sekali meledekku. Ayo, lakukan lagi, semakin kau sering meledekku, aku malah makin senang membalasmu nanti,” tantang Bumi.
“K-kau mau membalas seperti apa?” tanya Senja takut-takut.
“Hmm...apa ya? Lihat saja nanti bagaimana. Kenapa? Kau takut?”
Bumi mengeratkan pelukannya pada Senja. “Jangan takut, Senjaku. Aku tidak akan menyakitimu karena aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu.”
Tanpa ragu Bumi pun mendekatkan wajahnya dan memagut cherry dan strawberry yang sudah lama dirindukannya.
Riuh suara tepukan tangan dari para tamu yang menyaksikan keromantisan mereka tak dipedulikannya. Ia masih terus menikmati manisnya cherry dan harumnya strawberry dari bibir istrinya.
.
Bersambung...
.
Hampir tamat...
.
Baru hampir...