Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
95. Cherry dan Strawberry


Matahari belum lagi tampak muncul dari ufuk timur. Tapi subuh ini Senja sudah lebih dulu bangun dari sang matahari setelah mendapat telepon dari Bumi. Pria itu membuatnya harus cepat-cepat bangun dan bersiap-siap untuk keluar rumah subuh-subuh buta. Tak lupa, Senja juga membawakan cake yang sudah ia siapkan untuk Bumi.


Senja tampak keluar dari rumah dengan mengendap-endap. Saat dipergoki oleh security rumahnya ketika hendak keluar gerbang, Senja mengatakan kalau dirinya ingin jogging pagi sambil menikmati udara subuh yang masih bersih dan bebas dari polusi.


Begitu Senja keluar dari gerbang rumahnya, sebuah mobil sport berwarna hitam menghampirinya. Siapa lagi yang menjemputnya kalau bukan Tuan Muda Dirgantara.


“Kau mengganggu jatah tidurku,” omel Senja saat masuk lalu duduk di kursi mobil yang bersebelahan dengan Bumi.


“Hanya sesekali,” sahut Bumi lalu mulai menjalankan mobilnya.


“Aku jarang bangun sepagi ini. Ini semua karenamu.” Senja rupanya masih lanjut mengomeli Bumi.


“Benarkah? Kenapa kita sama?” tanya Bumi.


“Apanya yang sama?” Senja balik bertanya sambil menoleh ke arah Bumi yang sedang menyetir.


“Kau juga alasanku terbangun di pagi hari,” jawab Bumi mulai menggoda Senja.


“Gombal!” ucap Senja sambil memutar bola matanya.


“Aku serius, Senja. Aku bukan gombal, hanya berkata jujur. Aku lebih semangat bangun tiap pagi hanya karena aku tidak sabar ingin melihatmu,” kata Bumi dengan serius kali ini.


Senja mengulum senyumnya mendengar perkataan dari Bumi. Pria ini selalu berhasil menggelitik hatinya. Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Selalu ingin bertemu dengan Bumi setiap hari.


“Hmmm...ngomong-ngomong ini kita mau kemana?” tanya Senja mengalihkan pembicaraan.


“Nanti juga kau akan tau,” jawab Bumi.


“Pakai rahasia-rahasiaan segala. Katakan kita mau kemana?”


“Sabar, Senja. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang bukan-bukan,” kata Bumi sambil mengacak gemas rambut Senja.


Senja pun tak bertanya lagi. Ia hanya duduk manis menunggu kemana Bumi akan membawanya.


Setelah melakukan perjalanan, mereka pun sampai di tempat tujuan.


“Loh, kenapa kau membawaku ke pantai ini?” tanya Senja kebingungan. “Mana ada matahari terbenam jam segini,” sambungnya.


“Tapi ada matahari terbit. Ayo, keluar! Aku mau tunjukkan sesuatu padamu.”


Senja pun keluar dari mobil mengikuti kemana Bumi membawanya. Bumi nenggenggam tangan Senja dengan erat dan berjalan bersama mengitari pantai. Suasana di pantai saat itu sangat sepi dan cukup dingin. Angin pagi ternyata lebih terasa sejuk dibanding sore hari.


Bumi tidak membawa Senja pada jembatan yang biasa mereka kunjungi. Ia mengajak Senja ke sisi lain pantai, tepatnya di bebatuan yang ada disana untuk menyaksikan matahari terbit. Bumi naik lebih dulu ke atas sebuah batu lalu mengulurkan tangannya pada Senja.


“Ayo, pegang tanganku!”


Senja pun menerima uluran tangan Bumi dan mengikuti langkah Bumi dengan hati-hati saat berjalan di bebatuan besar. Lalu Bumi mengajak Senja untuk duduk di salah satu batu disana.


“Lihat, mataharinya sudah terbit,” ucap Bumi sambil melihat ke arah depan.


Senja pun mengikuti arah pandang Bumi. Memang benar, matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Dunia yang tadi gelap kini berubah menjadi terang. Mereka terdiam sejenak menikmati pemandangan yang indah di depan mata.


“Caramu menatap matahari terbit dan terbenam begitu beda,” ucap Bumi memecah keheningan di antara mereka.


“Beda apanya?”


“Setiap kali melihat matahari terbenam, wajahmu tampak mendung. Kalau melihat matahari terbit, wajahmu tampak lebih bersinar. Rasanya aku ingin mengganti namamu dari Senja jadi Sunrise,” jawab Bumi sambil tersenyum.


Senja pun tertawa mendengar jawaban Bumi. Ia lalu mengubah duduknya menghadap Bumi.


“Boleh saja, tapi ijin dulu pada mamaku,” ucap Senja.


“Aku memang akan minta ijin pada mamamu, pada papamu juga. Tapi bukan soal nama, melainkan soal hubungan kita.” Kali ini Bumi tampak serius dengan ucapannya.


Bumi memegang kedua pipi Senja lalu menatap bola mata gadis di depannya dalam-dalam.


“Aku ingin melamarmu, Senja. Aku ingin meresmikan hubungan kita. Aku sudah bicara pada ayahku tentang pembatalan pertunangan antara aku dan Nesya. Tinggal dari Nesya saja lagi yang bicara pada orang tuanya. Setelah itu, aku akan langsung mendatangi kedua orang tuamu dan memintamu menjadi istriku,” jawab Bumi dengan sungguh-sungguh.


Senja tentu tertegun dengan perkataan Bumi barusan. Pria di depannya ini sedang tidak main-main dengan ucapannya. Senja tentu saja merasa sangat bahagia ketika tau pria yang dicintainya ingin membawa hubungan mereka ke dalam ikatan yang lebih serius. Tapi...ia masih saja memikirkan nasib Nesya. Ia juga memikirkan bagaimana tanggapan orang tua mereka saat tau hal ini.


“Kenapa diam saja? Tidak suka aku mau melamarmu? Aku ini pria limited edition, Senja.”


Senja pun terkekeh mendengarnya.


“Bukan. Bukan aku tidak suka. Aku tentu suka. Tapi bagaimana dengan Kak Nesya dan keluarganya soal ini?”


“Aku sudah menebak. Kau pasti memikirkannya. Kau tidak perlu khawatir soal itu. Aku sudah bicara padanya untuk menyelesaikan ini pada keluarganya.”


“Aku kasihan padanya.”


“Kau tidak kasihan padaku? Kau itu tega sekali, Senja,” ucap Bumi sambil menekan-nekan pipi Senja sehingga bibirnya mengerucut.


“Tega kenapa?” tanya Senja tak mengerti.


“Kau sudah tau bagaimana kelakuan sepupumu itu tapi kau tidak bilang padaku. Aku sudah tau semuanya. Aku tau dia pernah berhubungan dengan pria bernama Marcel. Aku ini masih original, aku juga mau dapat yang sama.”


Tadi limited edition, sekarang original.  Gumam Senja dalam hati.


“Aku hanya tidak mau mengacaukan pertunangan kalian. Maafkan aku tidak memberitahu soal itu padamu,” kata Senja dengan rasa bersalah.


“Kau terlalu baik, Senja. Aku tidak menyalahkanmu,” ucap Bumi yang masih menatap Senja dari dekat.


“Senja...”


“Ya?”


“Aku...ingin cherry dan strawberry.”


“Oh, ada di mobil. Kau mau memakannya sekarang?” tanya Senja yang berpikir maksud Bumi adalah topping di cake yang ia buat.


“Iya, aku mau sekarang. Tapi bukan yang di mobil.”


Senja mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa maksud Bumi.


“Cherry dan strawberry yang mana maksudmu?” tanya Senja dengan polos.


“Yang ini...”


Bumi pun mendekat lalu menikmati cherry dan strawberry yang ia inginkan sehingga membuat mata Senja membulat sempurna.


***


Brakkk.


Senja menutup pintu kamarnya lalu menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur. Rasanya dia bahagia sekali pagi ini. Dimulai dari melihat matahari terbit bersama, lalu berjalan menyusuri pantai, lalu sarapan pagi bersama.


Eh, jangan lupa kejadian cherry dan strawberry tadi yang membuatnya diam membeku. Meski ini sudah ciuman kedua mereka, tapi rasanya tidak berubah dari yang pertama. Tetap saja dapat membuat jantung mereka sama-sama berdegup kencang tak karuan. Senja sampai senyum-senyum sendiri mengingat hal itu.


Ia pun beranjak mengambil diary kesayangannya. Rasanya ia harus mengabadikan kejadian tadi pagi ke dalam diary nya itu. Ia pun mulai menelungkup di atas tempat tidurnya sambil menulis judul diary “Cherry dan Strawberry.”


.


Bersambung...