
“Bumi.....” teriak Senja dari ujung jembatan.
Bumi yang sudah dari tadi menunggu kedatangan Senja, menarik sudut bibirnya lalu berbalik ke belakang. Di ujung sana tampak Senja melambaikan tangannya dengan rambut yang beterbangan diterpa angin pantai. Di bawah sinaran matahari yang merah jingga, wajah Senja tampak begitu cantik dan sempurna di mata Bumi. Wajah yang sudah berhasil mendebarkan hatinya sejak pandangan pertama.
Senyum di wajah Bumi semakin mengembang. Lalu ia merentangkan kedua tangannya dan menunggu Senja masuk ke dalam dekapannya.
Yang diinginkannya pun terjadi. Senja berlari ke arahnya lalu menghamburkan diri ke pelukannya. Bumi sampai harus menahan kakinya karena Senja terlalu kuat menabraknya.
“Pelan-pelan, Senja. Kalau kita jatuh ke air bagaimana?” kata Bumi sambil mengacak gemas rambut Senja, sementara tangan satu lagi merangkul pinggang ramping gadisnya.
“Kalau jatuh ya tinggal berenang saja, apa susahnya,” jawab Senja sambil mendongak pada Bumi.
“Apa jangan-jangan kau tidak bisa berenang, ya?” tanya Senja penasaran.
“Tentu aku bisa. Tapi ini cuacanya sangat dingin. Aku tidak mau kau demam kalau jatuh ke dalam air,” jawab Bumi seraya merapikan sebagian rambut Senja yang terbang tertiup angin, lalu menyelipkannya disebalik telinga Senja.
“Beneran?” goda Senja.
Bumi pun menganggukkan kepalanya. Pria itu lalu terdiam sejenak. Ia memperhatikan dengan detail tiap inchi wajah gadis di depannya ini. Ia tak mengerti mengapa wajah ini selalu tergambar jelas dalam ingatannya, selalu membuatnya tak ingin beralih menatap hal lain.
“Kenapa? Ada yang aneh di wajahku?” tanya Senja saat melihat Bumi begitu lekat memandang wajahnya.
Bumi kembali menggelengkan kepalanya.
“Kau makin cantik.”
Blushhh.
Lihatlah, Bumi sekarang paling bisa membuat wajah Senja menjadi merah merona.
“Kau ini, sekarang senang sekali merayuku,” ucap Senja malu-malu sambil memalingkan wajahnya.
“Kau jadi semakin cantik kalau sedang malu-malu seperti itu,” ucap Bumi lagi.
Kali ini rasanya jantung Senja benar-benar akan melompat keluar. Kata-kata manis dari Bumi membuatnya tak mampu berkata apa-apa lagi. Wajahnya sudah makin memerah saja hingga menjalar ke telinga.
Bumi tersenyum melihat tingkah Senja seperti itu. Gadis itu semakin menarik di matanya. Tak ingin membuat Senja salah tingkah lebih lama, ia pun menggenggam tangan Senja dan mengajak Senja melihat ke depan ke arah matahari terbenam. Di ufuk barat sana, semburat merah jingga telah menghiasi sang langit. Mereka berdua pun saling terdiam menyaksikan matahari yang perlahan makin turun lalu menghilang ditelan lautan.
“Hhhh...” Senja tampak menghela nafas dalam-dalam.
Bumi beralih menoleh Senja yang memandang sendu matahari yang sudah terbenam itu.
“Senja, apa yang kau pikirkan?” tanya Bumi seolah tau ada sesuatu yang dipikirkan oleh Senja.
“Jangan berpikir yang macam-macam, Senja,” ucap Bumi lagi sambil mengeratkan genggamannya.
Melihat wajah Senja seperti itu, kata-kata Senja waktu dulu seakan terngiang kembali di kepalanya.
“Senja itu tidak lama, hanya sementara. Sesingkat itu bukan?”
“Sesingkat itu bukan?”
“Sesingkat itu bukan?”
Bumi menggelengkan kepalanya menghilangkan suara-suara itu. Ia menarik Senja masuk dalam dekapannya dengan tiba-tiba.
“Jangan berpikiran yang bukan-bukan. Kau memang sudah ditakdirkan untukku, begitu juga sebaliknya. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Senja. Kalau tiap melihat matahari terbenam membuatmu berpikir yang bukan-bukan, lebih baik jangan melihatnya lagi,” ucap Bumi sambil memeluk Senja dengan erat seolah tak rela jika harus berpisah dengannya.
“Tapi...bagaimana jika...”
“Sssttt!”
Bumi melerai pelukannya lalu menangkup kedua pipi Senja dengan tangan kekarnya. Ia pun menatap kedua bola mata indah di depannya dalam-dalam.
“Harus berapa kali aku bilang, jangan berpikir yang macam-macam.”
“Kan hanya berandai-andai saja.”
“Bahkan sekedar berandai-andai pun aku tidak sanggup, Senja. Kau tau, kau sudah mengembalikan cahaya hidupku yang telah lama hilang. Apa kau tidak kasihan padaku jika cahaya itu harus hilang lagi?”
“Apa kau sebegitu tak bisanya tanpa aku?” tanya Senja penasaran.
Bumi mengangguk. “Bumi tanpa Senja itu seperti raga yang kehilangan jiwanya. Kosong. Hampa. Apa artinya lagi hidup seperti itu?” jawab Bumi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bumi terdiam sejenak menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. “Aku mencintaimu, Senjaku. Dan selamanya akan selalu begitu. Jadi aku mohon, apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku. Kita baru saja bahagia bersama. Dan aku harap selamanya akan tetap seperti ini. Aku mencintaimu, Senjaku.”
“Aku juga mencintaimu Bumiku, Langitku, Dirgantaraku,” jawab Senja dengan suara bergetar menahan haru.
Bumi lalu mendekat dan mengecup kening Senja dengan penuh kehangatan cukup lama. Senja memejamkan matanya merasakan ciuman hangat dari Bumi di keningnya. Kemudian Bumi kembali memeluk Senja dengan erat sambil sesekali mengecup puncak kepala Senjanya.
Aku ingin selamanya memelukmu seperti ini, Senja. Setelah semua urusanku dengan sepupumu berakhir, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Aku akan langsung melamarmu pada orang tuamu.
.
Bersambung...