
Bumi berjalan di depan Jefri dengan langkah panjangnya. Sudah tak sabar sekali rasanya ia masuk ke dalam rumah itu dan bertemu dengan Senja. Tapi sebelum sampai di pintu rumah, Bumi menghentikan langkahnya. Ia membisikkan sesuatu pada Jefri dan Jefri menganggukinya.
Setelah itu, Bumi terlihat berjalan mengendap menuju ke bagian belakang rumah. Sementara Jefri mengambil handphone-nya lalu mengirim pesan pada seseorang, baru setelah itu ia menyimpan handphone-nya dan mulai menekan bel di rumah itu.
Ting tung Ting tung.
Jefri menekan bel lalu menunggu di depan. Pintu rumah itu tak langsung dibuka. Hingga akhirnya Jefri mulai menekan lagi bel tersebut.
Ting tung Ting tung.
Kali ini barulah pintu rumah itu dibuka dari dalam. Tampak seorang remaja laki-laki bertubuh berisi yang menyambut Jefri. Jefri memperhatikan dengan tajam laki-laki di depannya itu sehingga membuat Arkan sedikit bergidik ketakutan.
“Cari siapa, Om?” tanya Arkan hati-hati.
“Saya cari teman saya disini. Saya lihat ada mobilnya terparkir di dekat sini,” jawab Jefri dengan nada mengintimidasi.
“Si-siapa yang Om maksud?” tanya Arkan takut-takut.
“Menurutmu siapa? Apa kau benar-benar tidak tau?” Jefri malah balik bertanya dengan senyum smirk-nya.
Wajah Arkan berubah sangat pucat. Ia yakin, pria di depannya itu sudah tau kalau Senja ada di dalam rumahnya. Sekarang ia bingung harus menjawab apa lagi. Melihat wajah Jefri yang cukup menyeramkan saja sudah membuatnya sulit berkata-kata.
Sementara di dalam rumah, Sonya yang mengintip Arkan sedang berbicara dengan Jefri, segera pergi ke belakang menuju kamar yang dipakai sebagai gudang. Di depan pintu gudang itu, Alan sudah bersiap-siap dengan tongkat baseball untuk berjaga-jaga.
“Alan, di depan ada pria yang mencari seseorang. Aku yakin dia pasti mencari putrinya Andika. Bagaimana ini?” tanya Sonya dengan suara pelan agar tidak kedengaran siapapun.
“Dia datang sendiri atau ada orang lain lagi?” tanya Alan memastikan.
“Aku tidak tau. Sepertinya dia datang sendirian,” jawab Sonya.
Sonya tidak tau saja saat ini Bumi sudah berada di belakang rumahnya bahkan berhasil masuk dari pintu belakang dengan mengendap-endap tanpa ketahuan siapapun.
“Kalau dia datang sendiri kau tidak perlu takut. Aku bisa menanganinya. Yang penting tahan terus dia jangan sampai dia memaksa masuk kesini,” kata Alan memberi perintah.
“Kalau dia memaksa masuk bagaimana?” tanya Sonya dengan panik.
Baru saja Sonya bertanya seperti itu, Jefri sudah lebih dulu masuk bersama Arkan sambil menodong kepala laki-laki itu dengan pis-tolnya.
“Mom....Dad....” panggil Arkan dengan suara bergetar. Siapa yang tidak takut jika ditodong seperti itu. Apalagi Arkan masih remaja. Dia tidak mungkin mampu menandingi Jefri.
“Arkan.....”pekik Sonya dengan sangat cemas.
Baik Sonya maupun Alan tak menyangka anak mereka akan ditodong seperti itu. Rasanya pria yang menodong Arkan memang buka pria sembarangan.
“Turunkan sejatamu! Aku mohon, jangan sakiti anakku! Dia tidak tau apa-apa,” pinta Sonya dengan suara memelas. Ia bahkan sudah hampir menangis saat ini.
"Mom, aku takut sekali, Mom. Om ini mengancamku," ucap Arkan yang hampir menangis.
“Aku akan melepaskan anakmu, Nyonya. Tapi lepaskan dulu Nona Senja yang sedang kalian tahan,” kata Jefri dengan serius.
Tapi tiba-tiba Bumi pun masuk ke tengah-tengah mereka dan menatap Alan dengan tatapan membunuh.
“Berani kau menyentuhnya, maka akan ku patahkan setiap tulang di tubuhmu dengan tanganku sendiri, Dokter Alan! Namamu Dokter Alan bukan?” ucap Bumi dengan penuh penekanan.
Alan membulatkan matanya melihat kedatangan Bumi disana. Ternyata Jefri tidak sendiri, pikirnya. Ia tentu kenal siapa Bumi. Tapi dia tak menyangka Bumi akan mengenalnya bahkan menyebut namanya dengan panggilan dokter. Tapi bagaimana pria itu bisa tau Senja ada di dalam rumah tersebut?
Melihat kondisinya semakin terjepit, Alan segera membuka pintu gudang lalu mendekati Senja. Ia melemparkan tongkat baseball ditangannya dan segera mengeluarkan sebuah pi-sau kecil dari saku celananya lalu meletakkan pisau itu tepat di depan leher Senja yang tengah terbaring tak sadarkan diri dengan kaki tangan yang terikat.
Bumi pun ikut menyusul masuk ke gudang itu, darahnya langsung mendidih saat melihat gadis yang dicintainya terlihat tak sadarkan diri dengan kondisi yang menyedihkan. Bumi mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dadanya terlihat naik turun menahan gemuruh yang siap menciptakan badai besar.
“Aku peringatkan sekali lagi, jika pisaumu sedikit saja menggores kulit gadis itu, maka aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu!” ancam Bumi dengan gigi yang menggertak menahan amarahnya.
“Kau mengancamku, Tuan Bumi Langit Dirgantara? Meskipun pisau ini kecil tapi mampu mengoyak pembuluh darahnya sehingga dia kan mati kehabisan darah,” kata Alan balas mengancam.
“Sepertinya memang ada rahasia besar antara kau dan wanita yang merupakan mantan sekretaris Tuan Adrian ini sampai kau menyandra Senja. Kalau aku tidak salah tebak, anak laki-laki itu pasti bukan darah daging Tuan Adrian melainkan darah dagingmu. Dan kau sebagai dokter pasti memanipulasi hasil tes DNA nya sehingga Tuan Adrian bertanggung jawab atas anak itu, dan kalian dengan sesuka hati menggerogoti hartanya,” kata Bumi membeberkan fakta tentang Alan dan Sonya.
“Kau tau, seorang mantan perawat sepertimu yang hidup pas-pasan bisa dapat uang darimana kalau bukan hasil menipu Tuan Adrian agar bisa mengambil kuliah kedokteran? Bahkan kau juga sudah punya klinik sendiri,” sambung Bumi.
“Diam kau! Aku tidak akan melepaskan gadis ini! Aku tau dia pasti sangat berharga bagimu meskipun aku tau tunanganmu adalah anaknya Adrian, bukan anak Andika,” kata Alan yang mengandung sindiran pada Bumi.
Bumi yang sudah jengah dengan Alan, segera melihat ke arah Jefri.
“Jef, kau hitung sampai tiga. Kalau dia tidak melepaskan Senja, tembak kepala anak itu di depan mereka!” perintah Bumi dengan sungguh-sungguh.
“Tidak......! Aku mohon jangan tembak dia! Jangan tembak anakku! Kami memang bersalah. Semua perkataanmu benar, tapi tolong jangan tembak Arkan, anakku! Alan...tolong lepaskan gadis itu! Arkan bisa mati karena ulahmu,” pinta Sonya yang sudah berlinang airmata. Ia sangat ketakutan melihat Arkan dibawah ancaman seperti itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan rahasianya yang akan terbongkar.
Bumi menoleh lagi pada Alan, pria itu tampak kebingungan tapi ia belum juga melepaskan Senja.
“Jef!” kata Bumi memberi kode.
Jefri pun mulai berhitung mengikuti arahan bosnya.
“Satu......”
“Alan! Lepaskan gadis itu!” pekik Sonya.
“Dua......”
“Stoooppp! Aku mohon jangan tembak anakku!” pinta Sonya yang sudah bersimpuh di lantai.
“Tiga.”
“Arkaaaannnn.........”
Dooorrrrrrrrr!
Bersambung...