
Nesya masih menyimpan rasa penasaran mengapa Bumi bisa tau tentang hubungannya dengan Marcel. Apakah ada seseorang yang memberitahu padanya atau memang Bumi sendiri yang mencari tau tentang dirinya?
Nesya pun kembali teringat kemesraan Bumi dan Senja sewaktu di rumah Bumi malam itu. Nesya jadi menaruh curiga. Jangan-jangan Senja yang membuka cerita pada Bumi tentang kelakuannya selama ini.
Sepulang dari butik, Nesya berencana ingin pergi menemui Senja di kantornya. Saat ia baru akan sampai di depan gerbang perusahaan, mobil Senja tampak keluar meninggalkan perusahaan itu. Nesya pun penasaran dan segera mengikuti mobil Senja dari belakang secara diam-diam.
“Senja ke pantai sore-sore begini?” tanya Nesya pada dirinya sendiri. Ia merasa aneh saja melihat Senja pergi ke pantai setelah pulang dari kantornya. Ia pun makin curiga, pasti ada sesuatu disana.
Senja pun masuk ke kawasan pantai dan memarkirkan mobilnya. Nesya memarkirkan mobil di luar kawasan pantai lalu berjalan mengintai Senja dari belakang.
“Eh, ini kan...mobil Bumi,” gumam Nesya saat melihat mobil Bumi ada disana. Ia semakin penasaran dan mengikuti Senja diam-diam.
Senja yang tidak tau kalau dirinya diikuti segera pergi menuju ke jembatan tempat biasa mereka bertemu.
“Bumi........” teriak Senja dari ujung jembatan.
Bumi yang membelakangi Senja, menarik sudut bibirnya. Biasanya ia akan langsung berbalik melihat Senja. Tapi kali ini ia sengaja diam tak langsung berbalik ke belakang.
“Heeeiiii.....Bumi.......” teriak Senja lagi.
Bumi masih tetap pada posisinya belum menoleh ke belakang.
Apa dia itu pakai earphone? Kenapa mengabaikan panggilanku? Tanya Senja dalam hati.
“Bum-bum......Heeeiiii......Bum-bum......” teriak Senja lagi tapi Bumi tak kunjung menoleh padanya.
Bumi tergelak dalam hati mendengar Senja memanggilnya seperti itu. Karena Bumi tak kunjung menoleh ke belakang akhirnya Senja pun berlari ke arah Bumi.
Bumi sengaja tak menoleh dulu, saat ia mendengar langkah Senja kian mendekat, ia pun segera membalikkan badannya ke belakang sehingga hampir bertabrakan dengan Senja. Senja pun hampir terjatuh ke belakang, tapi untung saja Bumi dengan sigap merangkul pinggang rampingnya.
“Awwhhh....hampir saja,” gumam Senja. “Kau kenapa tidak menoleh padaku saat aku panggil? Sengaja ya?” tanya Senja.
Bumi pun menganggukkan kepalanya sehingga membuat Senja mencibirkan bibirnya.
“Ya sudah, lepaskan aku. Ayo kita duduk disana,” ajak Senja yang dijawab Bumi dengan gelengan kepala.
“Kau tadi panggil aku apa? Bum-bum? Kau selalu memanggilku dengan sesuka hatimu,” kata Bumi yang masih merangkul pinggang Senja.
“Siapa suruh dipanggil tidak menoleh,” ucap Senja cuek.
“Senja, umurmu berapa sih?” tanya Bumi tiba-tiba.
“Kalau panjang umur tahun ini masuk 23 tahun. Memang nya kena....awhh....kenapa kau menyentil keningku?” protes Senja saat Bumi menyentil keningnya.
“Jawab saja 23, jangan ada embel-embel lain,” koreksi Bumi.
“Jangan panggil aku Tuan Muda!”
“Lalu panggil apa?”
“Menurutmu yang cocok apa?”
“Tuan Muda. Tuan Muda Dirgantara,” jawab Senja sambil terkekeh.
“Kau sudah seperti Jefri saja,” ujar Bumi.
“Kalau kau memanggilku Tuan Muda Dirgantara, aku jadi teringat saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu kau bilang...jika bertemu denganku lagi maka kau akan berpura-pura tidak mengenaliku, bahkan jika itu terjadi di dunia selanjutnya,” ucap Bumi mengingat pertemuan kali pertamanya dengan Senja.
“Masa sih aku bilang begitu? Aku tidak ingat. Ingatanmu bagus sekali,” kata Senja sambil mencoba mengingat masa itu.
“Aku selalu ingat semua tentangmu. Setiap saat bersamamu, selalu tersimpan jelas dalam memoriku, Senja.” Kali ini Bumi sudah bicara dengan nada seriusnya.
Mereka pun terdiam saling bertatapan. Dalam pikiran Bumi mengulang kembali setiap memori saat ia bertemu dengan Senja. Ia masih ingat bagaimana wajah Senja menarik perhatiannya saat Senja menyibakkan rambutnya di depan mobilnya, saat ia menarik Senja dalam dekapannya ketika melindungi Senja dari Riko, saat mereka berdansa bersama di pesta pertunangannya sampai saat dimana ia merasakan ranumnya bibir merah muda milik Senja.
Dan setiap kali kenangan bersama Senja muncul di ingatannya, ia selalu merasa sangat bahagia dan merasa hidupnya lebih berwarna. Betapa tak sabarnya ia ingin segera memperistri Senja agar mereka bisa selamanya terus bersama.
“Aku mencintaimu, Senjaku,” ucap Bumi tiba-tiba.
“Aku tau. Kau sudah sering mengatakan itu padaku.”
“Dan aku ingin selalu mengatakannya padamu agar kau selalu ingat dan tidak pernah melupakan aku sampai kapanpun,” ucap Bumi dengan sungguh-sungguh.
Senja pun mengangguk. “Aku juga selalu mencintaimu Bumiku, Langitku, Dirgantaraku. Jika kau sudah memiliki seluruh cintaku, tidak ada tempat di semesta ini yang pantas untuk cintaku berlabuh selain di hatimu,” balas Senja dengan penuh cinta.
Bumi begitu terharu mendengar ucapan Senja. Ada yang menyentuh kuat di hatinya setiap kali Senja mengucapkan kata cinta padanya. Sesuatu yang mampu menggetarkan jiwanya dan masuk ke dalam relung hatinya.
Bumi pun mendekat dan mengecup kening Senja cukup lama. Lalu ia pun mendekap Senja dengan penuh hangat seolah tak ingin berpisah dari gadis yang dicintainya itu. Dan dengan senang hati Senja pun ikut memeluk Buminya.
Nesya yang melihat kemesraan mereka dari kejauhan semakin sakit hati saja. Ia makin tak rela Bumi bahagia bersama Senja. Dari dulu ia selalu dibanding-bandingkan dengan Senja. Senja selalu menjadi yang terbaik bagi keluarga Wijaya.
Dan lihatlah sekarang, bahkan dari segi jodoh pun ia kalah lagi dari Senja. Ia makin iri, makin sakit hati. Ia tak mau Senja bersatu dengan Bumi.
“Kalau Bumi tidak bisa aku miliki, kau juga seharusnya sama, Senja. Aku akan buat kisah kalian menjadi Bumi tanpa Senja.”
.
Bersambung...