Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
79. Permohonan Maaf


Adrian mengemudikan mobilnya dengan perasaan kalut. Menyesal dan takut berbaur menjadi satu. Setelah menyelesaikan urusannya dengan para penipu yang berhasil menipunya selama belasan tahun, kini saatnya bagi Adrian menjelaskan semua yang terjadi pada keluarganya terutama Tari dan Nesya.


Adrian sudah menceraikan Sonya dan menyerahkan Sonya serta Alan kepada pihak yang berwajib. Sementara Arkan yang selama ini Adrian sangka anak kandungnya, ia terpaksa tinggal bersama orang tua Sonya sementara waktu.


Mata Adrian tampak merah. Ia menyesal! Sangat-sangat menyesali kebodohannya. Semudah itukah ia percaya pada kebohongan Sonya yang saat itu meminta pertanggung jawabannya? Atau memang nafsu dalam dirinya kah yang ikut berperan serta untuk membenarkan kebohongan besar Sonya padanya?


Dan lihatlah apa yang ia dapat dari kebodohannya itu. Semenjak Sonya masuk ke dalam hidupnya dan mulai menyita perhatiannya, Tari dan Nesya seolah menjadi yang kedua baginya. Ia mengingat lagi bagaimana ia selalu menyakiti Tari dengan terus menerus bertengkar bahkan terkadang tangannya pun ikut ambil andil dalam setiap pertengkaran.


Ia mengingat kembali bagaimana Nesya kecil adalah putri semata wayangnya yang selalu ceria dan senang berlari berhamburan ke pelukannya saat ia pulang dari bekerja. Putri kesayangannya yang selalu meminta untuk digendong. Putri kesayangannya yang selalu mengadu padanya meminta dilindungi jika ada teman sekolah yang berbuat nakal padanya.


Tapi sekarang...ia hampir tak mengenal sosok putrinya sendiri. Setelah beranjak remaja, Nesya sering menghabiskan waktu bermain di rumah temannya. Selalu ogah-ogahan pulang ke rumah. Hingga sampai ia dewasa, rumah tak lagi berasa “rumah” baginya. Adrian bahkan sampai lupa kapan terakhir ia mengajak putrinya itu jalan-jalan bersama dan makan makanan kesukaan Nesya.


Tak kuat! Adrian tak kuat untuk mengingat lebih jauh betapa tersiksanya Tari dan Nesya selama ini. Bahkan selama belasan tahun ini tak pernah sedikitpun baik Tari maupun Nesya membongkar aib mereka keluar. Mereka pendam semua sendiri rapat-rapat sampai keluarga Andika pun tak tau apa-apa tentang ini.


Sekarang Adrian hanya bisa menangis menyesali perbuatannya. Rasanya ia ingin sekali segera sampai dan memeluk Tari juga Nesya. Adrian sengaja meminta mereka berkumpul di rumah Andika karena Senja sudah mengetahui semuanya. Jefri tadi sudah bercerita, semua ini berawal dari Senja yang diam-diam memata-matai Sonya. Keponakannya itu, selalu bisa mendapatkan keluarganya yang sudah terpecah belah.


***


Sementara itu di kamar Senja, Nesya masuk dan memasang wajah terbaiknya. Meskipun hatinya cemburu menggebu-gebu tapi ia berusaha bersikap tenang di depan tunangannya.


“Senja, kau baik-baik saja kan? Bagaimana ceritanya kalian bisa pulang bersama?” tanya Nesya seolah sedang cemas tapi sebenarnya lebih mengarah ke curiga.


“Aku...”


“Biar nanti Tuan Adrian saja yang menceritakan semuanya,” potong Bumi sebelum Senja sempat menjawab.


“Kau lucu sekali masih memanggil calon mertuamu dengan sebutan Tuan. Aku rasa kau bisa mulai memanggilnya dengan sebutan Papa sama sepertiku. Papa pasti tidak keberatan.” Nesya dengan sengaja mengatakan itu seolah sedang memberitahu Senja kalau Bumi sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Senja cukup peka untuk memahami apa maksud perkataan Nesya barusan. Wanita itu pasti sedang menyindirnya. Senja pun sadar diri, dia bukan siapa-siapa bagi Bumi. Wajar saja kalau Nesya bersikap seperti itu padanya.


Tak lama seorang pelayan datang dan memanggil mereka ke bawah. Awalnya Bumi melarang Senja ikut turun, tapi bukan Senja namanya kalau tidak keras kepala. Akhirnya ia pun ikut turun juga menemui pamannya.


Sesampainya di bawah, Nesya heran melihat ayahnya yang sedang memeluk sang ibu sembari menangis. Ketika melihat Nesya, ayahnya malah beralih memeluknya dengan sangat erat.


“Maafkan Papa, Nesya. Maafkan Papa atas perlakuan Papa selama ini padamu,” ucap Adrian dengan tulus disela isak tangisnya.


Deg.


Hati Nesya mendadak berdenyut. Sudah lama bahkan sangat lama sekali ia merindukan pelukan seperti ini dari sang ayah. Tanpa ragu Nesya pun membalas pelukan ayahnya dengan erat. Ah, betapa rindunya dia dengan pelukan hangat dari sang ayah seperti ini hingga tak sadar airmatanya lolos begitu saja.


Kemudian Adrian meminta mereka semua untuk duduk berkumpul di ruang keluarga. Adrian duduk di sebelah Tari, Nesya memilih duduk di sebelah Bumi, sementara Senja duduk diantara kedua orang tuanya.


“Sebelumnya aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya pada keluargaku, Tari dan Nesya karena selama ini aku telah berbuat salah pada mereka. Tanpa sepengetahuan siapapun kecuali keluargaku, aku sudah menikahi wanita lain dan memiliki anak bersamanya,” jawab Adrian yang membuat Andika serta Liliana membelalakkan matanya.


“Kau menikah lagi dan punya anak? Apa maksud perkataanmu Adrian?!” tanya Andika dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


Adrian memejamkan mata sejenak untuk menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Setelah itu ia baru mulai bercerita dari awal Sonya menjebaknya hingga menuduhnya menghamili wanita itu. Dan apesnya lagi ia dibohongi selama belasan tahun. Itu pun semua bisa terungkap karena Senja yang nekat memata-matai Sonya. Kalau tidak, mungkin entah sampai kapan kebohongan itu akan berlanjut dan menciptakan penderitaan bagi keluarganya.


Andika tampak shock mendengar penjelasan dari adiknya itu. Ia tak menyangka rumah tangga adiknya yang terkesan baik-baik saja justru di dalamnya hancur berantakan.


“Sekarang semua sudah tau akan hal ini. Termasuk juga Tuan Bumi. Saya merasa sangat bersalah dalam hal ini. Tapi saya mohon tolong jangan batalkan pertunangan anak saya dan anda Tuan hanya karena kesalahan saya ini. Saya sudah meminta pihak yang berwajib untuk merahasiakan kasus ini dari siapapun. Nama baik keluarga Dirgantara tidak akan ikut tercemar akan hal ini, saya jamin itu. Jadi, sebagai ayah kandung Nesya, saya sangat memohon pada Tuan Bumi agar tidak membatalkan pertunangan ini,” pinta Adrian dengan sungguh-sungguh.


Anggaplah ini sebagai bentuk penyesalannya akan kejadian masa lampau, karena itu Adrian akan berusaha untuk tetap memperjuangkan kebahagiaan putri semata wayangnya.


Bumi masih diam memikirkan jawaban yang tepat untuk ia ucapkan. Yang membuatnya berat bukan masalah Adrian, tapi karena Senja ada disana. Ia tak mau menyakiti hati Senja meski gadis itu tak pernah bilang cinta padanya.


Lalu tiba-tiba saja Nesya memegang lengan Bumi. “Bumi...kau sudah tau kan seperti apa kehidupanku sebelum ini? Sekarang hanya kau kebahagiaan yang bisa aku harapkan. Aku mohon, aku mohon sekali padamu jangan putuskan pertunangan kita. Papaku akan menjamin nama keluarga Dirgantara tidak akan tercoreng sedikitpun atas kasus ini,” kata Nesya dengan wajah yang memelas.


“Kenapa kau diam saja? Tolong jawab aku, Bumi. Tolong jangan batalkan pertunangan kita!” pinta Nesya dengan sungguh-sungguh.


Semua yang ada disana berdebar-debar menunggu jawaban dari Bumi. Terutama Senja yang dari tadi nyaris tak berkedip menatap Buminya itu. Tak mungkin kan Bumi dengan tiba-tiba membatalkan pertunangannya begitu saja hanya karena persoalan ini?


Bumi tampak sangat bingung. Wajah yang selalu datar itu kini tampak sedang gelisah tak tau harus menjawab apa.


“Tuan Bumi, kami menunggu jawaban anda.” Akhirnya Andika juga ikut buka suara melihat Bumi belum bereaksi apa-apa.


Bumi tampak mengehembuskan nafas dengan kasar lalu ia pun menjawab, “ jika masalah ini bisa diatasi maka aku tidak berhak memutuskan pertunangan ini secara sepihak. Pertunangan ini hanya akan batal jika ada salah satu dari kami yang berkhianat.”


Langsung lah senyum mengembang di wajah Nesya mendengar jawaban dari Bumi. Matanya pun ikut berkaca-kaca mendengar jawaban itu. “Terimakasih Bumi, aku janji tidak akan mengkhianatimu, karena aku sangat mencintaimu,” ucap Nesya lalu secara mendadak memeluk Bumi dengan erat.


Deg.


Ada sembilu yang terasa mengiris hati Senja hingga menghasilkan luka yang menganga. Saking perihnya Senja tak mampu menahan airmatanya yang jatuh begitu saja. Bahkan Senja kini memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat mereka berpelukan lebih lama. Sakit dan sesak kian menyatu menyiksa batinnya.


Andika yang melihat Senja menangis dengan cepat menarik putrinya masuk ke pelukannya. Andika hanya mengira Senja sedang terharu, bukan sedang terluka karena cemburu.


Bumi yang sedang dipeluk Nesya tak sedikitpun berniat membalas pelukan itu. Matanya malah beralih melihat Senja yang tenggelam dalam pelukan ayahnya.


Senja, apakah aku menyakiti hatimu? Kalau benar begitu, itu artinya kau juga mencintaiku sebagaimana aku pun mencintaimu, bukan?


Bersambung...