
“Kami...sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kecelakaan yang dialami pasien cukup parah. Saat ini, pasien keadaannya kritis dan mengalami koma,” jawab sang dokter dengan berat hati.
Liliana menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan isak tangis yang tak mampu ia tahan. Ia tak dapat membayangkan separah apa luka yang dialami putri semata wayangnya itu saat ini. Andika pun tampak sangat terpukul mendengar jawaban dari dokter. Ia memeluk kuat istrinya agar lebih tenang, meskipun hatinya sendiri terasa runtuh saat tau putrinya mengalami koma.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Bumi saat ini. Hatinya begitu sakit mendengar kekasih yang dicintainya dalam keadaan yang sangat parah. Andai bisa bertukar tempat, tak perlu ditanya dua kali, ia akan rela menggantikan Senja untuk merasakan kesakitannya.
Airmatanya tak berhenti mengalir membasahi wajah tegasnya. Mata yang selalu tajam saat menatap, kini tampak sayu menanggung pilu. Serakah kah hatinya jika ingin meminta lebih lagi dari ini? Setelah Tuhan mengabulkan Senja bisa diselamatkan, masih bolehkah ia meminta Senja kembali pulih seperti sedia kala?
“Dokter, boleh aku melihatnya?” tanya Bumi dengan suaranya yang sudah serak.
“Maaf, Tuan Muda. Pasien masih harus menjalani beberapa pemeriksaan lagi. Tuan Muda bisa menjenguknya setelah dipindahkan ke ruang rawat inap nanti,” jawab Dokter itu.
“Aku mohon... Aku hanya ingin melihatnya sebentar. Aku tidak akan mengganggunya. Tolong, Dokter. Tolong...” pinta Bumi dengan suara bergetar menahan sesak di dadanya.
Tuan Dirgantara mendekati Bumi dan merangkul bahunya. “Kau sayang dengan Senja kan? Biarkan Dokter yang menanganinya dulu. Sabar, Bumi. Bersabarlah sebentar. Kita semua disini juga sangat ingin melihatnya, tapi...”
“Aku lebih ingin melihatnya, Ayah. Aku janji aku akan diam disana. Aku hanya ingin melihatnya sebentar, aku mohon,” pinta Bumi lagi dengan mengiba.
Tuan Dirgantara sudah tak kuasa lagi menolak permintaan putra kandung kesayangannya itu. Ia menoleh ke arah dokter untuk meminta persetujuan. Akhirnya dengan terpaksa dokter pun mengangguk dan mengijinkan Bumi ikut masuk sebentar ke dalam melihat Senja.
Andika pun sebenarnya memiliki keinginan yang sama, yaitu melihat langsung keadaan putrinya. Tapi siapa yang akan menenangkan istrinya jika ia masuk ke dalam. Liliana sedang tidak stabil kondisinya. Jika melihat Senja dalam keadaan seperti itu, pastilah ia akan sangat histeris melebihi sebelumnya.
Bumi pun memakai pakaian yang sudah disiapkan pihak rumah sakit, barulah ia diperkenankan masuk melihat Senja. Itupun hanya dari depan pintu, ia tak diperkenankan untuk mendekat.
Deg.
Jantungnya terasa berhenti berdetak melihat keadaan Senja yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Wajah itu, wajah yang menarik perhatiannya saat pertama kali bertemu kini tampak pucat tak bermaya. Bibir merah muda yang pernah ia rasakan manisnya, juga tampak pucat nyaris tak berwarna. Dan lihatlah mata itu... mata yang selalu balas menatapnya dengan lekat, kini sudah tertutup rapat.
Bumi seakan langsung kehilangan semangat hidupnya. Melihat Senja seperti itu, cahaya hidupnya seolah kembali meredup. Tubuhnya terasa lemas sekali rasanya. Ia tak terima Senja dalam kondisi yang kritis seperti itu. Ia ingin mata yang tertutup rapat itu kembali terbuka dan memancarkan cahaya cintanya.
“Tuan Muda, maaf kami belum bisa memastikan berapa lamanya pasien dalam keadaan koma,” jawab sang dokter dengan hati-hati.
“Biasanya? Berapa lama?” Bumi masih ingin tahu juga.
“Tuan...” dokter tampak ragu-ragu menjawab karena tak ingin menyakiti hati Tuan Muda itu.
“Apa separah itu kah kondisinya?” potong Bumi.
Dokter tampak menghela nafas dengan berat. Bumi pun menoleh ke arah dokter tersebut.
“Tuan, kita akan usahakan yang terbaik untuk pasien. Selebihnya biarkan tangan Tuhan yang bekerja,” jawab Dokter itu yang sama sekali tak memuaskan Bumi.
Bumi kembali menoleh ke arah Senja yang hanya diam terbaring disana. Airmatanya kembali menetes tanpa bisa dicegah. Senja yang tengah ditangani oleh tim medis, kini hanya diam tak bersuara. Bumi pun tak bisa melakukan apa-apa selain menangis pilu dalam diamnya.
Setelah itu ia pun keluar dari ruangan itu. Andika langsung menghampirinya. Sementara Liliana tampak sedang ditenangkan oleh istri Tuan Dirgantara.
“Bagaimana keadaan, Senja?” Hanya itu yang mampu ditanyakan oleh Andika dengan raut wajah penuh kecemasan dan kesedihan.
“Senja baik-baik saja, Tuan. Dia gadis yang kuat. Dia akan segera sadar. Dia akan segera sadar seperti sebelumnya,” jawab Bumi yang berusaha tegar meski butiran bening terus mengalir di sudut matanya.
Andika tau Bumi hanya menyenangkannya saja. Andika pun hanya mengangguki jawaban dari Bumi. Tapi dari lubuk hatinya paling dalam, ia berharap yang sama, harapan bahwa putri satu-satunya yang ia punya akan kembali sadar seperti sedia kala.
.
Bersambung...
Hai 🤗 follow ig ku ya @tulisan.jiwaku