
Detik selanjutnya siapa sangka kalau Bumi bukan menjawab ucapannya melainkan menarik tangan Senja lalu membawanya masuk ke pelukannya.
“Aku merindukanmu,” ucap Bumi sambil berbisik.
Deg.
Senja merasa waktu berhenti berputar lalu membawanya kembali ke masa-masa awal pertemuan mereka. Dimana ia bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan berada dalam dekapan Bumi saat pria itu melindunginya dari Riko.
Tangannya mengambang ingin membalas pelukan Bumi, tapi akalnya lebih cepat tersadar. Saat ini kondisinya sudah berbeda. Ada Nesya sebagai tunangan Bumi di sebelahnya. Senja berperang dengan batinnya, antara ingin tetap berada dalam dekapan itu atau dengan segera melepaskannya.
Tapi ternyata Bumi yang lebih dulu melerai pelukan itu.
“Terimakasih,” ucap Bumi setelah melerai pelukannya. Entah terimakasih mana yang dimaksud Bumi. Terimakasih karena datang ke acara pertunangannya atau terimakasih karena mengijinkannya memeluk Senja.
Senja pun mengangguk lalu tersenyum canggung padanya. Nesya dan Dimas yang berada tepat di samping mereka tak berhenti menyaksikan interaksi kedua orang itu. Pasalnya ini pemandangan yang sangat langka saat Bumi mau memeluk seorang wanita selain ibunya.
Bahkan bukan hanya Nesya dan Dimas saja yang menangkap fenomena aneh itu. Tuan Dirgantara dan istrinya juga merasa hal yang sama. Bumi tidak pernah seperti itu sebelumnya.
“Lihat, Bumi barusan memeluk anak Tuan Andika. Apa itu tidak salah, Mas? Maksudku, seperti bukan Bumi saja,” bisik istri Tuan Dirgantara.
“Mungkin Bumi hanya berterimakasih pada Senja.” Tuan Dirgantara mencoba menutupi hal yang juga ia curigai.
“Dengan memeluknya?” tanya istrinya penasaran.
“Mereka kan sedang terlibat kerjasama dalam satu proyek. Bisa jadi mereka memang akrab karena sering bertemu saat bekerjasama. Itu hal yang biasa,” jawab Tuan Dirgantara berusaha tenang.
“Kalau Dimas sih, aku tidak aneh dia begitu. Tapi ini Bumi lho, Mas. Malah kelihatannya Bumi lebih....ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja,” ujar istri Tuan Dirgantara.
Tuan Dirgantara mendadak pusing melihat anaknya. Mau dibawa kemana hubungan pertunangannya dengan Nesya nanti?
***
Senja dan Dimas sudah selesai memberi ucapan selamat pada Bumi dan Nesya. Setelah dari sana tentu saja Senja menghampiri orang tuanya. Ia pun diomeli oleh Liliana karena selalu telat datang ke acara keluarga. Untung saja ada sang ayah yang selalu membela putri semata wayangnya.
Sementara Dimas hanya mengulum tawanya saat Senja diomeli ibunya. Dimas senang sekali melihat interaksi keluarga Andika. Benar-benar keluarga yang hangat dan saling menyayangi. Dimas berandai-andai jika dia bisa masuk ke dalam keluarga itu, pasti sangat bahagia sekali rasanya. Tapi sayang, ia menyadari hati Senja sudah menjadi milik orang lain. Dan orang itu adalah kakaknya sendiri.
Senja dan Dimas juga menyapa keluarga Adrian dan keluarga Dirgantara. Mereka saling mengobrol hingga Senja lupa akan kesedihannya. Di tengah-tengah obrolannya, Senja sempat mencuri pandang pada pria yang masih menerima ucapan selamat dari para tamu. Dan ternyata pria itu juga tengah melihatnya.
Tatapan mata mereka pun saling bertemu. Di luar perkiraan Senja, Bumi mengedipkan sebelah matanya pada Senja.
Eh? Apa itu barusan? Apa dia mengedipkan matanya padaku? Tanya Senja dalam hati.
Senja pun melihat ke belakangnya, kosong tidak ada orang. Berarti benar barusan Bumi mengedipkan mata padanya. Senja mencoba melihat ke arah Bumi lagi untuk memastikan dia tidak salah sangka. Dan lagi-lagi Bumi mengedipkan sebelah matanya pada Senja.
Benar. Dia melakukannya. Apa dia itu kelilipan? Tapi kenapa dia terlihat genit sekali kalau seperti itu? Tidak cocok dengan kepribadiannya. Mending dia berwajah datar seperti biasa saja. Umpat Senja dalam hati.
Senja pun tak melihat ke arah Bumi lagi. Tak lama Senja tampak berjalan menjauhi keluarganya. Bumi pun masih memperhatikannya. Matanya terus mengikuti kemana Senja pergi. Tiba-tiba Bumi melihat ada yang mengikuti Senja dari belakang. Dan orang itu ternyata adalah Marcel.
Bumi memicingkan matanya melihat Marcel. Dia merasa pernah melihat pria itu.
Bersambung...