Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
116. Kopi Sesuai Suasana Hati


Jefri tentu memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani. Ia bahkan juga harus bolak balik ke rumah sakit untuk mengunjungi Tuan Mudanya. Malam ini setelah dari rumah sakit, ia melewati sebuah Coffee Shop yang pernah ia datangi. Sudah lama sekali rasanya iantak pernah datang lagi kesana saking sibuknya.


Malam ini ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi disana. Ia pun memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam Coffee Shop itu. Saat sedang mencari tempat duduk yang masih kosong, matanya tertuju pada seorang gadis yang sudah lama tak ia jumpai. Siapa lagi kalau bukan pekerja disana yang bernama Jingga.


Jingga yang baru saja selesai mengantarkan pesanan kopi ke pelanggannya mendadak membeku saat melihat Jefri datang lagi ke tempat itu. Mereka saling terdiam dan bertemu pandang dalam waktu beberapa detik.


“Jingga, meja nomor 8 ingin memesan tuh!” ucap salah seorang temannya yang membuat Jingga tersadar.


“Ah, iya. Baiklah,” ucap Jingga lalu menuju ke meja yang dimaksud.


Jefri menarik sudut bibirnya, ia senang melihat gadis itu salah tingkah seperti tadi. Ia pun duduk di salah satu kursi yang masih kosong disana. Saat ada seorang pelayan yang menghampirinya, ia malah meminta untuk dilayani oleh Jingga. Akhirnya pelayan itupun menghampiri Jingga dan memberitahunya. Tak lama, Jingga pun datang ke meja Jefri.


“Selamat malam, Tuan. Tuan mau pesan sesuatu?” sapa Jingga dengan ramah.


“Tentu saja. Kalau tidak, untuk apa aku datang kesini,” jawab Jefri yang sengaja membuat Jingga jengkel padanya.


Jingga masih tetap tersenyum lalu bertanya kembali. “Tuan mau pesan menu apa? Biar saya catat pesanan Tuan.”


“Hmmm...aku bingung mau memesan apa,” jawab Jefri asal-asalan sengaja menguji kesabaran Jingga.


“Tuan mau minum kopi atau mau memesan roti atau cake mungkin? Semua menu ada disini, Tuan.” Jingga menggeser buku menu yang ada di meja pada Jefri.


Jefri melirik buku menu itu, lalu mendorongnya lagi seolah tak mau melihatnya.


“Aku ingin pesan secangkir kopi sesuai dengan suasana hatiku malam ini, tambahkan juga roti atau cake yang cocok untuk mendampinginya,” ucap Jefri.


Eh, tunggu, tunggu! Dia ini sedang pesan kopi atau sedang curhat? Aku kan tidak tau suasana hatinya seperti apa. Tapi kalau dilihat dari wajahnya yang melow begini, sepertinya dia sedang sedih. Apa dia sedang ada masalah? Loh, kenapa aku jadi memikirkan perasaannya? Batin Jingga.


“Kenapa kau diam saja? Cepat bawakan pesananku!” kata Jefri.


“Oh, maaf, Tuan. Tapi...saya kan tidak tau suasana hati Tuan seperti apa,” jawab Jingga apa adanya.


“Menurutmu apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang bahagia?”


“Tidak, sih.”


“Ya sudah, berarti kau tau kan harus membawa kopi yang bagaimana untukku?”


Ih, dia nih kenapa sih? Perkara pesan kopi saja kenapa jadi seribet ini?! Gerutu Jingga dalam hati. Jika biasanya pelanggan akan memesan kopi sesuai dengan yang tertera di daftar menu, lain dengan Jefri yang selalu memesan kopi sesuai dengan menu yang ia buat sendiri.


“Tuan sedang sedih? Mau kopi yang bisa bikin happy?” Jingga akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Oh, baik, Tuan. Saya mengerti,” sahut Jingga lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanan Jefri.


Ternyata Tuan Jefri sudah menyukai wanita lain. Dia sampai ikut bersedih saat melihat wanita itu bersedih. Lagipula apa yang kau harapkan Jingga? Kau harus sadar, pria tampan dan kaya sepertinya mana cocok dengan pelayan Coffee Shop sepertimu. Tentu dia mencari yang sepadan dengannya. Jingga berdialog sendiri dalam hati sambil menyiapkan pesanan untuk Jefri. Jingga mengira Jefri sedang bersedih karena seorang wanita. Ia tidak tau saja Jefri sedang bersedih melihat nasib Tuan Mudanya saat ini.


Setelah selesai dengan pesanan Jefri, Jingga pun kembali lagi ke meja pria itu.


“Silahkan, Tuan. Ini pesanannya.” Jingga meletakkan secangkir kopi dan sepotong cake di atas meja.


“Selamat menikmati,” ucap Jingga lalu hendak pergi dari sana tapi Jefri menahannya.


“Tunggu!”


“Tuan mau tambah sesuatu?” tanya Jingga.


“Iya.”


“Apa Tuan?”


“Kamu.”


Eh?


Jefri tersenyum saat melihat Jingga dengan ekspresi terkejut seperti itu. “Aku hanya bercanda. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu,” ucap Jefri dengan entengnya.


Jingga pun berbalik meninggalkan Jefri dengan kesal.


Dia itu baru sebentar disini sudah membuatku jengkel dua kali. Mentang-mentang tampan, banyak gaya sekali. Umpat Jingga dalam hati.  


Jefri pun menyeruput kopi miliknya. Ia mengangguk-angguk karena merasa kopi ini cocok di lidahnya. Ia tak menyangka, gadis itu benar-benar tau kopi apa yang sesuai dengan suasana hatinya.


.


Bersambung...


.


Yuk, vote yuk biar Jefri makin sering minum kopi 😂✌