
Setelah pesta pertunangan besar-besaran antara keluarga Dirgantara dan keluarga Wijaya digelar, pemberitaan di media selalu ramai dengan nama Bumi dan Nesya. Apalagi Nesya yang memang banyak berteman dengan kalangan artis dan selebgram. Hampir semua teman-temannya yang hadir kemarin memposting acara pertunangan itu di sosial media milik mereka sehingga membuat pemberitaan semakin ramai saja tentunya.
Senja yang sedang berada di ruang kerjanya ikut membaca berita di koran hari ini. Di halaman depan terpampang foto Bumi dan Nesya. Di foto itu Nesya tengah menggandeng lengan Bumi dengan senyum cerianya, sementara Bumi tetap dengan wajah datarnya.
Senja jadi teringat perkataan Nesya sewaktu ia berpamitan untuk pulang setelah acara pertunangan itu selesai.
“Sekali lagi selamat ya atas pertunangannya,” ucap Senja.
“Terimakasih, ya. Oh ya Senja, kau ada kerjasama dengan Bumi ya kalau tidak salah?”
“Iya, kak. Memangnya kenapa?”
“Itu, aku mau minta tolong beritahu padaku kalau ada wanita yang berusaha dekat dengan tunanganku itu. Maklumlah, untuk pria seperti Bumi, siapa yang tidak tergila-gila padanya kan? Semua wanita pasti berusaha mencari perhatiannya.”
Senja tertegun dengan perkataan Nesya. Senja bukan anak kecil yang tidak mengerti saat disindir. Apalagi tadi sikap Bumi pada dirinya memang terlalu terang-terangan. Wajar saja kalau Nesya curiga dengan kedekatan mereka.
“Kak Nesya tidak perlu khawatir. Aku yakin Bumi pria yang setia. Dia tidak akan seperti itu,” jawab Senja.
“Kau sepertinya sangat mengenalnya,” ucap Nesya.
“Aku tidak terlalu mengenalnya. Tapi setahuku dia memang tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Dia juga jarang sekali menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang saat malam, karena dia selalu sibuk bekerja. Kak Nesya benar, semua wanita banyak yang menggilainya, tapi pada kenyataannya tetap Kak Nesya lah tunangannya. Untuk itu sebaiknya Kak Nesya juga begitu, bisa setia seperti Bumi,” kata Senja balas menyindir Nesya.
Nesya tentu saja mengerti apa maksud perkataan Senja. Senja sedang menyindir dirinya yang pernah tepergok berhubungan dengan pria lain. Tapi dia berusaha untuk tenang dan tidak mau kalah begitu saja dari Senja.
“Ah...iya, kau benar. Bumi adalah tunanganku dan mungkin sebentar lagi akan menjadi suamiku. Semoga saja kalau ada wanita yang sedang mendekati Bumi bisa segera sadar bahwa dia tidak ada status apa-apa dengan Bumi dan segera menjauhinya. Karena aku tidak akan tinggal diam kalau ada yang merebut Bumi, tunanganku.”
Senja tersenyum menanggapi ucapan Nesya. Senja bisa membaca kalau Nesya mulai cemburu padanya.
“Jika kalian saling setia, hubungan kalian akan bertahan lama,” kata Senja menutupi perdebatan mereka.
Hufftt.....Senja menghela nafas dengan berat. Bumi sudah resmi bertunangan dengan Nesya tapi dia malah semakin sulit melupakan pria itu.
Tok tok tok.
Suara pintu ruangan diketuk. Senja melipat kembali koran yang ia baca lalu menyuruh tamunya masuk ke dalam.
Rupanya yang datang ke ruangannya adalah Pak Aris. Pria paruh baya itu datang dengan plastik berwarna biru di tangannya.
“Maaf mengganggu waktunya, Nona. Maaf saya sudah berani masuk ke ruangan Nona,” ucap Pak Aris yang tak enak hati mendatangi ruangan putri pemilik perusahaan itu.
“Tidak perlu sungkan begitu, Pak. Silahkan duduk dulu,” sahut Senja dengan ramah.
“Tidak apa-apa, Nona. Saya hanya ingin memberikan ini pada Nona Senja,” kata Pak Aris sambil memberikan bungkus plastik yang ia bawa.
Senja pun menerima bingkusan plastik itu dan membukanya. Isinya adalah keripik pisang yang disimpan dalam wadah berbahan plastik.
“Keripik pisang?”
“Iya, Nona. Itu keripik pisang buatan istri saya. Hari minggu kemarin istri saya dan saya membuatnya. Selama ini Nona sudah banyak membantu saya dan keluarga. Kami tidak bisa membalas apa-apa. Keripik pisang ini mungkin tidak sebanding dengan jasa Nona pada keluarga saya. Tapi kami tulus membuatnya untuk Nona,” kata Pak Aris dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Senja sangat tersentuh dengan pemberian Pak Aris dan istrinya. Bukan soal apa yang mereka berikan, tapi tentang Pak Aris yang mengingat jasanya. Ia bahagia karena bisa bermanfaat bagi orang lain.
Senja pun tersenyum dan berusaha menahan diri agar tak menangis saat itu. Dari dalam lubuk hatinya, sungguh ia sangat terharu.
Pak Aris mengangguk berkali-kali. Ada rasa bahagia yang menjalar hingga ke hatinya saat atasannya itu mau menerima pemberiannya. Sudahlah cantik, berpendidikan, hatinya juga sangat mulia. Untuk orang seperti Pak Aris yang tak punya apa-apa, hanya do'a yang bisa ia panjatkan agar Senja mendapatkan kehidupan yang bahagia.
Pak Aris lalu mengeluarkan lagi selembar kertas yang dilihat dari dalam sakunya. Ia memberi kertas itu pada Senja dan Senja pun menerimanya.
“Kalau yang itu, surat dari anak saya Arman. Dia menulisnya sendiri untuk Nona Senja. Kalau dia menulis yang bukan-bukan, tolong dimaafkan ya Nona. Soalnya saya tidak diizinkan membaca surat itu. Katanya khusus untuk Nona Senja,” kata Pak Aris.
Senja lagi-lagi kembali tersentuh. Bahkan sekarang Arman pun juga mengingat dirinya.
“Baiklah, Pak. Akan saya baca nanti. Sampaikan juga salam saya untuk Arman. Tolong katakan padanya kapan-kapan saya akan mengunjunginya lagi. Saya do’akan Arman cepat sembuh dari sakitnya.”
“Baik, Nona. Terimakasih banyak. Akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu Nona.”
Pak Aris pun pergi meninggalkan ruangan Senja. Setelah Pak Aris keluar, barulah Senja membuka kertas yang Arman berikan padanya. Senja membaca surat yang hanya beberapa kalimat itu dengan seksama. Meskipun sangat singkat tapi berhasil membuat matanya berkaca-kaca.
Untuk Kak Senja,
Terimakasih ya Kak sudah membantu Arman dan keluarga. Terimakasih atas pengobatan untuk Arman. Arman sayang Kak Senja. Semoga Kak Senja selalu bahagia.
Oh iya, maafkan Arman panggil Kakak bukan Nona. Soalnya Arman tidak punya Kakak yang baik seperti Kak Senja. Bolehkah Arman menganggap Kak Senja sebagai Kakaknya Arman?
Dari Arman (harap dibalas).
Setelah membaca surat itu Senja tak sanggup lagi menahan airmatanya lebih lama. Ia sampai menutup mulutnya saking terlalu haru mendapat kata-kata manis dari Arman untuknya.
Lihatlah, ada banyak kebahagiaan dan kebaikan yang ia dapat selama hidupnya. Meskipun ia tak mendapat kebahagiaan dari kisah cintanya, tapi ada cinta tulus lain yang ia dapatkan dari seorang anak kecil yang pernah ia bantu pengobatannya.
Senja merasa beruntung akan hidup yang ia jalani saat ini. Dia punya orang tua yang mencintainya, karyawan yang baik padanya dan sekarang ada seorang anak kecil yang juga menyayanginya. Kalau soal materi tidak perlu ditanya, semua yang ia mau bisa ia dapatkan dengan mudah. Lalu apa dia tidak terlalu serakah jika masih mengharapkan cinta Bumi untuknya?
Tok tok tok.
Pintu ruangan kembali diketuk. Senja dengan cepat menyimpan kertas itu dan menyeka airmatanya. Belum sempat ia menyuruh masuk, Andika sudah lebih dulu masuk ke ruangannya.
“Senja? Kamu kenapa, Sayang?”
Andika tentu panik saat melihat anaknya dalam keadaan menangis. Ia segera mendekati Senja dan langsung memeluknya.
“Katakan sama Papa, apa yang membuatmu menangis begini?” tanya Andika dengan khawatir. Ia masih memeluk anaknya bahkan mempererat pelukan itu.
“Pa, Senja tidak kenapa-napa. Tadi Pak Aris salah satu karyawan kita yang pernah Senja bantu, memberikan keripik pisang dan surat dari anaknya. Senja terharu dengan semua itu. Mereka mengingat dengan baik jasa Senja. Senja menangis karena terharu,” jawab Senja yang tak mau ayahnya khawatir.
Andika melerai pelukannya lalu menatap mata Senja yang masih basah karena menangis.
“Senja tidak bohong kan?” tanya Andika memastikan.
Senja menggeleng. “Senja tidak bohong, Pa.”
“Benar kamu menangis karena itu? Bukan karena Bumi kan?”
Deg.
Senja terkejut dengan pertanyaan ayahnya.