Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
51. Diary Jadi Saksi


Senja pulang ke rumahnya dengan lesu. Pertemuannya hari ini dengan Bumi membuat harinya menjadi mendung. Ia sendiri tak paham apa yang salah pada dirinya sehingga Bumi terlihat membencinya tadi.  


Saat makan malam pun Senja tampak tak berselera. Hanya sesekali ia menyendokkan makanannya ke mulut. Sisanya hanya diaduk-aduk saja.


“Apa masakan Mama malam ini tidak enak?” tanya Liliana yang mengembalikan kesadaran Senja.


Senja membenarkan duduknya lalu dengan cepat menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. “Enak kok, Ma. Sangat enak.”


“Kalau enak kenapa dari tadi makananmu hanya berkurang sedikit?” tanya Liliana lagi. Pasalnya Senja memang tidak terbiasa makan seperti itu.


“Tidak kenapa-napa, Ma. Ini Senja masih makan,” jawab Senja lalu kembali menyendokkan makanan ke mulutnya beberapa kali agar ibunya tidak bertanya lagi.


Liliana terlihat ingin berbicara lagi, tapi Andika dengan cepat menggelengkan kepala ke arahnya. Liliana pun mengurungkan niatnya itu. Andika tau pasti ada sesuatu yang membuat putrinya seperti itu. Tapi rasanya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahasnya.


***


Setelah selesai makan Senja berniat kembali ke kamarnya. Ketika dia akan menutup pintu, sang ayah langsung datang menahannya.


“Boleh Papa bicara sebentar?”


Senja menggeleng. “Senja lelah, Pa. Mau langsung tidur. Lain kali saja, ya.”


Ayahnya semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan putrinya saat melihat penolakan Senja. Ini kali pertama Senja menolak untuk berbicara pada ayahnya. Tapi ia tak mau memaksa Senja. Mungkin Senja sedang butuh waktu saat ini.


“Ya sudah, jangan begadang dan langsung tidur,” kata sang ayah lalu mencium kening putri kesayangannya itu.


“Kalau sudah merasa baikan, kau bisa cerita apapun pada Papa. Papa mencintaimu, Senja,” imbuh sang ayah yang mendapat anggukan dari Senja.


Kemudian Andika masuk ke kamarnya dan Senja pun menutup pintu kamarnya.


Senja membuka laci meja yang ada di samping tempat tidurnya. Ia mengambil buku diary dan pulpen disana lalu membawanya ke tempat tidur.


Ia mulai menelungkup sambil menuliskan sesuatu di buku diary nya itu.


Tuan Bumi Langit Dirgantara, hanya disini aku berani mengungkapkan bahwa aku mencintaimu. Entah sejak kapan cinta ini muncul, aku sendiri tidak menyadarinya. Yang jelas, hanya dengan mengingat wajahmu saja, aku merasa teramat sangat bahagia.


Hei, Bumiku! Aku ingin sekali protes padamu saat kau memarahiku sewaktu meeting tadi. Tidak tahukah kau kalau tindakanmu itu sudah melukai hatiku? Kenapa sikapmu kembali lagi seperti dulu? Kau kembali tampak dingin dan angkuh di hadapanku.


Aku tak tau harus senang atau sedih saat kau memperlakukanku seperti orang asing. Di satu sisi, aku memang ingin membuat jarak denganmu agar perasaanku ini tidak semakin dalam kepadamu. Tapi di sudut kecil hatiku ada yang memberontak, hati ini sudah terpaut olehmu. Lalu aku harus bagaimana?


Kau tau, aku tidak mungkin merebutmu dari sepupuku. Apalagi kau adalah satu-satunya kebahagiaan terakhir yang dia punya. Aku akan merasa bersalah seumur hidupku jika aku merebutmu darinya. Meskipun sebenarnya aku juga kasihan padamu karena sepupuku sudah mengkhianatimu dari belakang.


Bumi, biarkanlah jarak di antara kita tetap sebesar ini. Ini bukan kemauanku, tapi ini maunya takdir. Mungkin takdir mempertemukan aku dan dirimu untuk dijadikan pelajaran bagiku bahwa semua yang ku inginkan belum tentu bisa aku miliki, dan itu termasuk cintamu.


Tes.


Setetes airmata Senja lolos begitu saja sehingga membuat bukunya basah. Ia dengan cepat mengeringkan buku itu lalu menutupnya.


Lega. Itu yang kini Senja rasakan. Setidaknya apa yang tersimpan di hatinya sudah ia curahkan. Ia menyimpan kembali buku dan pulpen di dalam laci. Lalu ia masuk ke dalam selimut untuk mengistirahatkan dirinya.


“Semoga besok mood ku sudah baik kembali. Tenang Senja. Kau harus menghadapi semua ini. Kau pasti bisa,” ucap Senja menyemangati dirinya sendiri.


***


Di sudut kamar lain ada Bumi yang masih terjaga. Ia duduk bersandar di atas tempat tidurnya sambil melihat handphone yang ada di tangannya.


Beberapa kali ia tampak mengetik suatu pesan, lalu kemudian pesan itu kembali dihapusnya. Begitu terus yang ia lakukan berulang kali dari tadi. Pesan yang ia ketik itu ternyata untuk Senja.


Ia bimbang antara ingin meminta maaf pada Senja atas perbuatannya tadi siang atau tidak. Jujur, sebenarnya ia merasa teramat sangat bersalah karena memperlakukan Senja seperti itu. Tapi di sisi lain ia juga masih kesal kalau mengingat Senja berada dalam pelukan Dimas.


“Ck!” Bumi hanya berdecak lalu melempar handphone-nya sembarangan. Ia masih terlalu cemburu kalau mengingat hal itu. Akhirnya ia pun mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan pada Senja.


***


Hai semua, kalau kalian suka cerita ini jangan lupa like dan vote ya 🤗 Terimakasih 💙