
Senja melihat jam di laptopnya sudah menunjukkan pukul 6.15 sore. Setelah dari kantor, ia berencana untuk pergi lagi menyelidiki rumah Sonya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyewa seorang detektif untuk memata-matai Sonya nanti, tapi saat ini biar dia langsung yang mengintai rumah itu.
“Senja,” panggil Andika yang melihat Senja baru saja akan memasuki lift. Ternyata Andika juga baru saja selesai bekerja dan berencana akan pulang langsung ke rumahnya.
“Papa?” gumam Senja sambil menahan pintu lift agar tidak tertutup.
“Baru selesai juga?” tanya Andika lalu masuk ke dalam lift bersama Senja. Ia pun menekan tombol lantai paling bawah.
“Iya, Pa. Papa sudah mau pulang ke rumah?” tanya Senja.
“Kalau tidak pulang ke rumah, kemana lagi, Sayang?” kini Andika yang bertanya sambil mengacak gemas rambut putrinya itu.
“Hmmm...Senja tidak langsung pulang ke rumah dulu, Pa. Senja mau bertemu seseorang. Papa duluan saja,” jawab Senja.
Andika mengerutkan keningnya melihat Senja. “Mau kemana?” tanya Andika penuh selidik.
“Pergi ke rumah teman. Hanya sebentar. Senja janji tidak akan pulang lama,” jawab Senja.
Ting!
Pintu lift pun terbuka. Mereka telah sampai di lantai dasar gedung perusahaan itu.
“Senja duluan, Pa. Senja akan segera pulang,” pamit Senja lalu mencium pipi ayahnya dengan cepat kemudian berlari menuju mobilnya. Ia harus segera pergi dari sana sebelum sang ayah menahannya.
Andika hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku anak gadisnya.
Senja pun masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke rumah Sonya. Senja tidak menyadari, saat ia keluar dari gerbang perusahaan itu, ia sudah mulai diikuti oleh salah satu orang suruhan Bumi.
Di perjalanan Senja kembali mengingat peristiwa tadi malam. Ia teringat saat remaja laki-laki itu memanggil pria pemilik mobil dengan sebutan "Daddy". Rasanya aneh kalau bukan ayah kandung tapi memanggil dengan sebutan itu. Ah, rasanya Senja semakin penasaran saja.
Tapi ia tak mau gegabah dan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Untuk itu, ia pergi lagi ke rumah Sonya untuk mencari tau fakta terbaru tentang istri kedua pamannya dan pria kemarin malam.
Selama hampir setengah jam perjalanan, akhirnya Senja tiba di dekat rumah Sonya. Senja sengaja mengambil jarak sekitar dua rumah dari rumah Sonya agar tidak dicurigai. Sesampainya disana, ia melihat lagi mobil pria kemarin sudah terparkir disana.
“Sebenarnya ada hubungan apa antara pria itu dan istri kedua Om Adrian? Kenapa dia sering sekali mengunjungi rumah itu? Sepertinya memang ada yang tidak beres. Apa aku telfon Om Adrian saja, ya? Tapi kalau aku telfon Om Adrian, nanti ketahuan aku memata-matainya. Tidak. Sebaiknya aku tidak meneleponnya. Aku tunggu saja disini dulu. Nanti saat mobil itu pergi baru aku ikuti dari belakang untuk mencari tau siapa pemilik mobil itu,” ucap Senja pada dirinya sendiri.
Sementara itu jarak beberapa meter di belakang mobilnya, ada mobil orang suruhan Bumi yang mengawasi gerak-gerik Senja. Pria itu tampak mengeluarkan handphone dan menelepon seseorang.
“Hallo, Tuan. Saat ini saya berada tepat di belakang mobil Nona Senja. Sepertinya dia sedang mengawasi sebuah rumah. Saya akan mengirimkan lokasi rumah itu sekarang,” lapor pria itu pada seseorang di seberang telepon.
“Awasi terus kemana Nona Senja pergi. Segera lakukan tindakan jika memang diperlukan,” jawab pria yang ditelepon yaitu Jefri.
“Baik, Tuan.”
Pria itu pun menyimpan handphone-nya dan kembali mengawasi Senja. Jefri yang sedang berada di jalan bersama Bumi segera melaporkan pada Bumi tentang keberadaan Senja. Bumi tentu semakin khawatir pada Senja. Yang awalnya mereka akan pulang ke rumah, malah ia meminta Jefri untuk menyusul Senja ke rumah Sonya.
***
Senja melihat ke kiri kanan perumahan tersebut. Ada beberapa mobil yang lewat disana. Sepertinya mobil milik warga perumahan itu. Lalu Senja juga sempat melihat ada mobil yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Tapi ia tidak menaruh curiga kalau itu adalah mobil orang suruhan Jefri.
“Ah, sebaiknya aku mengintip saja ke rumahnya langsung. Aku tidak bisa berdiam diri saja disini.”
Senja yang nekat dan sudah tak sabar itu segera keluar dari mobilnya. Ia berjalan perlahan untuk masuk ke dalam rumah itu. Awalnya ia berniat untuk pura-pura salah rumah dan bertanya alamat seseorang. Tapi saat ia melihat rumah itu tampak sepi, ia malah memutari rumah itu sambil mengendap-endap untuk pergi ke belakang rumah.
Ketika sampai di belakang rumah, Senja justru melihat dari jendela kaca ketiga orang yang dilihatnya kemarin, sedang duduk di ruang makan bersama.
“Sudah lama aku tidak makan masakanmu,” ucap sang pria yang bernama Alan itu.
“Kau sebaiknya jangan sering-sering kesini! Bagaimana kalau suatu saat Adrian memergokimu? Aku harus bilang apa?” gerutu Sonya.
“Aku kan dokter. Bilang saja aku sedang memeriksamu atau anak kita ini. Beres kan?”
Deg.
Apa? Dokter? Anak kita? Berarti itu bukan anak Om Adrian dan mantan sekretarisnya?! Senja sontak melebarkan matanya mendengar perkataan Alan.
“Sudah! Jangan banyak bicara! Cepat makan setelah itu pulang,” kata Sonya lagi.
Kemudian mereka bertiga tampak melanjutkan makan tanpa berdebat lagi. Senja yang masih terkejut dengan perkataan pria tadi terus berdiri di samping jendela. Ia tampak mengeluarkan handphone-nya untuk menelepon seseorang. Sayangnya Senja tidak menyadari kalau Alan melihat bayangan dirinya di jendela.
Alan meninggalkan meja makan dengan perlahan lalu keluar untuk menangkap Senja. Baru saja Senja berhasil menelepon ayahnya, tiba-tiba dari belakang Alan sudah memukul tengkuknya dengan cukup kuat sehingga Senja tak sadarkan diri.
Brugh!
Senja langsung terjatuh di lantai. Alan dengan cepat mengambil handphone Senja dan mematikan panggilannya.
***
Sementara itu pria yang tadi mengikuti Senja kembali menelepon Jefri.
“Hallo, Tuan. Nona Senja sudah masuk ke rumah itu. Jadi bagaimana? Apa saya harus masuk kesana juga?” tanya pria itu pada Jefri.
“Tunggu dulu disana. Pastikan jangan ada yang keluar dari rumah itu. Aku dan Tuan Bumi sedang dalam perjalanan menyusul kesana,” jawab Jefri.
“Baik, Tuan,” sahut pria itu lalu mematikan panggilannya.
“Tuan, Nona Senja nekat masuk ke dalam rumah itu,” lapor Jefri pada Bumi.
Mendengar itu kening Bumi tampak berkerut. Jefri tau tuannya itu pasti sangat khawatir pada Senja.
“Tambah kecepatan! Kita harus sampai disana sesegera mungkin!” titah Bumi dengan perasaan yang tak tenang.
“Baik, Tuan,” sahut Jefri sambil menginjakkan gas mobilnya untuk menambah laju kecepatan mobil.