
Hari itu Senja ikut ayahnya menghadiri acara makan siang oleh rekan bisnisnya.Banyak para pengusaha hebat di negeri itu yang berkumpul disana. Tentu saja perwakilan dari perusahaan Dirgantara yaitu Bumi ikut hadir dalam acara tersebut.
Senja tak heran kalau Bumi ada disana. Siapa yang tidak kenal dirinya dan tidak mengundangnya. Tapi yang menjadi keterkejutan Senja adalah hadirnya Marcel di acara tersebut. Marcel terbilang pebisnis baru disana, tapi dia malah ikut diundang dalam acara itu.
“Senang sekali bertemu denganmu disini, Baby,” ucap Marcel saat mendekati Senja yang sedang berdiri sendiri untuk mengambil minuman.
“Jangan panggil aku seperti itu! Kau tidak bisa membedakan mana acara bisnis dan mana yang bukan?”
Benar apa dugaan Senja sejak awal dia melihat Marcel disana. Pria itu pasti mengganggunya.
“Okay, baiklah. Tidak perlu marah-marah,” kata Marcel sambil mengangkat kedua tangannya.
“Kau sudah terbiasa ikut ke acara seperti ini?” tanya Marcel lagi.
“Kau berisik sekali,” ketus Senja sambil meneguk minuman yang diambilnya.
“Come on, Senja. Kenapa kau selalu ketus padaku? Apa salahku? Aku tidak pernah berbuat buruk padamu bukan?”
“Kau tanya apa salahmu? Salahmu karena kau selalu muncul di hadapanku,” jawab Senja sengaja menyindir Marcel. Tapi yang disindir malah tidak tau malu.
“Itu artinya kita berjodoh. Lihat sekarang. Kita dipertemukan lagi di acara ini. Kenapa kau tidak berusaha menerima aku di hatimu?” tanya Marcel tanpa mempedulikan Senja yang jengah melihatnya.
“Berhenti membahas masalah pribadi. Aku kesini bersama papaku untuk urusan bisnis.”
“Kalau bisa membahas dua-duanya kenapa tidak? Aku mengejarmu bukan sehari dua hari Senja, tapi bertahun-tahun. Tapi kau tetap saja acuh padaku.”
“Kau mengejarku tapi kau tidur dengan wanita lain. Dasar gila! Aku masih waras. Kalau aku sudah gila, mungkin aku akan mempertimbangkan tawaranmu,” sindir Senja.
Senja yang sudah malas meladeni Marcel berencana untuk pergi bergabung bersama ayahnya, tapi tiba-tiba Marcel memegang lengan Senja untuk menahannya.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau mau membuka hatimu untukku, Baby?” tanya Marcel.
“Singkirkan tangan anda, Tuan!”
Senja dan Marcel langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Bumi. Bumi dari tadi memperhatikan gerak-gerik Senja secara diam-diam. Saat ia melihat Marcel mulai macam-macam dengan Senja, ia pun segera menghampiri mereka.
“Anda...”
“Lepaskan tangan anda!” ulang Bumi dengan nada yang mengintimidasi.
“Oh, i-iya, maaf Tuan,” ucap Marcel terbata lalu dengan segera melepaskan tangan Senja.
“Jangan salah paham, Tuan. Saya tidak bermaksud buruk. Lagi pula kami saling mengenal. Iya kan Senja?” kata Marcel membela diri. Melihat Bumi terus menatapnya dengan tajam membuat nyali Marcel jadi menciut.
“Jangan ulangi lagi perbuatan anda atau anda akan berhadapan dengan saya!” kata Bumi dengan nada mengancam.
“Baik, Tuan. Saya minta maaf,” jawab Marcel dengan cepat.
Bumi tak membalas lagi, ia menggenggam tangan Senja dan membawanya pergi dari hadapan Marcel. Senja sempat berbalik melihat Marcel yang tak berkutik di depan Bumi, lalu menjulurkan lidahnya sekilas mengejek Marcel.
Itu kan Bumi Dirgantara yang dijodohkan dengan Nesya. Kenapa dia terlihat dekat sekali dengan Senja? Tapi sebenarnya daripada dengan Nesya, dia memang lebih cocok dengan Senja. Marcel terus melihat ke mereka yang terus berjalan bergandengan dengan tatapan curiga.
Beberapa rekan bisnis yang melihat kedekatan mereka berdua juga merasa seperti ada sesuatu antara Bumi dan Senja. Beberapa dari mereka terlihat bergosip hingga terdengar ke telinga Andika, ayah Senja.
“Tuan, bukankah itu putri Tuan Andika?” tanya salah seorang rekan bisnis sambil menunjuk ke Bumi dan Senja dengan dagunya.
Andika melihat ke arah yang dimaksud. Memang benar ia melihat Bumi sedang memegang tangan Senja. Mereka sedang berjalan menuju ke luar ruangan.
“Oh, iya. Itu memang Senja anak saya,” jawab Andika.
“Dan yang satunya Tuan Muda Dirgantara, bukan? Mereka terlihat sangat serasi. Kenapa tidak dijodohkan saja mereka? Dua-duanya sama-sama mengerti bisnis. Sangat serasi,” tanya yang lain pula.
“Iya, betul itu. Saya setuju. Selama ini Tuan Muda Dirgantara tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus jika mereka memiliki hubungan?” timpal orang yang pertama bertanya tadi.
“Siapa, Tuan?”
“Nesya. Putri Adrian. Keponakan saya, yang berarti sepupu Senja,” jawab Andika.
Dua orang itu saling menoleh.
“Nesya? Yang artis itu?”
“Bukan. Dia bukan artis. Tapi teman-temannya banyak dari kalangan artis memang.”
“Oh, begitu. Sayang sekali. Padahal kalau dengan Senja putri Tuan Andika, saya rasa akan lebih cocok.”
"Iya, saya setuju. Mereka lebih cocok."
Andika tersenyum kikuk. Entah kenapa dalam hatinya juga membenarkan hal itu. Tapi dia tidak boleh egois, Bumi sudah lebih dulu dijodohkan dengan Nesya, keponakannya sendiri. Dia tidak mungkin tega merampas kebahagiaan keponakannya.
“Nesya juga anak yang baik. Dia juga cocok dengan Tuan Muda Dirgantara. Sudahlah, kita malah jadi bahas masalah pribadi. Padahal saya tadi mau bertanya soal proyek kita,” kata Andika sambil bercanda agar mereka segera mengalihkan topik pembicaraan.
Sementara Senja sendiri kebingungan karena Bumi terus menariknya hingga keluar dari ruangan itu.
“Hei, tunggu. Kenapa kita meninggalkan ruangan itu?” tanya Senja sambil menghentikan langkahnya.
“Menurutmu kenapa?" Bumi malah balik bertanya.
"Rupanya kau pun menyebalkan juga. Aku melempar pertanyaan, kau malah balik bertanya," ucap Senja dengan mengerucutkan bibirnya. Kemudian ia menarik tangannya yang digenggam Bumi.
Melihat ekspresi Senja yang sangat lucu menurut Bumi, ia tak tahan untuk tidak tersenyum.
"Kau lucu sekali. Jangan cemberut, kau terlihat seperti bebek," ledek Bumi.
"Kau bisa mengatai orang juga rupanya? Wah...ternyata kau manusia normal," kata Senja balik meledek Bumi.
"Kenapa kau bilang begitu? Aku memang manusia normal," tanya Bumi.
"Tapi kau selalu berwajah datar. Kau juga sangat irit kalau bicara. Jadi aku kira kau selalu serius dan tidak pernah bercanda," jawab Senja.
"Aku memang tidak sedang bercanda. Kalau kau cemberut seperti tadi, wajahmu terlihat seperti bebek."
"Kau...kau mengataiku lagi?" kata Senja sambil bercekak pinggang.
Bumi menurunkan tangan Senja agar tidak bercekak pinggang.
"Jangan bercekak pinggang seperti itu! Kau seperti preman pasar saja," kata Bumi.
"Biar saja. Kenapa kau yang sewot?"
"Sudah, jangan cemberut lagi! Mau aku panggil bebek?"
"Panggil saja, paling aku tidak akan menyaut," jawab Senja dengan cuek.
Bumi makin gemas dengan tingkah Senja. Ia menarik hidung senja dengan gemas sehingga Senja meringis.
"Sakit tau...."
"Biar saja."
Mereka asik bercanda satu sama lain sampai tidak sadar ayah Senja memperhatikan mereka dari jauh. Andika merasa heran dengan kedekatan mereka berdua. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Apa benar mereka memiliki hubungan lain selain hubungan bisnis? Tapi kenapa mereka terlihat dekat sekali. Bumi tidak lagi menjadi sosok yang pendiam seperti biasa. Dia terlihat lebih luwes dengan Senja. Begitupun dengan Senja. Dia bahkan lebih akrab dengan Bumi dibandingkan dengan Dimas. Apa mungkin mereka......