Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
42. Kebahagiaan Terakhir Nesya dan Ibunya


“Apa? Menikahi wanita lain?”


Senja kembali terkejut mendengar perkataan yang keluar dari mulut Nesya. Tidak mungkin paman kesayangannya itu memiliki istri lain di luar sana. Selama ini tidak pernah sekalipun terdengar kabar miring tentang keluarga mereka, termasuk masalah pernikahan lain pamannya. Mereka selalu tampak seperti keluarga yang harmonis di mata Senja.


“Jangan mengada-ngada! Om Adrian tidak mungkin seperti itu. Jangan mengalihkan kesalahanmu pada Om Adrian, Kak!" ucap Senja.


“Tapi itulah yang terjadi! Dan aku begini juga karena kesalahan papaku! Aku tidak pernah lagi mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Papa dan mamaku selalu bertengkar sampai aku benci pulang ke rumah. Makanya aku mencari kesenangan sendiri,” sanggah Nesya.


“Tidak, aku tidak percaya padamu! Kau sudah mengecewakan Tante Tari, Om Adrian dan juga....Bumi.”


Senja mendadak kasihan pada Bumi. Pria yang baik itu harus mendapatkan jodoh yang buruk dan memiliki pergaulan bebas seperti Nesya.


“Apa maksudmu? Aku mengatakan yang sebenarnya. Jangan campuri urusan pribadiku dengan Bumi!” bentak Nesya.


Dari tadi hanya Senja dan Nesya saja yang berdebat. Marcel hanya terdiam melihat persetujuan mereka. Berlama-lama disana membuat Senja muak. Ia pun segera keluar dari kamar itu.


“Senja...tunggu....!”


Nesya dengan cepat turun dari ranjangnya lalu mengambil kimono dan memakainya asal-asalan. Ia harus mengejar Senja.


Marcel pun ikutan turun dari ranjang dan memakai pakaiannya dengan terburu-buru. Sungguh apes sekali mereka hari ini karena telah tertangkap basah oleh Senja. Kalau sudah begini, usahanya untuk mendekati Senja sudah tidak ada harapan lagi.


***


“Senja, aku mohon jangan beritahu apapun pada mamaku. Aku tidak mau menyakitinya lagi. Sudah cukup dia menderita selama bertahun-tahun karena ulah papaku.”


Nesya hendak meraih tangan Senja, tapi Senja dengan cepat menepisnya. Ia seolah merasa jijik disentuh Nesya setelah melihat perbuatan Nesya tadi.


“Kau pasti bohong! Om Adrian tidak mungkin seperti itu,” sanggah Senja.


“Kalau kau masih tidak percaya, aku bisa memberikan alamat selingkuhan papaku kepadamu,” tantang Nesya.


Senja membeku. Nesya sepertinya memang berkata jujur soal ini. Apakah benar pamannya yang ia kenal sangat penyayang itu tega menikahi wanita di lain dan menelantarkan keluarganya?


“Kalau kau tau ini bisa membuatnya kecewa kenapa masih kau lakukan?” tanya Senja.


Nesya tersenyum sinis. “Jangan samakan kehidupanmu yang bahagia dan sempurna dengan kehidupanku yang hancur, Senja. Aku butuh melampiaskan kekesalanku, kekecewaanku! Dan sekarang harapanku tinggal satu. Bumi.”


Bumi?


“Aku sudah berjanji pada mamaku. Setelah aku menikah dengan Bumi, maka aku akan mengajak mama tinggal bersamaku. Aku akan memulai hidup baru bersama suami dan mamaku. Jadi aku harap, kau bisa menjaga rahasiaku ini. Tolong Senja, jangan ambil kebahagiaan terakhir mamaku lagi.”


Deg.


Hati Senja terasa berdenyut. Bumi adalah kebahagiaan terakhir bagi Nesya dan ibunya. Apa ini artinya dia harus benar-benar melupakan Bumi dari hidupnya?


Dilihatnya lagi wajah Nesya. Ia sadar Nesya seperti ini karena korban keluarganya yang tidak harmonis. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan keluarganya yang selalu hangat dan bahagia. Jadi, haruskah ia mengikuti permintaan Nesya?


“Baiklah, aku akan tutup mulut hanya karena aku peduli pada Tante Tari. Bukan karena aku membenarkan perbuatanmu. Dan aku mau kau hentikan kelakuan hinamu ini, kalau kau tetap berselingkuh di belakang Bumi, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk membongkar aibmu padanya.”


“Baik, aku setuju dengan permintaanmu,” jawab Nesya dengan cepat.


Senja pun berbalik ingin meninggalkan apartemen itu, tapi suara Marcel menghentikan langkahnya.


“Senja, tunggu! Aku ingin bicara dulu padamu,” panggil Marcel.


“Tolong jangan ganggu aku lagi kedepannya! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!” kata Senja tanpa membalikkan padanya.


Setelah itu barulah Senja meninggalkan apartemen Nesya dengan sejuta kekecewaan yang bersemayam di hatinya.


Bersambung.....