
Brugh!
Senja langsung terjatuh hingga tak sadarkan diri saat Alan memukulnya dari belakang. Alan pun segera mengambil handphone Senja dan mematikan panggilannya. Saat melihat layar handphone Senja, Alan terkejut melihat wallpaper di handphone itu. Disana nampak foto Senja tengah tersenyum dengan memakai topi toga dan diapit oleh kedua orang tuanya, Andika dan Liliana. Sepertinya itu adalah foto yang diambil saat Senja lulus dari kuliahnya.
Alan memang tak mengenal siapa Senja. Tapi Alan tentu sangat mengenal Andika, ayahnya. Terbit senyum menyeringai di wajah Alan. Ia yakin Senja pasti sedang memata-matai mereka.
“Gadis nekat! Beraninya kau datang kesini seorang diri. Apa maksud tujuanmu mengintai rumah ini? Padahal kau anak Andika, bukan Adrian.” Alan berdialog pada dirinya sendiri sambil menatap Senja yang masih tergeletak di lantai.
Tak lama Sonya dan anaknya, Arkan, menyusul Alan untuk melihat apa yang terjadi. Sonya terkejut saat melihat ada seorang gadis yang tergeletak di lantai.
“Alan, siapa dia? Kenapa dia terbaring di lantai? Kau apakan dia?” tanya Sonya dengan panik.
Alan menunjukkan wallpaper handphone Senja pada Sonya.
“Itu kan foto Andika dan istrinya. Jadi gadis ini...”
“Kau benar. Dia anaknya Andika, keponakan Adrian,” potong Alan.
Sonya tentu tambah terkejut mendengar perkataan Alan. Ia langsung khawatir kalau kebohongannya selama belasan tahun ini akan terbongkar. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupnya ke depan jika Adrian mengetahui kebohongannya selama ini.
“Jadi kita harus bagaimana sekarang? Aku tidak mau sampai Adrian mengetahui rahasia kita,” ucap Sonya dengan panik.
“Tenanglah, jangan panik dulu! Lebih baik kita bawa dia ke dalam dan kita ikat dia. Setelah dia sadar baru kita cari tau apa tujuannya mengintai rumah ini,” kata Alan.
Sonya pun hanya mengangguk menyetujui perkataan Alan. Senja akhirnya dibawa masuk ke dalam rumah dan dibawa ke gudang. Tangan dan kakinya diikat dengan tali tambang sekuat mungkin oleh Alan agar tak bisa lepas. Mulutnya juga dilakban agar nanti tak berteriak saat ia sadar. Tanpa beralaskan apapun, Senja dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai.
Sementara itu di kediaman Andika, ia merasa ada yang janggal dengan putrinya. Baru saja Senja meneleponnya tapi kemudian panggilan itu terputus begitu saja. Saat Andika coba menghubungi kembali nomor Senja, nomor itu malah sudah tidak aktif.
“Ada apa, Sayang?” tanya Liliana yang ada di sebelahnya.
“Senja tadi menelfonku, tapi tiba-tiba telfonnya terputus begitu saja. Saat aku menelfon balik, nomornya sudah tidak aktif,” jawab Andika yang mulai khawatir tentang anak semata wayangnya itu.
“Tidak. Dia tadi sudah pulang. Katanya ada keperluan sebentar. Tapi entah kenapa aku jadi khawatir dengannya. Aku akan meminta anak buahku mencari keberadaan Senja.”
“Iya, Sayang. Aku setuju.”
Andika pun segera menghubungi asistennya untuk mengerahkan anak buahnya mencari Senja. Ia tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anak semata wayangnya itu. Nalurinya mengatakan, Senja sedang tidak baik-baik saja saat ini.
***
Di tempat lain ada Bumi dan Jefri yang baru saja masuk di perumahan tempat Sonya tinggal. Melihat ada mobil Bumi datang, pria yang ditugaskan Bumi mengawasi Senja pun segera keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil itu.
Bumi pun segera menurunkan jendela kaca mobilnya untuk berbicara dengan pria tersebut.
“Tuan, Nona Senja sudah dari tadi masuk ke dalam dan belum ada tanda-tanda keluar dari sana juga, Tuan,” lapor pria itu.
“Apa kau mendengar ada sesuatu yang aneh dari rumah itu?” tanya Bumi.
“Tak lama Nona Senja masuk ke dalam, saya mendengar seperti ada bunyi sesuatu yang jatuh, Tuan. Tapi saya tidak bisa memastikan apa itu,” jawab pria itu.
Bumi terdiam sejenak. Perasaannya makin tidak enak. Ia yakin Senja pasti dalam bahaya saat ini.
“Jadi, bagaimana Tuan? Kita menyusul ke dalam?” tanya Jefri yang tampak sudah tak sabaran.
“Kita susul ke rumah itu sekarang. Dan kau, tetap berjaga di depan. Jika mendengar sesuatu yang aneh dari dalam, langsung masuk dan bantu kami!” titah Bumi.
“Baik, Tuan.”
Bumi dan Jefri pun segera turun dari mobil. Dengan langkah tergesa-gesa Bumi mendahului Jefri untuk menyusul Senjanya.
Bersambung...