Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
50. Merasa Asing


Brugh.


Karena berjalan terlalu terburu-buru, Pak Aris karyawan di perusahaan yang sempat Senja tolong tak sengaja menabrak atasannya itu saat Senja baru saja masuk ke kantornya.


“Maaf, Nona. Maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja, Nona. Tolong maafkan saya,” ucap Pak Aris dengan wajah pucat. Dia tak mau dianggap lancang karena sudah berani menabrak atasannya itu.


“Tidak apa-apa, Pak. Saya juga tidak kenapa-napa. Lain kali Bapak jalannya hati-hati, biar tidak menabrak yang lain lagi,” ujar Senja dengan ramah.


“Baik, Nona. Sekali lagi saya minta maaf. Saya sedang buru-buru, Nona,” ucap Pak Aris yang terlihat sedang tergesa-gesa sekali.


“Buru-buru kenapa, Pak? Bukannya ini masih pagi? Trus Bapak kenapa bawa tas segala?” tanya Senja yang baru sadar melihat Pak Aris memakai tas selempang lusuhnya seperti mau pulang kerja.


“Anak saya kumat, Nona. Saya harus pulang sekarang. Tadi saya sudah ijin sama bagian HRD. Kalau begitu saya permisi dulu, Nona.”


“Tunggu! Biar saya antar Bapak kalau begitu.”


“Tidak usah, Nona. Terimakasih. Saya tidak mau merepotkan Nona.” Dulu sudah pernah ditolong, sekarang rasanya Pak Aris sangat sungkan jika Senja menolongnya lagi.


“Tidak masalah. Anak Bapak butuh pertolongan secepatnya. Ayo ikut saya!” kata Senja setengah memaksa.


Senja tak menerima penolakan. Gadis yang memiliki jiwa sosial tinggi itu akhirnya mengantarkan Pak Aris pulang ke rumahnya. Tak hanya sampai disitu, Senja juga ikut mengantar anak Pak Aris ke rumah sakit untuk mendapat penanganan dokter. Memang benar, anak Pak Aris tiba-tiba kumat dan mengalami sesak nafas.


Akibat terlalu sibuk membantu Pak Aris, Senja sampai lupa bahwa hari ini dia ada meeting dengan perusahaan Dirgantara.


Drrrt drrttt drrrt.


Handphone milik Senja bergetar dari saku jasnya. Ternyata ada panggilan dari kantornya.


“Ya, hallo.”


“Maaf, Nona. Disini ada Tuan Muda Dirgantara dan asistennya yang sudah menunggu di ruang meeting. Apa Nona....”


“Astaga! Aku sampai lupa. Minta mereka menunggu sebentar. Aku akan kesana sekarang.”


“Baik, Nona.”


Senja yang tengah berada di rumah sakit langsung berpamitan pada Pak Aris dan istrinya. Ia pun sempat memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada Pak Aris sebelum pergi, sementara biaya rumah sakit sudah dilunasinya dari tadi. Pak Aris merasa semakin sungkan karena telah banyak berhutang budi pada atasannya itu. Mungkin diantara banyak orang yang pernah Pak Aris kenal dalam hidupnya, hanya Senja lah manusia berhati tulus yang selalu menolong tanpa pamrih.


Senja pun segera mengendarai mobilnya dengan cepat menuju ke perusahaannya. Ia benar-benar lupa bahwa hari itu ia ada jadwal meeting dengan perusahaan Dirgantara.


Hampir setengah jam menghabiskan waktu di perjalanan, akhirnya Senja sampai juga di kantornya. Ia dengan terburu-buru menaiki lift setengah berlari untuk segera sampai ke ruang meeting.


Braakkkk.


Senja membuka pintu ruang meeting dengan sedikit kasar. Nafasnya masih terengah-engah saat masuk ke ruangan itu. Bumi dan Jefri sontak melihat ke arah Senja. Mereka pun bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi dengan gadis itu.


Bumi tak menjawab, ia menatap Senja yang sedang sibuk membuka file persentasenya hari ini dengan sangat tergesa. Ingin sekali rasanya Bumi meminta Senja untuk tenang dan menarik nafas sejenak agar dirinya lebih santai. Tapi ia tak melakukan itu. Tekadnya untuk mendiamkan Senja lebih besar dari kepeduliannya pada Senja saat ini. Ia harus berusaha menahan dirinya.


Senja pun memulai persentasenya hari itu. Ia membagikan laporan yang telah ia buat pada Bumi. Mereka tampak seperti orang asing saat ini. Benar-benar sebatas rekan kerja, dan tidak lebih.


Senja merasa hari ini Bumi sedikit berbeda. Tidak ada kehangatan darinya. Tapi Senja sendiri tak tau kenapa. Rasanya ia tak melakukan kesalahan apapun pada Bumi. Apa jangan-jangan Bumi marah padanya karena kemarin tak hadir meeting bersamanya? Sepertinya bukan karena itu.


Begitu pula dengan Bumi, ia merasa Senja yang hari ini ia lihat bukanlah Senja yang biasa ia temui. Di antara mereka seperti ada jarak yang sama-sama mereka ciptakan. Semua kini terasa asing bagi keduanya.


Bruukkk.


Bumi melempar hasil laporan Senja ke atas meja dengan cukup keras. Bukan hanya Senja yang berjingkit karena terkejut. Jefri juga melakukan hal yang sama.


Ada apa dengan Tuan Bumi? Jefri merasa heran dalam hati. Ia melirik sekilas ke arah tuannya yang berwajah dingin itu.


“Progress yang perusahaan anda cantumkan di perjanjian tidak sama dengan progress yang terjadi di lapangan!” koreksi Bumi dengan nada tidak suka.


Memang ada kendala yang dihadapi pihak Senja, itu sebabnya progress yang berjalan di lapangan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Senja tau, Bumi pasti sangat kecewa. Pengusaha yang terkenal sangat perfeksionis itu tidak suka jika proyeknya tidak berjalan sesuai rencana.


“Maaf, Tuan Dirgantara. Saya tau ini pasti sangat mengecewakan pihak anda, tapi kami...”


“Saya butuh solusi, bukan sekedar maaf. Bahkan maaf sekalipun tidak bisa mengubah sesuatu yang sudah terjadi.”


Senja terdiam mencerna kata-kata Bumi. Sebenarnya Bumi sedang membahas proyek atau hal lain?


“Saya tidak mau mendengar maaf saja. Apa perusahaan Nona tidak ada solusi untuk menangani masalah ini? Jika sekarang progress sudah berkurang lima persen dari yang dijanjikan, bukankah itu artinya akan ada keterlambatan jadwal dalam menyelesaikan proyek ini?” tanya Bumi.


“Pihak kami akan berusaha keras untuk menyelesaikan proyek ini sesuai jadwal yang sudah kita sepakati di awal, Tuan,” jawab Senja dengan sungguh-sungguh.


Bumi berdiri. Ia menatap dingin pada gadis yang saat ini balas menatapnya dengan heran. “Buktikan ucapan anda, Nona! Kita akan melanjutkan meeting jika proyek sudah kembali berjalan stabil,” ucap Bumi dengan tegas.


Bumi pun segera melangkahkan kakinya hendak pergi dari ruangan itu. Jefri dengan segera mengikuti tuannya dari belakang. Saat berada di depan pintu, Bumi berhenti sejenak lalu berkata tanpa membalikkan badannya.


“Saya tidak suka keterlambatan. Waktu saya terlalu berharga hanya untuk sekedar menunggu. Apalagi menunggu sesuatu yang ternyata tak bisa diharapkan!”


 Eh?


Setelah mengatakan itu barulah Bumi menghilang dibalik pintu bersama asistennya.


Senja terus menatap pintu yang menelan kepergian Bumi. Ada apa dengan Bumi hari ini? Sudah hilang kehangatan yang selalu ia berikan selama ini. Kenapa Senja merasa begitu asing dengan sosok yang barusan ia temui? Ah, tidak! Sebenarnya tidak asing. Ini adalah sosok Bumi yang ia kenal ketika pertama kali mereka bertemu. Ya, Bumi sudah kembali pada kepribadiannya yang dulu.


***


Hai semua 🤗 Terimakasih karena sudi membaca, jangan lupa berikan dukungan pada penulis ya dengan like dan vote karya ini 😊 Happy reading 💙