
“Kau mau kemana malam-malam begini, Nesya?” tanya Adrian pada Nesya yang baru saja keluar dari kamarnya dengan berpakaian seperti hendak berpesta.
“Oh, ini, ada temanku ulang tahun, Pa. Jadi aku mau kesana,” jawab Nesya yang tentu saja berbohong.
“Ke club?” tebak Adrian.
“Bukan, Pa. Ulang tahunnya di cafe kok.” Sudah dua kali ia bohong.
“Pulangnya jangan terlalu malam. Cuaca juga sedang tidak bagus. Ingat, sekarang kau sudah menjadi tunangan anak Tuan Dirgantara. Bukan hanya nama baik keluarga Wijaya saja yang harus kau jaga, tapi nama baik keluarga Dirgantara juga,” kata ayahnya menasehati.
“Iya, Pa. Papa jangan khawatir. Lagipula aku cuma pergi sebentar. Ya sudah, aku pergi dulu ya, Pa,” pamit Nesya lalu pergi meninggalkan rumahnya.
Sebenarnya Adrian merasa sangat khawatir tiap kali melihat Nesya keluyuran malam-malam begini. Tapi Nesya juga bukan anak kecil lagi yang bisa ia larang dengan cara keras. Keluarganya juga baru saja kembali harmonis. Jadi untuk sementara ini, Adrian hanya bisa mengingatkan putrinya itu agar lebih berhati-hati dalam bergaul.
Malam itu tentu saja tidak ada temannya yang berulang tahun. Ia juga bukannya pergi ke cafe tapi malah pergi ke club malam langganannya. Disana sudah ada beberapa temannya yang menanti kedatangannya.
“Maaf, aku telat. Kalian sudah sampai dari tadi, ya?” tanya Nesya lalu ikut duduk di sofa bersama teman-temannya.
“Tidak juga. Baru setengah jam. Kau akhir-akhir ini jarang sekali kelihatan datang kesini. Apa tunanganmu mulai melarangmu keluar malam?” tanya salah satu temannya.
Hah, boro-boro tunanganku itu mau melarangku. Peduli padaku saja tidak! Untung tampan dan kaya. Kalau tidak, sudah lama aku tinggalkan. Umpat Nesya dalam hati.
“Tidak, bukan dia. Tapi Papaku. Papaku memintaku supaya tidak sering-sering keluar malam,” jawab Nesya lalu meminum minuman yang sudah disediakan untuknya.
“Tentu saja Papamu itu melarangmu. Kau kan calon istri dari keluarga Dirgantara, keluarga terpandang disini. Sudah seharusnya kau bersikap baik bak putri raja, bukan malah clubbing seperti ini,” ucap teman yang lain sambil terkekeh.
“Itu membosankan. Aku lebih senang seperti ini. Bebas jadi diriku sendiri,” sahut Nesya sambil meneguk kembali minuman di tangannya.
Tak lama datang lagi salah seorang teman Nesya yang bernama Catherine. Dia adalah seorang artis dan juga pemilik club itu. Catherine pun memanggil Nesya untuk bicara empat mata padanya.
“Ada apa, Cath? Kenapa sepertinya serius sekali sampai kau ingin berbicara empat mata padaku seperti ini?” tanya Nesya penasaran.
“Begini, aku dapat informasi dari salah satu karyawanku disini. Katanya minggu lalu ada seseorang yang bertanya tentangmu. Dia bertanya apa kau sering datang kesini atau tidak. Bahkan dia sempat ingin melihat rekaman CCTV club ini,” jawab Catherine.
“Lalu? Kau memberikannya?” tanya Nesya dengan khawatir.
“Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin memberikannya. Untuk itu, aku rasa kau harus berhati-hati,” jawab Catherine.
“Syukurlah kalau kau tidak memberikannya. Bisa-bisa kelakuanku selama ini terbongkar semua. Entah berapa kali aku berciuman dengan Marcel di club ini. Nama besar keluargaku dan keluarga tunanganku bisa rusak karena itu,” kata Nesya dengan serius.
“Marcel? Kau masih sama pria blasteran itu? Kau kan sudah ada tunangan,” tanya Catherine.
“Tunanganku mana mau clubbing seperti ini. Dia terlalu polos. Nanti setelah menikah biar aku ajarkan lebih nakal sedikit,” jawab Nesya sambil terkekeh.
“Marcel sih cuma partner senang-senang. Tidak lebih,” sambungnya.
“Partner ranjang maksudmu?” tanya Catherine secara blak-blakan.
“You know that!” jawabnya dengan cuek.
“Saranku, kau lebih hati-hati lagi. Bisa jadi juga pria yang kemarin mencari tau tentangmu itu adalah orang suruhan tunanganmu. Atau bisa jadi itu paparazzi yang ingin menghancurkan nama baik keluargamu,” saran Catherine.
“Kalau tunanganku sih, sepertinya tidak mungkin. Dia tidak suka ikut campur urusan pribadiku,” sanggah Nesya.
“Lalu menurutmu siapa?”
“Paling paparazzi. Kalau iya, tinggal aku bayar saja pakai uang. Selesai. Mereka mencari berita seperti itu paling untuk mengejar uang saja kan?”
“Mungkin saja. Tapi ingat, tetap berhati-hati lagi!” saran Catherine.
“Ya sudah, aku hanya ingin bilang itu saja. Aku mau menyapa tamuku yang lain dulu,” pamit Catherine lalu pergi meninggalkan Nesya.
Nesya terdiam sejenak. Sejujurnya ia penasaran juga dengan seseorang yang berusaha mencari tau tentangnya. Tapi siapa orang itu? Rasanya dia tidak punya musuh. Apa mungkin itu orang suruhan Bumi seperti yang Catherine bilang tadi? Ah, tidak mungkin. Peduli saja tidak padanya, bagaimana mungkin Bumi mau susah payah menyuruh orang memata-matainya, pikir Nesya.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Tertulis nama Marcel pada layar handphone itu. Nesya pun menyunggingkan senyumnya lalu menjawab panggilan dari Marcel.
“Hallo.”
“Hallo, Baby. Kau lagi ada dimana?” tanya Marcel dengan suara menggoda khas-nya.
“Tanpa perlu aku jawab, kau pasti bisa menebak aku ada dimana. Kau tidak bisa dengar suara musik sekencang ini?” Nesya mulai memancing Marcel.
“Tentu aku tau, Baby. Aku hanya mengetes kejujuranmu saja,” jawab Marcel sambil terkekeh.
“Kau buang-buang waktu saja meneleponku,” ucap Nesya.
Tiba-tiba...
“Awwhhh....” Nesya menjerit saat seseorang memeluknya dari belakang. Orang itu tak lain adalah Marcel.
“Marcel, kau nakal sekali!” hardik Nesya.
“Sorry, Baby. Aku sangat merindukanmu,” ucap Marcel sambil menenggelamkan wajahnya di bahu Nesya.
Nesya melepaskan tangan Marcel yang ada di perutnya lalu ia berbalik menatap Marcel.
“Kau tidak sabaran sekali, besok malam kita akan bersenang-senang di apartemenmu,” kata Nesya sambil mengalungkan tangannya ke leher Marcel.
“Ah, lama sekali. Bagaimana kalau kita lakukan malam ini saja?” tawar Marcel.
“Tidak bisa, Marcel. Aku sudah janji pada papaku untuk pulang cepat malam ini. Sabarlah sebentar. Besok kau bisa memilikiku seutuhnya.”
“Promise?”
“Yes, I'm promise.”
Marcel pun tersenyum senang. Tanpa ragu-ragu ia mencium bibir wanita di depannya itu dengan brutal. Nesya pun tak tinggal diam. Ia juga membalas setiap ciuman dari Marcel.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Pria dan wanita yang asik bermesraan itu tak sadar jika ada seseorang disana yang mengambil foto mereka secara diam-diam lalu mengirimkannya pada Jefri.
Jefri yang baru saja berbaring di atas tempat tidurnya, terbangun kembali saat mendengar handphone-nya bergetar. Ia pun segera mengecek pesan yang masuk.
“Cih, sia-lan! Menjijikkan! Mengotori mataku saja! Tau begini aku tidur saja tadi. Besok aku akan beritahu ini pada Tuan Bumi.”
Jefri pun meletakkan handphone-nya dan kembali berbaring di tempat tidurnya.
.
Bersambung...