Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
126. Sebuah Penyesalan


Flashback pada hari ke 30 Senja mengalami koma.


Saat itu Tuan Dirgantara bersama asistennya mendatangi rumah sakit untuk pasien dengan gangguan mental tempat Nesya dirawat. Ia bertemu langsung dengan kepala rumah sakit itu yang bernama Dokter Eka.


“Bagaimana kondisinya?” tanya Tuan Dirgantara tanpa basa-basi.


Dokter wanita itu sudah mengerti siapa yang dimaksud oleh Tuan Dirgantara. Ia pun menjelaskan tentang perkembangan Nesya.


“Sejujurnya pasien sudah berangsur pulih, Tuan. Dia hanya butuh berkonsultasi secara rutin dengan seorang psikiater dan dia juga butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya saat ini. Menurut saya dia anak yang baik, dia begini juga dampak dari keluarganya yang sempat broken home beberapa waktu lalu. Dia tumbuh tanpa perhatian dan kasih sayang sehingga membuatnya mencari kebahagiaannya sendiri di luar sana, akhirnya dia malah salah langkah.”


“Tapi itu tidak bisa dijadikan pembenaran atas perbuatannya yang berani membahayakan nyawa calon menantuku!” sanggah Tuan Dirgantara.


Dokter Eka paham sekali bagaimana perasaan Tuan Dirgantara. Hanya saja ia masih berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk setiap pasiennya. Jika memang pasien sudah dinyatakan sembuh dan tidak butuh tinggal lebih lama disana, maka tidak ada alasan baginya untuk menahan pasien berlama-lama.


“Betul, Tuan. Yang Tuan katakan memang benar adanya. Perbuatannya tidak bisa dibenarkan. Hanya saja disini, pasien juga tidak bisa mengubah kebiasaannya yang sudah mendarah daging dengan sekelip mata. Dengan adanya peristiwa ini, dengan dihukumnya dia di rumah sakit ini, saya rasa bisa membuatnya sadar atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Saya rasa dia berhak mendapatkan kehidupan yang layak dan normal di luar sana, Tuan,” kata dokter Eka agar Tuan Dirgantara mau menerima pendapatnya.


“Aku rasa hukuman ini belum cukup untuknya. Bahkan calon menantuku saja masih terbaring koma di rumah sakit karena perbuatannya. Dan anakku Bumi Langit Dirgantara, dia masih tersiksa karena terus menunggu kekasihnya itu koma. Tetap urus dia! Jangan biarkan di keluar dari sini tanpa seijinku!” kata Tuan Dirgantara yang tak dapat dibantah.


Tuan Dirgantara pun keluar dari ruangan dokter Eka dan segera meninggalkan rumah sakit itu.


Setelah Tuan Dirgantara pergi, dokter Eka mengunjungi kamar tempat Nesya berada. Nesya saat itu sedang duduk bersandar di atas ranjangnya sambil termenung jauh.


“Hai, Nesya. Apa kabarmu hari ini?” tanya dokter Eka sambil ikut duduk di tepi ranjang melihat Nesya.


Nesya mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menoleh ke sumber suara, ternyata ada dokter Eka disana. Diantara banyak petugas disana, ia hanya akan berbicara pada dokter Eka saja. Menurutnya, hanya dokter itulah yang paling mengerti kondisinya saat ini. Dokter wanita itu juga selalu memberikannya nasehat dan dukungan agar ia selalu bersemangat untuk menjalani kehidupannya.


“Aku masih sama seperti sebelumnya, Dokter. Aku tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk. Dan mungkin seumur hidupku akan terus seperti ini,” jawab Nesya dengan getir.


Dokter Eka tampak mengusap-usap bahunya, mencoba memberikan semangat kepadanya.


“Sabarlah dulu. Sebentar lagi. Hanya menunggu sebentar lagi saja. Saya yakin kau akan kembali hidup normal seperti biasa,” ucap dokter Eka.


Nesya menggelengkan kepalanya. “Tidak, Dokter. Semua sudah berubah. Aku yang membuat hidupku sendiri seperti ini. Aku terlalu mengikuti kebodohanku, mengikuti nafsu amarahku yang tak beralasan, sehingga aku tega menyakiti orang sebaik sepupuku sendiri.”


Nesya terus menangis menyesali perbuatannya. Ia sudah menyadari segala kesalahannya dulu. Hampir setiap hari saat ia mendapat kunjungan dari orang tuanya, ia tak bereaksi apa-apa selain diam di tempatnya. Sejujurnya saat itu ia sedang menahan kerinduan yang teramat dalam pada keluarganya. Tapi ia tak mau orang tuanya tau kalau dia sudah sembuh. Ia tak mau melihat orang tuanya tambah sedih jika tau anaknya sudah sembuh tapi tetap tak diizinkan keluar dari sana.


Dokter Eka sudah menceritakan semua pada Nesya saat ia sudah berangsur pulih. Dokter Eka jugalah yang telah menyadarkannya dan membuatnya menyesali perbuatannya.


Pernah suatu ketika Nesya dan Dokter Eka lewat di sebuah kamar rumah sakit dimana sang pasien terus berteriak ingin mati saja. Lalu Dokter Eka bercerita pada Nesya, pasien itu adalah korban ruda paksa seorang pria yang tak dikenalnya, dan itu terjadi seminggu sebelum pernikahan pasien itu berlangsung. Alhasil pasien itu pun jadi hilang akal dan selalu ingin menamatkan riwayat hidupnya sendiri. Ia selalu berteriak ingin mati. Dan ia menjadi pasien yang paling susah ditenangkan.


Tak hanya disitu, berbekal foto dari orang tua Nesya yang menunjukkan masa kecil Nesya dan Senja saat sedang main bersama atau sedang kumpul keluarga, Dokter Eka mengingatkan kembali pada Nesya bahwa Senja adalah sepupunya, bagian dari keluarganya, tidak seharusnya ia malah menyakiti Senja, justru mereka harus saling menyayangi dan melindungi. Dalam foto mereka waktu kecil, mereka tampak kompak tertawa bahagia. Dari situlah akhirnya pelan-pelan Nesya mulai sadar dan menyesali perbuatannya.


Dokter Eka pun meraih kedua tangan Nesya yang sedang menutupi wajahnya. Ia menghapus airmata Nesya dan berusaha membujuknya.


“Nesya, yakinlah. Jika kau memang sungguh-sungguh mau berubah menjadi lebih baik, kau pasti akan mendapatkan hidup bahagia yang layak untukmu setelah ini. Kau hanya perlu bersabar menunggu saat itu tiba,” bujuk dokter Eka dengan lembut.


“Terimakasih, Dokter. Terimakasih sudah membantuku untuk menyadari kesalahanku. Aku hanya ingin pulang. Pulang kembali ke keluargaku, Papaku, Mamaku,” ucap Nesya di sela isakannya.


“Kau pasti akan berkumpul dengan keluargamu lagi, Nesya. Itu pasti!” sahut dokter Eka memberi semangat pada Nesya.


Nesya pun mengangguk dan menyeka sisa-sisa airmatanya.


"Selain kedua orang tuamu, kau juga punya pria yang selalu setia memberikan bunga padamu setiap kali dia datang berkunjung. Saya lihat dia pria yang baik. Dia juga hampir menikah denganmu bukan sebelum kejadian ini? Saya rasa tidak ada salahnya kau memberi kesempatan untuknya. Dia juga bisa membantumu menjadi lebih baik lagi ke depannya," saran Dokter Eka.


Nesya pun langsung teringat akan Marcel. Pria yang juga sering mengunjunginya. Jujur, ia memang sudah mulai tergugah melihat kegigihan Marcel yang selalu mengunjunginya dan berusaha menghiburnya.


Tapi entahlah, bahkan dengan Marcel saja dia merasa tidak pantas untuk bersanding. Menurutnya Marcel terlalu baik untuknya. Sekarang ini dia lebih banyak minder dan kehilangan kepercayaan diri.


Nesya pun tersenyum menanggapi saran dari dokter Eka. Ia belum bisa memutuskan apakah akan melanjutkan hubungannya dengan Marcel atau tidak untuk saat ini. Ia hanya ingin fokus memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu.


.


Bersambung...