Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
71. Pria Itu Dipanggil "Daddy"


Drrrt drrttt drrrt drrttt.


Handphone milik Senja bergetar. Ada panggilan masuk dari sahabatnya Viona. Dengan cepat Senja menjawab panggilan itu sambil memperhatikan rumah wanita yang diantar pamannya.


“Hallo, Vio. Ada apa?”


“Hallo, Senja kau dimana?” Viona malah balik bertanya.


“Aku lagi di... di jalan. Iya di jalan pulang,” jawab Senja berbohong.


“Di jalan? Suaranya seperti tidak sedang di jalan,” ujar Viona.


“Ini... aku sedang mampir sebentar. Ngomong-ngomong ada apa kau menelfonku?”


“Aku mau mengajakmu makan di luar. Mau tidak? Pekerjaanku sedang banyak sekali. Aku pusing. Mau cerita banyak,” jawab Viona yang terdengar sedang ada masalah pekerjaan.


“Makan ya? Baiklah, kalau begitu....”


Perkataan Senja terhenti saat melihat ada tiga orang yang keluar dari rumah itu. Ada pria yang membawa mobil, wanita yang diantar Adrian dan satu orang remaja laki-laki yang badannya sedikit berisi. Mereka tampak masuk ke dalam mobil seperti akan bepergian.


Siapa mereka itu? Kira-kira mereka mau kemana, ya?


Terlalu sibuk memperhatikan orang-orang di depannya membuat Senja lupa kalau dia masih berteleponan dengan Viona.


“Hallo....Senja...apa kau masih disana? Kau masih mendengarkanku tidak?” tanya Viona dari balik telepon.


“Eh, iya, iya, sorry. Vio, aku ada urusan mendadak sekarang. Nanti aku kabari lagi, ya.”


“Tapi kita jadi tidak........”


Tuttt tuuttt tutttt.


Senja langsung mematikan panggilan telepon dari Viona dan menyalakan mobilnya untuk mengikuti mobil pria tadi yang mulai bergerak meninggalkan rumah.


Rasa penasaran Senja sangat tinggi sehingga rela menjadi penguntit wanita itu. Ia ingin tau tentang istri kedua dari pamannya. Dengan jarak aman, Senja terus membuntuti kemana mobil itu pergi. Hingga akhirnya sampailah mereka di salah satu restoran seafood besar.


Senja ikut masuk ke dalam dan menelepon Viona. Kalau dia makan berdua disana, tidak akan terlalu ketara kalau dia sedang mengikuti istri kedua pamannya.


“Tumben sekali kau mengajakku makan ke tempat sejauh ini,” ucap Viona.


“Sekali-sekali tidak masalah,” sahut Senja. Viona tidak tau saja sahabatnya itu sedang menjadi mata-mata istri kedua pamannya.


“Ya sudah, ayo makan! Aku traktir semuanya,” kata Senja lagi yang membuat Viona senang.


“Wah, kau baik sekali, tau saja membuat hati sahabatnya senang,” jawab Viona sambil terkekeh.


Mereka pun makan bersama. Tapi pandangan mata Senja tak lepas dari tiga orang yang sedang makan di meja ujung sana. Senja terus mengamati gerak-gerik ketiga orang itu. Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Apa mereka memiliki ikatan saudara? Lalu siapa pria itu? Sepertinya dia akrab sekali dengan remaja laki-laki itu. Begitu banyak pertanyaan yang bermain di kepala Senja saat ini.


Kurang lebih setengah jam kemudian, mereka bertiga tampak sudah menyelesaikan makan malam mereka dan akan meninggalkan restoran. Senja tentu tak mau ketinggalan. Ia segera berpamitan pada Viona untuk ke toilet sebentar.


“Vio, aku ke toilet sebentar. Kau lanjutkan saja makanmu dulu,” pamit Senja.


“Baiklah. Jangan lama-lama, ya,” sahut Viona yang masih asik dengan makanannya.


Senja pun segera mengambil tasnya dan mengendap-endap keluar dari restoran itu mengikuti ketiga orang tadi.


“Bagaimana? Kau suka makan disini?” tanya sang pria pada remaja laki-laki itu sambil berjalan menuju parkiran mobil.


Daddy? Kenapa pria itu dipanggil Daddy? Kalau benar wanita itu istri kedua Om Adrian, jadi siapa pria yang dipanggil Daddy itu? Tanya Senja dalam hati. Senja terus mengikuti dari belakang dan bersembunyi di balik mobil yang terparkir tepat di sebelah mobil pria tadi.


“Kalian ini berisik sekali. Mommy kan sudah bilang kalau di luar jangan panggil Daddy!” kata istri kedua Adrian itu yang bernama Sonya. Senja langsung menutup mulutnya mendengar hal itu. Sepertinya ada yang tidak beres dengan semua ini.


“Sudahlah, tidak apa-apa. Adrian tidak ada disini. Tenang saja,” jawab pria itu membela remaja tadi. Lagi-lagi Senja terkejut mendengar pembicaraan mereka.


“Iya, tapi tidak enak kalau didengar orang. Sudahlah, ayo kita pulang!”


Mereka pun masuk ke mobil dan meninggalkan restoran itu. Senja lagi-lagi penasaran untuk kembali mengikuti mereka. Saat ia berdiri dari persembunyiannya lalu berbalik, ia malah tidak sengaja menabrak seseorang.


Dug.


“Aduhhh...” ringis Senja sambil mengusap jidatnya yang terbentur dada seseorang di depannya.


Senja mendongak untuk melihat siapa yang ditabraknya barusan. Matanya langsung melebar saat tau yang ditabraknya adalah...


“Bumi?”


Bumi mengerutkan keningnya melihat Senja.


“Kenapa kau bersembunyi di balik mobilku?” tanya Bumi keheranan.


Senja pun melihat mobil di sebelahnya. Ia terlalu fokus dengan tiga orang tadi sehingga tidak menyadari kalau mobil itu adalah milik Bumi.


“Oh...hehehe...itu...aku...hmm....” Senja bingung harus menjawab apa. Matanya melihat kesana sini seolah sedang mencari jawaban yang tepat untuk ia jawab pada Bumi.


Kenapa dia ada dimana-mana, sih? Dimana ada aku, disitu ada dia. Umpat Senja dalam hati.


“Kau kenapa Senja?” tanya Bumi lagi.


“Aku...aku rasa aku harus pergi. Iya, aku pergi dulu, ya. Bye Bumi...”


Senja dengan cepat pergi dari hadapan Bumi dan langsung masuk ke mobilnya. Senja masih harus mengikuti ketiga orang tadi. Bumi tentu merasa aneh dengan tingkah Senja.


“Jef, kita ikuti Senja!”


“Baik, Tuan.”


Jadilah saat ini mereka bertiga saling mengikuti. Senja mengikuti mobil pria tadi dan Bumi mengikuti mobil Senja dari belakang. Saat mobil Senja masuk ke sebuah perumahan, Bumi kembali mengerutkan keningnya. Rasanya itu bukan rumah keluarga Wijaya.


Senja berhenti saat mobil pria tadi tiba di rumah Sonya. Mereka bertiga tampak masuk ke dalam rumah dan tidak keluar lagi. Hampir lima belas menit Senja menunggu disana, tapi memang tidak ada tanda-tanda akan ada yang keluar dari rumah itu. Sepertinya pria itu akan bermalam disana. Senja semakin curiga. Ada apa yang terjadi sebenarnya? Tak lama mobil Senja pun bergerak meninggalkan rumah itu.


“Jef, selidiki siapa pemilik rumah itu. Aku yakin Senja sedang mencari tau sesuatu tentang pemilik rumah itu,” titah Bumi yang curiga melihat Senja mengikuti mobil seseorang sampai ke rumahnya.


“Baik, Tuan. Saya akan cari tau semuanya,” sahut Jefri. Kemudian mereka pun ikut meninggalkan rumah tersebut.


***


Brug!


Viona menutup kasar pintu mobilnya saat tau Senja sudah meninggalkan dirinya sendirian di restoran itu.


“Senja memang keterlaluan! Sudah dua kali aku ditinggalkan di restoran begitu saja! Tadi bilangnya, ‘ayo makan saja, biar aku traktir semuanya’. Jangankan ditraktir eh aku malah ditinggalkan!” gerutu Viona yang lagi-lagi ditinggalkan oleh Senja.


Bersambung...