Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
24. Dimas di Kantor Senja


Kriiinngggg.


Telepon di atas meja kerja Senja berdering. Senja pun langsung mengangkat telepon itu.


“Iya, ada apa?” tanya Senja.


“Maaf menganggu, Nona. Ada Tuan Dimas dari perusahaan Dirgantara ingin bertemu dengan Nona,” jawab resepsionis di lantai dasar.


Dimas? Perasaan hari ini aku tidak ada janji dengannya. Bukannya sebentar lagi akan ada meeting dengan Bumi? Kenapa malah dia yang datang? Apa dia yang akan menggantikan Bumi meeting hari ini? Senja bertanya dalam hati


“Ya sudah, antarkan dia ke ruangan saya, ya,” titah Senja kemudian.


“Baik, Nona.”


Tak lama setelah menutup telepon, terdengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar.


“Masuk.”


Ceklek.


Pintu pun terbuka. Tampak Dimas datang dengan setelan jasnya yang rapi dan sebuket bunga di tangannya. Senja mengerutkan dahinya melihat buket bunga di tangan Dimas. Jangan bilang kalau bunga itu adalah untuknya! Tapi memang benar, Dimas membawa bunga untuk khusus untuknya.


“Sepertinya kita tidak ada janji sebelumnya, Tuan Muda Dirgantara,” ucap Senja dengan nada menyindir lalu mempersilahkan Dimas untuk duduk di sofa yang ada disana.


“Jangan panggil aku Tuan Muda Dirgantara, itu panggilan untuk Kak Bumi. Aku tidak pantas menyandang nama itu,” jawab Dimas sambil duduk berseberangan dengan Senja.


“Oh iya, ini aku bawakan bunga untukmu. Aku tidak tau kau suka apa. Aku pikir semua wanita suka bunga, bukan? Jadi aku membawakan ini untukmu,” ucap Dimas lalu memberikan bunga di tangannya kepada Senja.


Mau tidak mau Senja menerima bunga itu lalu meletakkannya di sofa tepat di sebelahnya.


“Terimakasih atas bunganya, Tuan Dimas. Tapi aku rasa kau tidak perlu repot-repot membawa bunga atau apapun untukku. Apalagi kau membawanya ke kantor. Kecuali kalau kau sengaja ingin mengundang perhatian banyak orang,” sindir Senja yang membuat Dimas tertawa.


“Hei, kau ini dari tadi ketus sekali padaku. Aku kan hanya membawa bunga saja, tidak ada maksud lain. Kalau mereka berpikiran seperti itu juga tidak masalah, kita kan sama-sama lajang,” kata Dimas yang berhasil membuat Senja mendengus.


“Kau ini. Ini kantor, bukan rumah. Tidak profesional sekali,” ketus Senja.


Dimas bukan takut malah terkekeh melihat wajah Senja yang sewot itu. “Iya, iya, aku minta maaf. Lain kali aku akan berkunjung ke rumahmu saja kalau begitu.”


“Eh, jangan! Untuk apa berkunjung ke rumahku? Kita juga tidak kenal dekat,” kata Senja.


Kalau kau main ke rumah, bisa-bisa Mama akan benar-benar menjodohkan kita berdua. Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi! Tambah Senja dalam hati.


“Ck, kau ini. Mau berkunjung saja tidak boleh,” gerutu Dimas.


“Tidak spesial kalau kurir yang mengantar. Aku mau mengantarnya langsung. Sebenarnya aku tadi ada meeting di luar, seharusnya aku kembali ke kantor setelah itu. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku ingin sekali bertemu denganmu. Kira-kira itu artinya apa, ya?”


“Itu artinya kau kurang kerjaan. Aku akan bilang ke kakakmu agar kau dikasih pekerjaan yang banyak supaya tidak menganggur seperti ini.”


“Jangan, jangan! Tolong jangan bilang Kak Bumi! Bisa-bisa aku dikirimnya ke kantor cabang luar kota kalau tau aku kesini di jam kerja.”


Senja pun terbahak. Ia tak menyangka ternyata Dimas sangat takut pada kakak tirinya itu.


“Kenapa tertawa? Kau senang sekali sepertinya jika aku dikirim ke luar kota.” Wajah Dimas jadi berubah masam karena Senja menertawakannya. Padahal dia memang bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Bumi tidak suka jika ada karyawan yang tidak melakukan pekerjaan dengan baik pada jam kerja meskipun itu adiknya sendiri.


“Aku menertawakanmu karena kau lucu sekali. Kau langsung ketakutan saat aku bilang akan mengadukanmu padanya,” jawab Senja disela tawanya.


“Kau ini, malah menertawakanku. Terserah kau saja, yang penting jangan ngadu ke Kak Bumi, ya,” pinta Dimas.


Tok tok tok.


Pintu ruangan Senja kembali diketuk. Senja dan Dimas sontak saling pandang. Kira-kira siapa lagi yang datang ke ruangan itu?


“Masuk,” ucap Senja dari dalam.


Pintu ruangan itu pun terbuka. Lalu masuklah dua orang pria dengan setelan jas yang tak kalah rapi dari yang dikenakan Dimas. Pria itu adalah Bumi dan asistennya, Jefri.


Senja dan Dimas dengan spontan berdiri saat tau siapa yang datang ke ruangan itu. Wajah Dimas langsung berubah pucat. Baru saja dibicarakan, tak taunya kakaknya sudah muncul saja disana.


“Kak Bumi?” ucap Dimas dengan wajah pucatnya.


Sebenarnya Bumi merasa terkejut atas keberadaan Dimas di ruangan Senja. Tapi ia berusaha tenang dan memasang wajah datarnya seperti biasa, meskipun dalam hatinya sangat penasaran sekali kenapa Dimas bisa ada disana.


Kenapa Dimas bisa ada di kantor Senja? Apa mereka ada hubungan dekat? Tanya Bumi dalam hati.


Bersambung...


***


Jangan lupa like setelah membaca, ya.


Agar penulis semangat update-nya 🤗


Happy reading 💙