
Hari ini adalah hari peresmian rumah sakit yang didirikan oleh Bumi untuk Senja sebagai salah satu hadiah sebelum pernikahannya. Rumah sakit itu rencananya akan digratiskan untuk setiap warga yang tidak mampu. Rumah sakit yang dibangun tak jauh dari rumah Pak Aris tersebut diberi nama Rumah Sakit Cahaya Senja. Bumi sengaja memilih nama itu sebagai bentuk cintanya pada sang calon istri.
Pada saat peresmian, Bumi sengaja mengundang warga di sekitarnya untuk mendapatkan cek kesehatan gratis dan juga membagi-bagikan makanan kepada setiap warga yang hadir. Acara peresmian itu berlangsung pagi hari, setelahnya barulah dimulai serangkaian acara lain lagi. Acara peresmian itu diadakan di halaman rumah sakit yang cukup luas.
Saat ini Bumi sudah berada di podium untuk memberikan kata sambutan terkait pembangunan rumah sakit itu. Para awak media pun sudah menyiapkan kamera mereka untuk merekam apa yang akan disampaikan pengusaha nomor satu di negeri itu.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pada tamu dan warga yang sudi hadir dalam peresmian rumah sakit ini. Rumah sakit ini saya bangun atas keinginan seseorang yang sangat berarti bagi hidup saya. Seseorang yang memiliki hati yang mulia, yang selalu peduli pada lingkungan di sekelilingnya dan selalu mau berbagi kebaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Dia lah satu-satunya alasan bagi saya untuk membangun rumah sakit ini. Kebetulan orangnya juga ada disini. Dia adalah Cahaya Senja Wijaya.”
Para hadirin yang datang pun bertepuk tangan saat nama Senja disebutkan. Senja pun langsung menjadi sorotan publik. Wajah Senja saat ini sudah mulai merona merah karena tersipu malu. Ia merasa Bumi terlalu berlebihan memujinya disana. Senja tak dapat berbuat apa-apa selain memasang senyum terbaiknya.
“Itu juga yang menjadi alasan kenapa rumah sakit ini diberi nama Rumah Sakit Cahaya Senja. Saya ingin rumah sakit ini dapat bermanfaat untuk memberi bantuan dan pengobatan medis terhadap setiap pasien yang membutuhkan. Saya ingin semangat seorang Senja juga ada di rumah sakit ini. Semangat untuk saling peduli terhadap sesama dan semangat untuk membantu mereka yang kesulitan mendapatkan pengobatan medis. Saya rasa itu saja sambutan dari saya, semoga rumah sakit ini bermanfaat untuk orang banyak. Terimakasih.”
Lagi-lagi para hadirin bertepuk tangan menyambut pidato dari Tuan Muda Dirgantara. Selanjutnya adalah acara gunting pita sebagai tanda rumah sakit itu diresmikan. Bumi dan Senja sama-sama memegang sebuah gunting untuk memotong pita peresmian. Setelah mendapat aba-aba dari pembawa acara, pita itupun digunting dan rumah sakit itu secara resmi sudah dapat digunakan.
“Kau senang?” bisik Bumi di telinga Senja.
“Tentu saja. Terimakasih, ya. Kau selalu membuatku bahagia,” ucap Senja.
“Melihatmu bahagia juga membuatku bahagia,” Bumi mulai mengeluarkan rayuan mautnya.
“Kau mulai menggombal!” cibir Senja.
“Aku berkata jujur, bukan gombal, Calon Istriku,” ucap Bumi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Blushhh.
Pipi Senja tambah merah dipanggil seperti itu.
“Senja,” panggil Bumi.
“Apa?”
“Kau tambah cantik kalau malu-malu begitu. Aku jadi benar-benar tidak sabar ingin menikahimu,” goda Bumi.
“Ssst! Banyak orang disini. Jangan bicara seperti itu disini!”
“Tidak dimana-mana. Sudah, jangan merayuku terus!”
Bumi pun tidak melanjutkan rayuannya lagi. Ia malah tertawa melihat Senja salah tingkah seperti itu. Semakin Senja salah tingkah justru semakin menarik di matanya. Begitulah kalau sudah jatuh cinta, apapun yang dilakukan oleh orang yang kita cinta, akan selalu menarik dalam pandangan mata.
Tuan Dirgantara yang melihat kemesraan mereka berdua jadi ikut bahagia. Ia masih mengingat jelas bagaimana terpuruknya Bumi saat Senja masih mengalami koma. Dan sekarang setelah Senja kembali, Bumi pun kembali bahagia dan semangat menjalani hari-harinya. Penampilannya sudah rapi seperti dulu. Tubuhnya juga sudah mulai berisi lagi. Ia sudah banyak makan dan rajin berolahraga. Tuan Dirgantara senang, Bumi sudah menemukan seseorang yang tepat untuknya.
***
Para tamu dan warga yang datang dijamu dengan berbagai macam makanan disana. Bumi sengaja berbagi makanan hitung-hitung sebagai tanda syukur karena kekasihnya sudah sembuh seperti semula. Jangan ditanya berapa dana yang ia keluarkan untuk acara peresmian itu. Membangun rumah sakit yang menghabiskan uang milyaran saja bukan masalah baginya. Apalagi hanya sekedar urusan makanan dan minuman. Itu bukanlah hal yang besar bagi keluarga Dirgantara. Lagipula Bumi juga tak pernah boros dalam membelanjakan kebutuhannya. Tapi ia memang cukup loyal kalau soal beramal, dan soal memberi hadiah pada Senjanya.
Disana tampak asisten Tuan Muda Dirgantara sibuk memantau jalannya acara. Ia tak mau ada sedikitpun kericuhan atau hal tak mengenakkan disana. Dia lah yang paling berjasa dalam mengatur acara agar berjalan dengan lancar.
Setelah peresmian, kini tiba saatnya untuk menikmati makanan yang disajikan. Jefri pun mendatangi salah satu stand makanan disana. Ada beberapa stand makanan yang berjajar disana. Semua itu gratis untuk para pengunjung yang datang. Ia pun pergi ke stand dari Coffee Shop Janji Kita. Ya, Jefri memang sengaja meminta Coffee Shop itu untuk menyajikan minuman dan cemilan berupa kue dan roti untuk para pengunjung. Dan hal itu semata-mata ia lakukan supaya dia bisa melihat kembali gadis yang pernah membuatnya tertawa. Gadis yang sudah beberapa kali ia pantau diam-diam diantar pulang oleh pria lain.
“Tuan mau minum kopi yang panas atau dingin?” tawar penjaga stand disana yang tak lain adalah Jingga.
“Aku mau kopi yang bisa meredamkan rasa kecewa di hatiku karena sudah berharap terlalu lebih,” jawab Jefri yang selalu membuat ambigu seperti biasa.
Ini bukan kali pertama Jefri meminta jenis kopi yang aneh dan membuat yang menyajikan kebingungan. Tapi Jingga berusaha sabar. Ia tetap membuatkan kopi yang Jefri minta.
“Tunggu sebentar, Tuan.”
Jingga pun mengambil kopi capucino yang dingin lalu memberikannya pada Jefri. Jefri menerimanya dan langsung meminumnya disitu.
Jefri mendengus setelah meneguk kopi itu lalu tersenyum sinis menatap si kopi. “Terlalu manis. Di awal memang terlalu manis. Tapi di akhir sangat pahit,” ucap Jefri yang entah ditujukan pada siapa. Mungkin pada si kopi atau malah pembuatnya.
Jefri pun meletakkan kembali kopi itu di atas meja stand. Kemudian ia pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa. Jingga merasa ada sesuatu yang salah padanya, tapi ia tak mengerti apa. Ia pun mengambil kopi bekas Jefri dan meminumnya sampai habis.
“Sayang mubazir,” ujar Jingga setelah menghabiskan kopi yang tadi diminum Jefri.
.
Bersambung...