Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
43. Menghindar Dari Bumi


Semenjak kejadian di apartemen Nesya, Senja jadi lebih banyak diam. Kenyataan yang baru ia ketahui itu membuat dirinya selalu gelisah. Ia gelisah bagaimana jika ayahnya tau kalau pamannya memiliki istri lain, pasti keluarga besar mereka akan sangat kecewa.


Selain itu, dia juga teringat tentang Bumi. Nesya memintanya untuk merahasiakan apa yang ia ketahui dari Bumi. Tak cukup sampai disitu, saat Nesya mengatakan Bumi adalah kebahagiaan terakhirnya membuat Senja merasa bersalah jika dia merebut Bumi dari Nesya. Tidak! Senja tidak tega mengambil kebahagiaan orang lain, apalagi keluarganya sendiri.


Senja yang baru tersadar dari lamunannya mencoba menelepon ke kantor pamannya. Ia ingin menyelidiki apakah benar pamannya itu sedang tidak masuk bekerja.


“Hallo. Saya Senja Wijaya. Bisa tolong hubungkan saya dengan Tuan Adrian?”


“Maaf, Nona Senja. Tuan Adrian sedang mengambil cuti selama tiga hari ke depan.”


“Cuti? Apa ada urusan pekerjaan di luar kota?”


“Bukan, Nona. Ini cuti pribadi. Tuan Adrian bilang ada urusan keluarga. Apa Nona mau menyampaikan pesan?”


“Tidak, tidak perlu. Saya telfon ke handphone-nya saja. Oh ya, tolong jangan beritahu siapapun kalau saya menelepon. Terimaksih.”


Panggilan itu pun dimatikan. Kini Senja semakin yakin memang ada yang tidak beres dengan keluarga Adrian. Kemarin Tari bilang bahwa Adrian pergi untuk urusan kantor, sekarang sekretarisnya bilang kalau Adrian mengambil cuti untuk urusan pribadi.


“Huuhhhhhh, sepertinya Kak Nesya tidak berbohong soal ini. Keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja.”


Senja menyandarkan punggungnya lalu memejamkan matanya sejenak. Kepalanya tiba-tiba pusing memikirkan masalah keluarga pamannya. Sampai saat ini ia masih tak menyangka pamannya memiliki istri lain di luar sana.


Tak lama telepon di ruangannya berbunyi. Rupanya yang menelepon adalah ayahnya.


“Hallo.”


“Senja, ini Papa. Nanti kau yang akan menghandle meeting dengan perusahaan Dirgantara bukan?” tanya Andika.


“Tidak, Pa. Senja tidak bisa untuk hari ini. Senja ada meeting di luar.” Senja dengan cepat berbohong saat mendengar nama Dirgantara.


“Iya, Pa. Meeting dengan Mr. Riyoshi dimajukan. Waktunya berbenturan dengan meeting dari perusahaan Dirgantara. Jadi, Papa saja yang handle, ya. Maaf, Pa.” 


“Oh, baiklah. Tidak masalah. Kalau begitu Papa tutup dulu telfonnya.”


“Oke, Pa.”


Senja melihat jam tangannya. Sebentar lagi pasti Bumi dan asistennya akan tiba di perusahaannya. Senja tidak mau bertemu dengan Bumi dulu sementara waktu. Ia pun bergegas menutup laptop lalu mengambil tasnya dan segera pergi dari sana.


***


“Tuan, itu mobil Nona Senja.” Jefri menunjuk mobil yang baru saja keluar dari gerbang perusahaan Wijaya, sementara mereka baru saja tiba disana.


Bumi melihat ke arah yang dimaksud. Benar, itu memang mobil Senja.


Kenapa dia pergi? Bukankah seharusnya dia ikut meeting denganku? Tanya Bumi dalam hati.


“Jadi, bagaimana Tuan?” tanya Jefri.


“Kita akan tetap meeting dengan perusahaan mereka. Mungkin kali ini kita akan meeting dengan Tuan Andika,” jawab Bumi yang sebenarnya kecewa karena tak dapat melihat Senja.


Bukannya Senja tak tau ada mobil Bumi tadi disana saat ia akan keluar. Tapi dia tak bisa bertemu dengan Bumi untuk sementara waktu. Ia khawatir tak bisa menahan perasaannya jika berada di dekat Bumi. Untuk itu dia memutuskan untuk menghindar dari Bumi sementara waktu.


Maaf, sebaiknya kita tidak bertemu dulu...


Bersambung.....