Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
72. Informasi dari Jefri


Besoknya pagi-pagi sekali Senja sudah menelepon ke kantor Adrian. Dia berbicara ke bagian HRD dan meminta untuk mengirimkan data tentang sekretaris Adrian yang bernama Sonya ke emailnya. Tentu saja Senja harus mengeluarkan sedikit ancaman agar manager HRD itu mau bekerja sama dengannya. Ia meminta untuk merahasiakan hal ini dari siapapun, jika rahasia ini bocor maka Senja akan memecatnya dan mem-black list namanya dari perusahaan manapun.


Tak butuh waktu lama, Senja pun menerima email yang sudah dari tadi ditunggunya. Ia membuka email tersebut dan membaca setiap detail informasi yang tertera disana. Ternyata benar, foto yang ada di email itu sama dengan wajah wanita yang kemarin ia buntuti. Berarti memang benar, wanita itu adalah istri kedua pamannya, Adrian.


Lalu siapa remaja laki-laki yang bersamanya kemarin? Senja yakin itu pasti anak dari Sonya dan Adrian. Sekarang tinggal identitas dari pria asing yang dipanggil daddy saja yang belum terbongkar. Senja menaruh curiga saat pria itu dipanggil daddy. Tapi bukankah Adrian pernah bercerita padanya bahwa mereka sudah pernah melakukan tes DNA dan hasilnya positif? Kenapa pria itu malah dipanggil daddy?


Huffttt....


Senja menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Kepalanya terasa pusing memikirkan persoalan rumah tangga pamannya. Tapi kenapa juga dia harus repot-repot mengurusi hal itu? Tentu saja karena dia merasa ada yang tidak beres dengan istri kedua pamannya itu.


Siapa kira-kira pria itu? Apa jangan-jangan... ayah dari anak laki-laki itu adalah pria kemarin dan bukan Om Adrian? Tapi bagaimana dengan hasil tes DNA mereka?


Senja semakin bingung saja memikirkannya. Tapi makin ia bingung justru semakin penasaran. Ia berniat untuk menyelidiki lebih dalam lagi tentang persoalan ini.


***


Di sisi lain ada Jefri yang datang ke kantor bosnya, Bumi, dengan membawa beberapa berkas terkait wanita yang ada di rumah yang kemarin Senja datangi dan pemilik mobil yang Senja ikuti.


“Ini semua berkas terkait pemilik rumah itu, Tuan,” kata Jefri sambil menyerahkan beberapa berkas pada Bumi.


Bumi menerima berkas itu dan mulai membukanya. Ia membaca satu per satu berkas itu dengan teliti.


“Pernah menjadi sekretaris Tuan Adrian? Ayah Nesya?” tanya Bumi pada Jefri.


“Betul sekali, Tuan. Wanita itu bernama Sonya dan dulunya bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Tuan Adrian. Dia berhenti bekerja karena diisukan hamil di luar nikah,” jawab Jefri.


Jefri kemudian menarik sebuah foto dan menunjukkannya pada Bumi.


“Dan ternyata wanita ini cukup dekat dengan Tuan Adrian, bahkan....” Jefri agak ragu melanjutkannya.


“Bahkan apa?” tanya Bumi penasaran.


“Tuan Adrian kabarnya sering menginap di rumah itu terutama di akhir pekan. Menurut security yang berjaga disana, Tuan Adrian adalah... suami dari wanita yang bernama Sonya itu, Tuan,” jawab Jefri sejelas-jelasnya.


Raut wajah Bumi tampak terkejut. Selama ini bahkan tak pernah terdengar sekalipun berita seperti ini di telinganya. Apakah ini memang sengaja disembunyikan? Apakah keluarga Adrian tau tentang pernikahannya dengan wanita ini?


“Mengenai mobil yang kemarin Nona Senja ikuti, pemiliknya bernama Alan. Dia berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit, Tuan. Saya kurang pasti apa hubungannya dengan wanita bernama Sonya itu, tapi dari info yang saya dapat, pria itu juga sering datang berkunjung ke rumahnya,” kata Jefri memberitahu informasi baru lagi.


Jefri mengambil curriculum vitae milik Sonya dan menunjukkannya pada Bumi.


“Di situ tertulis wanita itu adalah anak tunggal, Tuan. Dapat dipastikan pria itu bukan saudara kandungnya,” jawab Jefri.


Bumi menganggukkan kepalanya. Jefri memang selalu bisa diandalkan dalam mencari informasi. Bumi terdiam sejenak. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Kini ia juga ikut penasaran tentang keluarga tunangannya itu.


“Lalu, bagaimana dengan Nesya? Apa kau sudah tau ada hubungan apa antara Nesya dan pria di pesta kemarin?” tanya Bumi lagi, tapi kali ini tentang tunangannya, Nesya.


“Saya sudah meminta seseorang mengikuti Nona Nesya, Tuan. Nona Nesya biasa pergi ke butiknya dan akan terus disana sampai sore. Tapi malamnya... Nona Nesya pergi ke sebuah club malam, Tuan,” jawab Jefri yang membuat Bumi cukup terkejut.


“Teruskan!” titah Bumi.


“Kabarnya Nona Nesya memang sudah menjadi salah satu pelanggan yang sering kesana, Tuan. Tapi saya tidak bisa mendapat rekaman CCTV di club itu karena pemiliknya adalah salah satu artis yang merupakan teman dekat Nona Nesya...”


“Tentang pria itu, namanya Marcel. Dia berasal dari Amerika dan datang kesini untuk mengurus bisnisnya. Informasi yang saya dapat justru mengatakan Marcel adalah teman sekampus Nona Senja saat kuliah di Amerika dulu...”


“Mengenai kedekatannya dengan Nona Nesya, saya belum mendapat info apa-apa. Informan kita juga baru sehari mengikuti Nona Nesya. Dia akan memberikan informasi terbaru lagi nanti, Tuan,” jelas Jefri panjang lebar.


Bumi kembali mengangguk. Anak buahnya memberikan informasi yang sangat memuaskan. Bumi tak menyangka ada banyak hal yang tak ia ketahui tentang Nesya dan keluarganya. Mereka berhasil menutup rapat-rapat semua rahasia tentang keluarga mereka. Dan memang Bumi sendiri sebelumnya tidak mencari tau sama sekali tentang Nesya dan keluarganya. Ia hanya tau mereka berasal dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga pengusaha terkenal disana.


“Baiklah. Kau boleh pergi, cari lagi informasi sebanyak-banyaknya tentang keluarga Tuan Adrian,” ucap Bumi.


“Baik, Tuan.”


“Tunggu!” panggil Bumi saat Jefri akan membalikkan badannya.


“Perintahkan juga satu orang untuk mengawasi Senja. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Dia pasti akan mengintai rumah itu lagi. Aku rasa Senja juga mencurigai sesuatu,” kata Bumi lagi.


“Baik, Tuan!” sahut Jefri lalu pergi meninggalkan ruangan Bumi.


Tinggallah Bumi sendiri yang saat ini justru mengkhawatirkan Senja. Ia yakin, Senja pasti tau sesuatu tentang keluarga pamannya itu. Karena itu kemarin Senja sampai mengikuti mobil Alan sampai ke rumah Sonya.


Senja... kenapa aku tiba-tiba khawatir padamu? Semoga kau tidak bertindak gegabah dulu nantinya. Aku yakin kau pasti sedang menyelidiki pamanmu sendiri.


Bersambung...